
Alumni Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Ade Rai, menekankan pentingnya perubahan perilaku sebagai kunci utama dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Hal tersebut disampaikannya dalam orasi ilmiah “Gaya Hidup Sehat dan Kesejahteraan Holistik” pada puncak Dies Natalis ke-58 FISIP UI yang digelar di Auditorium Juwono Sudarsono, Kamis (2/4).
Dalam pemaparannya, Ade Rai menjelaskan bahwa pengetahuan baru akan memberikan dampak nyata apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa tanpa praktik, pengetahuan tidak akan menghasilkan perubahan signifikan, baik dalam aspek kesehatan maupun kesejahteraan hidup.

“Pengetahuan adalah kekuatan, tetapi kekuatan yang sesungguhnya adalah pengetahuan yang diaplikasikan. Ketika pengetahuan diterapkan, seseorang dapat bertransformasi dari kondisi kurang sehat menjadi lebih sehat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa pendekatan kesehatan selama ini cenderung berfokus pada aspek kuratif atau pengobatan, seperti penyediaan obat dan layanan medis. Kondisi tersebut diibaratkannya dengan analogi “obat merah”, yang menggambarkan tingginya kebutuhan pengobatan akibat banyaknya kejadian masalah kesehatan di masyarakat.
Namun, menurutnya, akar persoalan justru terletak pada perilaku masyarakat itu sendiri. Ia menjelaskan bahwa dengan perilaku yang lebih disiplin—seperti menjaga keselamatan dan kesehatan—kebutuhan terhadap pengobatan dapat ditekan secara signifikan.
“Jika masyarakat memiliki perilaku yang lebih baik, maka risiko sakit akan berkurang, sehingga ketergantungan pada pengobatan juga menurun,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ade Rai mengajak masyarakat untuk mengedepankan pendekatan preventif dan promotif dalam menjaga kesehatan. Ia menilai langkah pencegahan tidak hanya lebih efektif, tetapi juga lebih efisien dibandingkan pengobatan.
Dalam orasinya, ia turut menyampaikan ilustrasi “orang kesepuluh yang hilang” untuk menggambarkan kecenderungan manusia yang sering mencari solusi ke luar, namun lupa melihat peran diri sendiri. Menurutnya, sebagian besar persoalan kesehatan sangat dipengaruhi oleh perilaku individu.
“Kita sering mencari solusi ke luar—dokter, obat, rumah sakit—tetapi lupa menunjuk diri sendiri. Padahal, kita adalah bagian utama dari solusi kesehatan kita,” tuturnya.
Mengacu pada definisi kesehatan dari World Health Organization, ia menegaskan bahwa kesehatan mencakup aspek fisik, mental, dan sosial. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang holistik dengan menyeimbangkan intervensi medis dan perubahan perilaku.
Sebagai panduan praktis, Ade Rai juga memaparkan tujuh pola perilaku sehat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu puasa, mengontrol asupan karbohidrat, memprioritaskan protein, tidak takut terhadap lemak sehat, tetap aktif bergerak, memprioritaskan latihan beban, serta mengatur pernapasan untuk menjaga kesehatan mental.
Sebagai penutup, ia mengajak masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam menjaga kesehatan sebagai bentuk tanggung jawab pribadi. Ia menyebut pendekatan ini sebagai “asuransi personal”, di mana setiap individu memiliki kendali atas kualitas kesehatannya melalui gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari.
Orasi ilmiah ini menjadi bagian penting dalam rangkaian Dies Natalis ke-58 FISIP UI, yang tidak hanya menyoroti capaian akademik, tetapi juga memperkuat peran ilmu sosial dalam menjawab persoalan nyata di masyarakat. Pesan Ade Rai sejalan dengan semangat FISIP UI untuk mendorong perubahan sosial melalui pendekatan yang berbasis pengetahuan sekaligus berorientasi pada praktik nyata di kehidupan sehari-hari.


