Select Page

Presentasi laporan UNESCO bertema Setting the Gender Agenda for Communication Policy and Gender, Media and ICTs diadakan pada hari Rabu (30/10) di Auditorium Komunikasi FISIP UI. Kegiatan ini kelanjutan dari Teaching Gender in Journalism and Media Studies yang diselenggarakan pada hari Senin (28/10) dan Selasa (29/10) di Hotel Margo, Depok.

Di bawah naungan Global Alliance on Media and Gender (GAMAC) laporan tersebut menunjukkan pentingnya perjuangan yang lebih masif untuk kesetaraan gender, hak asasi perempuan, serta untuk pencapaian pembangunan yang berkelanjutan.

“Pentingnya kesetaraan gender. Lanskap media global telah berevolusi secara dramatis dalam lebih dari dua puluh tahun sejak Konferensi Dunia PBB ke-4 tentang perempuan diadakan di Beijing pada tahun 1995, ketika media diakui sebagai hal yang penting untuk kemajuan perempuan dan pencapaian kesetaraan antara perempuan dan laki-laki” ujar Ming Kuok Lim selaku Advisor for Communication and Information for UNESCO Office.

Ming Kuok Lim memperkenalkan sekaligus menjelaskan buku yang telah dibuat dan diterbitkan oleh UNESCO, buku yang pertama berjudul Setting The Gender Agenda For Communication Policy: new proposals from the Global Alliance on Media and Gender. Dibagi dalam 4 bagian.

Publikasi ini menunjukkan pentingnya sentralitas komunikasi dalam perjuangan yang lebih luas untuk kesetaraan gender dan hak asasi perempuan, serta untuk pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Isu-isu seperti kesetaraan gender dalam posisi pengambilan keputusan media, kebijakan peraturan, jender dan kebebasan berekspresi dan hak-hak pekerja media perempuan dinilai bersama dengan opsi penulis untuk masa depan.

Buku yang kedua berjudul Gender, Media & Icts: New Approaches For Research, Education & Training. Di latarbelakangi oleh dukungan UNESCO untuk pendidikan jurnalisme didukung oleh keyakinan kuat, bahwa standar jurnalistik profesional sangat penting untuk mengeluarkan potensi sistem media untuk mendorong demokrasi, dialog, pembangunan berkelanjutan dan kesetaraan gender.

Acara diakhiri dengan peluncuran buku berjudul Transnational Othering – Global Diversities, Media Extremism and Free Expression (Anthology, Nordicom) yang merupakan kumpulan tulisan jurnalis dan akademisi dari berbagai negara. Buku antologi ini membahas masalah-masalah kompleks dan saling terkait, seperti kebangkitan ekstremisme dan terorisme, keanekaragaman dan hak-hak minoritas, serta situasi kebebasan berekspresi di delapan negara yang berbeda.

Salah satu tulisan dalam antologi itu adalah karya Ade Armando dari Universitas Indonesia. Tulisan berjudul Indonesia, When Civil Society, Government and Islamist Collide” menggambarkan situasi kebebasan berpendapat menjelang Pemilu 2018. Buku antologi ini merupakan buah dari pertemuan jurnalis dan akademisi pada Global Inter Media Dialogue (GIMD) 2017 yang diselenggarakan di FISIP UI, Depok.

Menariknya kebanyakan dari negara tersebut adalah negara dengan populasi mayoritas Muslim seperti Turki, Pakistan, Bangladesh, Tunisia, Afghanistan dan Indonesia.  Salah satu tulisan dalam antologi itu dari Indonesia yang berjudul “Indonesia, when civil society government and Islamist collide” menggambarkan bagaimana situasi dan kebebasan berpendapat di masa-masa menjelang pemilu di Indonesia pada 2018.