Tekanan akademik dan sosial masih menjadi tantangan nyata yang dihadapi mahasiswa selama menjalani perkuliahan. Hal tersebut disampaikan Febri Susanto, lulusan Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) angkatan 2021, dalam forum diskusi yang diselenggarakan Republika bersama Badan Konseling Mahasiswa (BKM) FISIP UI di FISIP UI, Depok, Jawa Barat, Kamis (26/2/2026).
Dalam forum tersebut, Febri membagikan pengalamannya menghadapi tuntutan akademik, aktivitas organisasi, serta proses adaptasi lingkungan yang berdampak pada kesehatan mentalnya.
“Kalau bicara kesibukan, hampir semua mahasiswa mengalaminya. Saya juga merasakan hal yang sama. Tekanan datang bukan hanya dari tugas-tugas akademik, tetapi juga dari lingkungan sosial,” ujarnya.
Ia menuturkan tekanan sosial terasa terutama pada masa awal kuliah. Sebagai mahasiswa yang berasal dari daerah, ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus membangun relasi di tengah situasi perkuliahan yang sempat berlangsung secara daring akibat pandemi.
Memasuki semester akhir, tekanan meningkat saat ia harus menyelesaikan skripsi di tengah aktivitas organisasi serta persoalan keluarga. Pada fase tersebut, Febri mulai mengalami perubahan pola hidup yang tidak sehat. Ia kerap tidur larut malam, bahkan beberapa kali tidak tidur sama sekali, meski aktivitas harian tetap berjalan.
Dalam satu periode, waktu tidurnya hanya sekitar satu jam untuk menjalani aktivitas selama 24 jam penuh. Kondisi tersebut diperparah dengan munculnya mimpi buruk setiap kali ia mencoba tidur lebih lama. Situasi ini berlangsung selama dua hingga tiga pekan dan mulai mengganggu fungsi keseharian serta konsentrasinya.
“Baru saya sadar setelah melihat pola diri sendiri. Saya hanya tidur sekitar satu jam untuk beraktivitas selama 24 jam. Ketika mencoba tidur lebih lama, justru muncul mimpi buruk,” tuturnya.
Setelah menyadari kondisinya tidak normal, Febri memutuskan mencari bantuan profesional. Ia sempat mendaftar layanan di Klinik Makara UI, namun waktu tunggu yang cukup panjang mendorongnya mencari alternatif lain. Ia kemudian mengakses layanan BKM di tingkat fakultas setelah memperoleh informasi dari dosen.Respons cepat dari BKM FISIP UI memungkinkannya segera menjalani sesi konseling dan mendapatkan pendampingan profesional. Layanan tersebut dinilainya sangat membantu, terutama karena proses penanganan berlangsung responsif dan mudah diakses.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting baginya mengenai dampak tekanan berlapis terhadap kesehatan mental mahasiswa. Ia menilai kesadaran diri untuk mengenali perubahan kondisi psikologis serta kemudahan akses layanan pendampingan menjadi faktor krusial dalam menjaga kesehatan mental.
Menurut Febri, keberadaan layanan konseling di tingkat fakultas dapat menjadi solusi awal bagi mahasiswa yang membutuhkan pendampingan segera. Akses yang cepat dinilai mampu mencegah kondisi mental memburuk akibat keterlambatan penanganan.
Fenomena tekanan akademik dan sosial yang dialami mahasiswa, lanjutnya, menunjukkan perlunya dukungan lingkungan kampus yang lebih kuat dan sistem layanan yang responsif. Upaya pencegahan serta pendampingan yang mudah dijangkau diharapkan dapat membantu mahasiswa menjalani masa studi dengan lebih sehat, seimbang, dan produktif.
Ia pun mengajak mahasiswa untuk tidak ragu mencari bantuan ketika kondisi mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, serta memanfaatkan sistem dukungan yang tersedia di lingkungan kampus.


