Select Page

Berbicara dan menuangkan pendapat di dunia maya saat ini memang sudah terbilang bebas, namun bukan berarti tidak ada tata cara yang bisa mengaturnya. Kebebasan dalam bermedia sosial juga dilandasi oleh aturan.

Kaum perempuan masih mengalami ketakutan dan terancam saat menggunakan hak kebebasan berekspresi mereka di internet. Wartawan perempuan, misalnya, tercatat memiliki banyak pengalaman negatif dalam ekspresi di dunia maya ini.

Hal itu yang menjadi salah satu alasan diadakannya workshop tentang Teaching Gender in Journalism and Media Studies yang digelar sebagai kerja sama antara Departemen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, Department of Journalism and Media Studies/Journalism, Media International Center (JMIC), Oslo Metropolitan University, Norwegia, International Association of Women in Radio and Television (IAWRT), serta Communication Research Center, Institute of Social and Political Research and Development (LPPSP FISIP) Universitas Indonesia. Acara digelar di The Margo Hotel, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (28/10/2019).

Pelatihan diikuti oleh 28 peserta dari 14 negara, seperti Afganistan, Bangladesh, Filipina, India, Inggris, Malaysia, Mesir, Nepal, Norwegia, Pakistan, Tunisia, Turki, Uganda, dan Zimbabwe. Peserta terdiri atas para peneliti, akademisi, dan jurnalis perempuan yang bertukar pengalaman lintas geografis dan lintas batas lainnya tentang pengalaman gender di media dalam pengalaman jurnalistik praktis, penelitian media, serta pengalaman mengajar gender, jurnalisme dan media.

Ketua Panitia Pelaksana Workshop Teaching Gender in Journalism and Media Studies, Ummi Salamah menuturkan, adanya pelatihan ini sebagai upaya edukasi untuk memberikan perspektif gender dalam tulisan kepada para jurnalis perempuan.

“Kami ingin bagaimana orang-orang yang belajar jurnalistik memiliki perspektif gender, sehingga nantinya di dalam tulisannya sudah terbangun perspektif gendernya dan sudah langsung fit in dan sensitif gendernya sudah terbangun,” tutur Ummi.

Director JMIC Oslo Metropolitan University, Elisabeth Eide menuturkan, terdapat kebutuhan untuk mencatat pengalaman para jurnalis perempuan dalam penggunaan media sosial agar bisa dibentuk kelompok pendukung yang kuat untuk mencegah mereka dibungkam. Pembentukan jaringan di antara jurnalis perempuan, menurut Elisabeth, menjadi penting untuk memperjuangkan hak-hak mereka dan juga untuk meningkatkan pemberdayaan.

“Terlalu sedikit kontak di antara lembaga, akademisi, dan jurnalis mengenai masalah ini. Sebenarnya, banyak peserta memiliki berbagai hal untuk dibagikan sehingga kita bisa memetik pelajaran dan menyebarkannya,” kata Elisabeth.

Dikatakan, membangun literasi media gender bersama-sama dengan lembaga akademik lain serta LSM yang peduli dengan hak-hak gender adalah suatu hal yang penting. “Workshop ini akan menjadi pengalaman berbagi dan belajar untuk semua orang,” ujar Elisabeth Eide.

Teaching Gender in Journalism and Media Studies diselenggarakan selama tiga hari mulai Senin (28/10/2019) hingga Rabu (30/10/2019). Kegiatan terbagi menjadi dua sub kegiatan, yaitu pelatihan selama dua hari di Hotel Margo, Depok. Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan presentasi laporan UNESCO bertema Setting the Gender Agenda for Communication Policy and Gender, Media and ICTs.

Salah satu fokusnya adalah menyelesaikan permasalahan kesenjangan gender yang masih banyak terjadi. Di bawah naungan Global Alliance on Media and Gender (GAMAC) laporan tersebut menunjukkan pentingnya perjuangan yang lebih masif untuk kesetaraan gender, hak asasi perempuan, serta untuk pencapaian pembangunan yang berkelanjutan.

Acara diakhiri dengan peluncuran buku berjudul Transnational Othering – Global Diversities, Media Extremism and Free Expression (Anthology, Nordicom), yang merupakan kumpulan tulisan jurnalis dan akademisi dari berbagai negara. Buku antologi ini membahas masalah-masalah kompleks dan saling terkait, seperti kebangkitan ekstremisme dan terorisme, keanekaragaman dan hak-hak minoritas, serta situasi kebebasan berekspresi di delapan negara yang berbeda.

Salah satu tulisan dalam antologi itu adalah karya Ade Armando dari Universitas Indonesia. Tulisan berjudul Indonesia, When Civil Society, Government, and Islamist Collide” menggambarkan situasi kebebasan berpendapat menjelang Pemilu 2018. Buku antologi ini merupakan buah dari pertemuan jurnalis dan akademisi pada Global Inter Media Dialogue (GIMD) 2017 yang diselenggarakan di FISIP UI, Depok.

Sumber : https://sp.beritasatu.com/nasional/peneliti-dan-jurnalis-perempuan-berbagi-pengalaman-tentang-isu-gender/582743/