Rangkaian perayaan Dies Natalis FISIP UI ke-47 bertema Tokoh dan Selebriti Alumni FISIP Bicara, kembali diadakan dalam kemasan talkshow menarik berjudul “Indonesia Menuju Poros Maritim Dunia.” Talkshow ini berlangsung pada Jumat (27/3/2015) di Auditorium Juwono Sudarsono, Kampus FISIP UI. Narasumber pada diskusi kali ini adalah Kepala Staf Komando Armada RI Kawasan Barat, Laksamana Pertama TNI Dr. Amarulla Octavian (Alumnus Departemen Sosiologi), Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, Dra. R. A. Esti Andayani (Alumnus Departemen Sosiologi), dan Wartawan Senior Kompas, Budiarto Shambazy (Alumnus Departemen Ilmu Politik). TV Presenter, Wardahnia (Alumnus Departemen Ilmu Administrasi) bertindak sebagai moderator. Talkshow dibuka dengan bersama-sama menyanyikan Indonesia Raya, Rayuan Pulau Kelapa, dan Nenek Moyangku. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Dekan FISIP UI, Dr. Arie Setiabudi Soesilo, M.Sc.

Gagasan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia diharapkan dapat terwujud pada tahun 2025. Dalam talkshow ini, peran TNI Angkatan Laut dalam mendukung Indonesia sebagai poros maritim dunia dijelaskan secara detail oleh Laksma Octavian. Ia juga menyampaikan, saat ini TNI Angkatan Laut sedang giat meningkatkan peran para Perwira Angkatan Laut Indonesia dalam melakukan Diplomasi Maritim ke negara-negara lain.

Lebih lanjut, Laksma Octavian menyampaikan, dalam poros maritim ada lima pilar yang perlu diperhatikan. Pilar pertama, bagaimana Indonesia akan kembali membangun budaya maritim. Hal ini berkaitan dengan mengonstruksi masyarakat Indonesia untuk kembali ke jati dirinya sebagai bangsa maritim melalui budaya. Pilar kedua, mengenai kedaulatan pangan laut. Di sini penekanannya pada industri potensi laut dengan memosisikan nelayan modern sebagai fokus utama. Pilar ketiga, adalah bagaimana konektivitas maritim, dimulai dengan membangun tol laut. Pilar keempat, melalui Diplomasi Maritim mengajak semua mitra-mitra Indonesia untuk bekerja sama di bidang kelautan. Pilar kelima, sebagai negara yang menjadi titik tumpu dua samudra, Indonesia memiliki kewajiban untuk membangun kekuatan pertahanan maritim.

Sementara itu, Esti Andayani mengungkapkan tantangan yang akan dihadapkan Indonesia dalam upayanya menjadi poros maritim dunia. Tantangan yang terbentang antara lain, dari sisi infrastruktur yang kurang memadai, masih maraknya kejahatan transnasional maritim (Maritime Transnational Crime), hingga sengketa perbatasan maritim yang belum terselesaikan. Salah satu solusi yang dapat dilakukan dalam menjawab tantangan ini dengan sinergi dari semua pihak terkait untuk memberdayakan coast guard.

Coast guard (penjaga pantai) adalah organisasi dalam suatu negara yang bertanggung jawab sebagai penegakan hukum di laut, pemeliharaan rambu laut, pengawas perbatasan, dan pencarian serta pertolongan (SAR). Esti juga memaparkan penguatan kerja sama yang telah dilakukan dari pihak Kementerian Luar Negeri RI terkait isu maritim serta peluang apa yang dapat dilakukan ke depannya.

Dalam diskusi ini, Budiarto memberikan pandangannya tentang wacana Indonesia sebagi titik penunjang akses maritim dunia dari sisi kewartawanan. Ia mengatakan, doktrin Indonesia menuju poros maritim terlalu singkat dan masih perlu banyak penyempurnaan. Sosialisasi yang kuat terkait isu ini masih harus dilakukan secara terus-menerus agar masyarakat Indonesia tidak salah persepsi dalam menangkap visi dan tujuan dalam menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.