Select Page

Program kolonisasi dan transmigrasi di Indonesia telah melahirkan komunitas-komunitas orang Jawa di luar Jawa. Melalui program tersebut, telah terjadi pengelompokan orang-orang Jawa di permukiman-permukiman baru. Anharudin, mahasiswa doktoral Antropologi FISIP Universitas Indonesia mengkaji fenomena kampung dan komunitas Jawa di luar Jawa dari kacamata Antropologi. Ia mengangkat studi etnografi tentang desofistikasi kultur Jawa dalam disertasinya. Mengambil lokasi penelitian di Lampung, Anharudin melakukan pencermatan secara intensif komunitas Jawa yang ada di Lampung Tengah dan Kota Metro. Secara operasional, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan penjelasan kausal, atau untuk menjelaskan penyebab material dari perubahan budaya di kalangan orang Jawa di luar Jawa, khususnya di Lampung. Istilah desofistikasi yang digunakan untuk menyebut perubahan yang terjadi menjelaskan gejala hilangnya ciri-ciri ‘canggih’ dan ‘kompleks’ dalam budaya Jawa, menjadi lebih sederhana dan tampaknya pragmatis. Sebagian hilang makna-makna simbolis (magis-spiritual dan mistis-mitologinya), sebagian lagi bahkan hilang secara total dan tidak muncul penggantinya, seperti kebudayaan komunalistik, kultur subsistensi, dan adat mistis.

Studi etnografi ini memberikan jawaban terhadap pertanyaan apa yang menyebabkan karakter budaya yang linuwih dan adiluhung (unggul) menjadi terurai dari kecanggihannya; yakni dikarenakan adanya perubahan pada basis material (demografi), ekologi, dan ekonomi dari pemilik budaya pendukungnya, terutama orang Jawa, yang telah bermigrasi ke Lampung dan menetap selama lebih dari seabad.

Anharudin berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan para penguji dalam sidang doktoralnya yang diketuai oleh Prof. Dr. Bambang Shergi Laksmono, M.Sc. Ia dikukuhkan menjadi seorang doktor pada kamis (10/1), bertempat di Auditorium Juwono Soedarsono.