Select Page

Iklan adalah sebuah produk media yang merepresentasikan realitas dalam berbagai anda yang ditentukan oleh para pekerja iklan. Sayangnya, sebagaimana produk media lain yang mengakomodir budaya patriarki, iklan masih menggambarkan ruang lingkup prempuan dalam tanah privat atau sebagai objek dengan unsur sensualitas semata. Keterlibatan perempuan dalam industri iklan ternyata tidak dibarengi dengan produk teks iklan yang berperspektif gender. Hal ini disebabkan karena setiap arena selalu dipenuhi dengan kontestasi dan kekerasan simbolik.

Fitria Angeliqa, mahasiswa doktoral Ilmu Komunikasi FISIP UI membawa studi fenomonelogi hermeneutik pada perempuan pemimpin biro iklan dalam disertasinya. Menggunakan teori Habitus-Arena-Kapital milik Pierre Bourdieu serta didukung konsep gender, Fitria mengeksplorasi dinamisasi penempatan habitus dan kapital sebagai bentuk logika praktis perempuan pemimpin-sebagai subjek teks-biro iklan dalam berbgai arena yang sarat kepentingan kelompok dominan.

Hasil yang diperoleh adalah gambaran berbagai kapital yang dimiliki subjek sejak subjek kecil hingga capaian di masa dewasa. Penelitian juga menggali habitus primer yang diinternalisasi pada perempuan pemimpin di masa kecil. Habitus ini diwariskan dalam bentuk peniruan, pengingatan, serta pengalaman yang dialami sendiri maupun sekadar ‘melihat/mendengar pengalaman orang-orang terdekat. Habitus menubuh maupun habitus pemikiran banyak tinggal menetap hingga subjek dewasa. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa di masa  dewasa, habitus bertransformasi dalam berbagai arena dan memperlihatkan kecenderungan terdominasi oleh doxa kapitalis yang sangat kuat. Sedangkan kekerasan simbolik yang dialami subjek pada masa kecil berkelindan dengan doxa kapitalis dan diduplikasi tanpa sadar di masa dewasa mereka dalam konteks-konteks yang memiliki kemiripan. Pada akhirnya, diskusi penelitian juga membahas tentang munculnya implikasi-implikasi teoritis, metodologis, dan praktis berdasarkan temuan. Implikasi teoritis ditandai oleh temuan tentang kontestasi habitus subjek dan aktor yang sama dalam beberapa arena dengan doxa yang jauh lebih kuat dan resiko yang mengikat. Sementara, implikasi metodologis ditandai oleh kemampuan fenomenologi hermeneutik dalam mengungkap fakta-fakta lain yang menyertai pengalaman esensial subjek.

Fitria Angeliqa berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang doktoralnya yang digelar pada Kamis (20/12), di Auditorium Juwono Sudarsono. Ia berhasil lulus dan mendapatkan gelar doktor dengan Indeks Kumulatif Prestasi 3,98.