


Program Studi Kelas Internasional Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poltik, Universitas Indonesia (KKI FISIP UI) merayakan hari jadinya yang ke-15 pada tahun 2025. Sebagai bagian dari peringatan ini, Program Studi Kelas Internasional Komunikasi menyelenggarakan roundtable discussion. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Jumat (24/10) dan Sabtu (25/10) di Auditorium Juwono Sudarsono, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia, Depok.
Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia semakin masif terutama dalam penyebaran informasi di media sosial. Kehadiran AI menjadi tantangan yang dihadapi oleh sektor pelayanan publik dan pemerintah dalam hal mempertahankan reputasi dan kepercayaan masyarakat.
Tidak jarang AI digunakan untuk memproduksi informasi keliru atau hoax yang menimbulkan keresahan. Hal ini dibahas dalam diskusi panel yang diselenggarakan oleh departemen ilmu komunikasi universitas indonesia dalam acara peringatan 15 tahun penyelenggaraan KKI komunikasi UI.
Acara ini dihadiri oleh akademisi dari tiga universitas mitra di australia yaitu University of Queensland, University of Curtin dan University of Deakin. Selain itu, komunikasi UI juga mengundang perwakilan dari pemprov DKI Jakarta, Kementerian Keuangan, hingga MRT Jakarta.
Diskusi ini menekankan bahwa dalam krisis komunikasi yang sering dihadapi oleh perusahaan dan lembaga, aspek emosional manusia tetap menjadi hal terpenting dalam memperoleh kepercayaan publik.
Dr. Hendriyani (Kepala Departemen Ilmu Komunikasi UI), “di satu sisi saya pikir banyak dari masyarakat yang sedang mencoba dan memanfaatkan AI, tapi di sisi lain dengan banyaknya fake news dan disinformasi penggunaan AI jadi mengkhawatirkan.”
Lebih lanjut ia mengatakan, “kita sering temui banyak video palsu yang beredar, sayangnya baik akademisi, pemerintah dan industri belum bergerak banyak untuk mencegah hal ini atau membuat masyarakat jadi lebih kritis tentang hal ini.”
Tantangan menjaga kepercayaan publik akibat gangguan informasi oleh AI juga dihadapi oleh salah satu penyedia jasa transportasi publik di indonesia yaitu PT. MRT Jakarta. Perusahaan menekankan bahwa dibutuhkan strategi-strategi khusus untuk menjaga kepercayaan pelanggan di tengah serbuan AI.
Rendy Primartantyo (Kepala Divisi Corporate Secretary PT MRT Jakarta (Perseroda)) mengatakan bahwa MRT Jakarta saat ini masih dengan peformance yang baik. “Jadi memang kita selalu menjaga dan berkoordinasi dengan media, membuat acara yang melibatkan media untuk memberikan update tentang perkembangan yang dilakukan MRT Jakarta. Hal ini dilakukan untuk menjaga trust dari publik kepada MRT Jakarta,” ujarnya.
Selain itu, akademisi dan lembaga pendidikan memiliki peran penting untuk membantu membangun literasi publik terhadap misinformasi yang dihasilkan oleh AI serta sejauh mana masyarakat bisa percaya dengan AI. Di era digital ini, transparansi dan tanggung jawab menjadi kunci untuk menjaga reputasi dan kepercayaan.







