Select Page

Perubahan iklim seperti naiknya suhu minimum di malam hari, pola pergantian musim dan kemungkinan terjadinya peristiwa iklim ekstrem, membuat petani tidak lagi dapat menggantungkan diri pada pengetahuan tradisional. Pusat Kajian Antropologi  FISIP UI melakukan Warung Ilmiah Lapangan (WIL) tahun 2019 di Karang Pakuan, Kabupaten Sumedang.

Warung Ilmiah Lapangan adalah arena pembelajaran pembelajaran agrometeorologi oleh petani. Agrometeorologi adalah sebuah ilmu yang melakukan pengaturan dan rekayasa terhadap berbagai sumber daya yang ada seperti air, tanah dan udara dalam rangka mendukung kegiatan pertanian. Ilmu ini dapat berimplikasi pada meningkatnya taraf hidup petani. Pembelajaran ini melibatkan proses saling belajar antar petani, ilmuwan dengan penyuluh pertanian.

WIL menempatkan petani sebagai yang utama dan pertama dalam pengembangan kemampuan antsipasi perubahan iklim dan bukan pembelajaran instuksional satu arah.WIL juga menawarkan satu pendekatan penyuluhan pertanian baru untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat dipraktikkan oleh petani dalam kegiatan usaha tani sehari-hari. 

Petani adalah pembelajar yang aktif dan melakukan pengamatan dan pencatatan harian data curah hujan dan agroekosistem, mendokumentasikan serta menganalisa dan mendiskusikan hasil temuan itu bersama-sama.

Para mahasiswa Antropologi juga berperan dalam kegitan WIL ini, salah satunya adalah Nurul Qodariatul Aulia, yang meneliti tentang “Variasi Ahli Pengetahuan Petani Pengukur Curah Hujan Sumedang”. Berdasarkan kondisi aktual di lapangan Nurul mengetahui bahwa pengetahuan baru yang di introduksi melalui WIL merubah cara pandang dan perilaku petani dalam bercocok tanam dan megelola lahan, pengertahuan baru kemudian diahlikan kepada anggota kelompok tani dan tetangga untuk membagikan manfaat dan kegunaannya.

Petani mengembangkan kemampuan analisis, antisipasi, dan pengambilan keputusan tentang strategi budi daya tanaman yang lebih jitu dan tanggap dalam menghadapi kondisi iklim tertentu. Petani pengukur curah hujan menganggap, dokumentasi yang dicatatnya merupakan sumber pengetahuan yang amat bermakna sebagai sumber rujukan bagi pengembangan kegiatan bercocok tanam yang lebih tangguh. 

Data-data petani dan hasil olahannya tersebut dapat menjadi rujukan bagi petani bersangkutan dalam menentukan strategi antisipasi cocok tanam yang jitu di tengah ketidakteraturan datangnya musim hujan, ancaman peristiwa iklim ekstrem, dan kemungkinan serangan hama.

Ada tujuh jasa layanan iklim (seven climate services) yang diperkenalkan dan dikembangkan dalam arena belajar itu, yakni 1) mengukur curah hujan setiap hari; 2) mengamati dan mendokumentasikan kondisi agroekosistem lahan pertanian; 3) mengevaluasi hasil panen; 4) mengelola kegiatan WIL oleh petani sendiri; 5) menyebarluaskan skenario musiman untuk tiga bulan ke depan yang diperbaharui setiap bulan; 6) menyajikan pengetahuan baru yang dibutuhkan petani sesuai dengan kondisi di lahannya; dan 7) melaksanakan eksperimen di lahan petani.