Pilih Laman

 

Reformasi bidang pertambangan memberikan perubahan arah dalam kepemilikan perusahaan pertambangan asing di Indonesia, yang dikenal dengan nasionalisasi. Karena perusahaan-perusahaan milik asing tersebar di berbagai daerah maka nasionalisasi berimplikasi dalam hubungan pusat dan daerah.

Karena inilah, Alim Bathoro melakukan penelitian untuk menjawab pertanyaan mengenai pola hubungan penguasa dan pengusaha, dan bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi pola hubungan penguasa dan pengusaha. Jawaban tersebut kemudian dijadikannya sebagai disertasi dengan judul “Konflik Elit Pusat dan Daerah dalam Nasionalisasi PT Inalum 2013-2015”.

Temuan penelitian ini menjelaskan bahwa elite capture dalam nasionalisasi PT Inalum telah mengakibatkan negara dalam hal ini Pemprov Sumatera Uttara tidak netral, karena Gubernur Gatot Puji Nugroho sebagai alat pengusaha Luhut Pandjaitan. Sementara ditingkat pusat, negara bersifat netral. Namun demikiran, dalam kebijakan yang lain, penguasa juga melakukan capture. Sehingga penguasa dalam hal ini Presiden SBY merupakan latent elite capture.

Alim Bathoro berhasil mempertahankan disertasinya ini dalam sidang doktoralnya yang diketuai oleh Prof. Dr. Robert M.Z. Lawang pada Rabu (2/5), bertempat di Auditorium Juwono Sudarsono. Dengan demikian, Ia menjadi doktor ke-107 yang diluluskan oleh Departemen Ilmu Politik FISIP UI.

Artikel Lainnya:  Konferensi Internasional tentang Politik dan Pemerintahan Indonesia: Meningkatkan Kontribusi bagi Kemajuan Demokrasi dan Riset Politik Indonesia