Pilih Laman

Hasil riset ini disampaikan oleh Dr. phil. Panji Anugrah Permana dosen Ilmu Politik, di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI pada Rabu (12/02) hasil riset ini berjudul Dinamika Politik Lokal Pasca Orde Baru: Elit, Patronase dan Dinasti Politik. Diskusi Hasil Riset diadakan dalam rangka acara Dies Natalis FISIP UI ke-52.

Pada dasarnya keberhasilan demokrasi adalah sejauh mana kebijakan dan praktek politik yang ada mampu menyumbang pada terciptanya keadilan dan kemakmuran bagi seluruh atau sebanyak mungkin rakyat. Penilaian atas keberhasilan tersebut, sorotan dapat diarahkan pada peran kekuatan-kekuatan strategis, yang seringkali disebut pilar-pilar demokrasi.

Panji Anugrah menjelaskan, pertanyaan mendasar pada hasil riset ini adalah bagaimana kecenderungan dinamika politik lokal terjadi, apakah mengarah pada struktur politik yang lebih kompetitif atau oligarkis. Ternyata kondisi pasca orde baru itu adalah mengharah ke stuktural continuity, tidak ada yang berubah.

Artikel Lainnya:  Talkshow Kajian Gender dan Seksualitas

“Pada kalangan oligarki melihat posisi elit itu bertahan, dalam pandangan kalangan oligarki melihat posisi elit ini adalah pemilik modal. Sedangkan pada kalangan liberalis melihat terhadinya fragmentasi elit” tambah Panji.

Riset dibagi dalam 3 bagian yang pertama soal pilkada calon tunggal, yang kedua soal kompetensi elit dan yang ketiga adalah soal brokerage. Pertama soal calon tunggal, kecenderungannya terus menanjak dan mengalami peningkatan dari tahun 2015.

Penyebabnya ada beberapa point, yaitu terlalu kuatnya petahanan dan atau partai politik berkuasa, buruknya kaderisasi di tubuh partai, sentralisme dan oportunisme partai politik, semakin mahalnya biaya politik bagi kandidat kepala daerah, serta pertimbangan biaya politik yang lebih murah bagi kandidat partai melalui penyelenggaraan pilkada calon tunggal.

Artikel Lainnya:  Beberapa kegiatan hiasi Pekan Komunikasi 2017

Pada riset ini menunjukan kecenderungan pada tahun 2018 kartel dan oligarki partai (sistem borongan) di kasus Kabupaten Tanggerang, jadi bupati petahanan sudah mengkondisikan agar didukung oleh partai-partai yang ada. Masih di tahun 2018 terjadi kompetisi elit di Kota Makassar.

Dari pada itu terdapat kecenderungan semakin sempitnya ruang kompetisi elit yang mengarah pada orientasi oligarkis struktur politik lokal serta terdapat kecenderungan semakin pragmatisnya elit dan partai.

Di daerah lain juga terdapat rivalitas elit yang terjadi di Sulawesi Selatan. Ada beberapa faktor penyebab yaitu kuatnya dinasti politik yang dipengaruhi oleh sumber daya yang beragam dari wrisan jejaring keluarga dan kekayaan material. Kekalahan dinasti politik dipengaruhi gagalnya konsolidasi internal di kalangan keluarga politik dan kompetisi yang kuat dengan elit lain yang melibatkan elit nasional.

Artikel Lainnya:  Sidang Promosi Doktor: Wiston Tommy Watuliu (Program Studi Ilmu Administrasi)

Selanjutnya faktor penyebab revalitas elit adalah kegagalan boundary strengtheing petahanan yang dipengaruhi kegagalan penguasaan teritorial dan kegagalan akses partai politik. Selanjutnya keberhasilan boundary opening oposisi yang dipengaruhi dengan munculnya figur yang kuat, penguasaan teritorial dan akes partai politik. Konklusi tentatif pada riset ini yaitu:

Pertama, arena politik lokal tidak sepenuhnya bersifat oligarkis. Di beberapah daerah kompetisi antar elit masih sangat kuat terjadi. Hal ini merupakan berkah yang tidak bisa dibandingkan dengan era otoritarian.

Kedua, arena politik lokal cenderung semakin mengarah pada orientasi politik yang semakin oligarkis. Hal ini ditandai dengan munculnya dan meningkatnya calon tunggal yang semakin mempersempit ruang kompetisi elit. Kecenderungan oligarkis ditopang oleh watak elit lokal dan partai politik yang sangat pragmatis dalam memberikan dukungan politik.

Ketiga, sebagai konsekuensi dari lemahnya keterhubungan partai dan massa, struktur arena politik lokal semakin memberi ruang besar bagi berkembangnya institusi informal klientelis yang digunakan sebagai peraup suara pemilu.