Select Page

Salah satu kemiskinan perkotaan yang cukup parah adalah kemiskinan yang dialami oleh masyarakat pesisir yang sebagian besar adalah nelayan. Kelompok nelayan pesisir ini seringkali disebut sebagai kelompok paling miskin dalam perkotaan. Di kota-kota besar Indonesia, khususnya kota-kota yang berada di sekitar pesisir, seperti jakarta, Surabaya, Semarang, Balikpapan, dan Makassar, eksistensi komunitas nelayan cukup memprihatinkan. Di kota Makassar misalnya, di pesisir selatan pantai Selat Makassar yang sangat kental dengan aktivitas nelayan sejak dulu tidak lepas dari kemiskinan dan keterbelakangan. Dari sisi ruang dan ekonomi terdapat ketimpangan yang jelas antara komunitas pesisir/pulau dan wilayah daratan. Pemduduk miskin yang lebih banyak di wilayah pesisir adalah komunitas nelayan berskala kecil yang mengandalkan perahu/kapal dengan kapasitas kecil dan tradisional seperti lepa-lepa dan katinting, disertai dengan alat tangkap dan teknologi yang sederhana. Sangat ironis, di tengah pertumbuhan ekonomi Kota Makassar dalam satu dasawarsa terakhir yang bisa mencapai 8-9% pertahun -termasuk tingkat pertumbuhan ekonomi terbesar di antara kota-kota besar yang ada-justru tidak memberikan dampak positif pada kesejahteraan penduduk yang tinggal di kawasan pesisir yang bergantung pada sektor perikanan.

Jerat kemiskinan yang seakan tidak pernah terlepas dari komunitas nelayan, khususnya nelayan kecil/tradisional banyak dikaji dalam berbagai studi. Misalnya, Christophe Bene dalam bukunya When Fishery Rhymes with Poverty: A First Step Beyond the Old Paradigm on Poverty in Small Scale Fisheries (2003) mengungkapkan hasil penelitiannya di Asia dan Afrika yang menemukan bahwa ada empat proses yang membuat komunitas nelayan mengalami kemiskinan, salah satunya yakni adanya proses eksklusi sosial. Buchari Mengge, mahasiswa doktoral Sosiologi FISIP UI, turut mengangkat penelitian mengenai proses ekslusi sosial yang terjadi dalam lingkaran kemiskinan komunitas nelayan ini sebagai bahan disertasinya. Mengambil tempat di Kota Makassar, Buchari menggali ingin menggali lebih jauh strategi komunitas nelayan melalui proses adaptasi dan resistensi terhadap kemiskinan dan proses eksklusi sosial tersebut.

Hasilnya, Buchari menemukan bahwa komunitas nelayan Kota Makassar mengalami sejumlah kondisi kemiskinan dan eksklusi sosial yang bersifat struktural dan kultural dalam mekanisme โ€œsocio-spatial mechanism of exclusionโ€, meliputi eksklusi ekonomi, eksploitasi hubungan patron-klien, eksklusi ruang, dan pengabaian dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Bagi komunitas nelayan, socio-spatial exclusion merupakan tekanan yang sangat mendasar menuntut strategi adaptasi. Secara umum komunitas nelayan melakukan dua strategi utama, yakni (1) upaya-upaya di sektor ekonomi yang bertumpu pada kegiatan diversifikasi kegiatan produksi, dan (2) upaya-upaya di sektor sosial (non ekonomi), meliputi upaya-upaya adaptif dan perlawanan terhadap tekanan struktur dan pola hubungan dengan punggawa (pemilik modal) di level komunitas, dan upaya-upaya membangun jaringan sosial (kelompok sosial), serta upaya-upaya mengakses dan memanfaatkan beragam kegiatan dan bantuan kesejahteraan sosial di tingkat komunitas.

Atas disertasinya ini, Buchari mendapatkan gelar doktornya pada Selasa (8/01) dengan yudisium sangat memuaskan.