Select Page

Orang-orang bermotor bergerak mengejar mobil yang dikendarai Kakek Halim, digerakkan oleh teriakan ‘maling!’, di Jakarta Timur pada Minggu (23/1) dini hari. Massa memukuli Kakek Halim berusia 89 tahun itu secara beramai-ramai. Kakek Halim diamuk massa yang terprovokasi dan meninggal dunia di lokasi. Bagaimana bisa orang-orang berbuat sekeji itu?

Sosiolog dari FISIP UI, Dr. Ida Ruwaida, menjelaskan bahwa peristiwa main hakim sendiri ini terus berulang di Indonesia. Sayangnya, beberapa kali terjadi pula sasaran amuk massa merupakan orang yang tidak bersalah.

“Amuk massa seperti ini tergolong kerumunan bertindak. Kecurigaan dan kemarahan secara kolektif membunuh logika dan juga nurani kemanusiaannya,” kata Ida.

Dalam situasi amuk massa, individu yang masih sadar akan moralitas bakal memilih diam demi menghindari amukan massa melebar ke dirinya. Aparat keamanan bahkan bisa terancam keselamatannya dalam skala amuk massa tertentu. Lantas, bagaimana ini bisa terjadi?

Ida menilai peristiwa seperti ini sering terjadi lantaran massa tidak punya kepercayaan terhadap penegakan hukum, jadi mereka memilih bertindak sendiri. Masyarakat belum mendapat informasi mengenai mekanisme pengaduan kejahatan jalanan yang bisa cepat direspons penegak hukum.

‘Indonesia orangnya ramah-ramah’. Begitu kata orang-orang. Namun, dengan seringnya peristiwa amuk massa, masyarakat Indonesia sudah memberi sinyal adanya kebutuhan untuk membangun keberadaban, baik di keluarga, sekolah, institusi agama, media massa, dan media sosial.

“Berita-berita kekerasan setiap saat muncul di berbagai media massa maupun media sosial. Itulah jendela untuk melihat wajah masyarakat kita. Kasus ini kakek Halim yang dikeroyok, sekali lagi cermin ketidakberadaban masyarakat kita. Ini fakta sosial budaya yang perlu disikapi serius,” kata Ida.

Dia menilai kasus kekerasan sejenis, berpotensi gampang muncul di lain waktu di masyarakat kita. Soalnya, sudah ada bukti masyarakat mudah sekali terpicu, apalagi oleh isu-isu sensitif seperti agama dan politik. “Bahkan ada pihak-pihak yang memang sengaja memprovokasi terjadinya amuk massa,” kata dia.

Para tokoh publik juga harus bisa menjadi panutan yang baik. Sangat miris, Indonesia Negara Pancasila, berketuhanan, namun perilaku sebagian warganya beringas.

“Di Indonesia, tidak ada korelasi positif antara reiligiositas dengan sikap empati, pro-sosial, menjunjung nilai kemanusiaan dan keberadaban,” kata Ida.

Dari sisi pakar kriminologi FISIP UI, Profesor Adrianus Eliasta Sembiring Meliala, memberikan pandangannya, “perilaku collective behaviour yang dinamakan ‘amuk’ itu adalah perilaku buta.”

Amuk massa tidak punya pikiran individual, karena pikiran individual digantikan dengan pikiran kolektif. “Itu mengingat amuk tidak memiliki jiwa yang berpikir dan telah digantikan collective mind yang berpikir amat simpel,” kata Adrianus.

Adrianus menilai masyarakat di sini masuk kategori soft country dan lekat dengan perilaku gotong-royong, yakni masyarakat yang mudah mengikuti kehendak kelompok atau dorongan eksternal. Namun, di negara-negara yang bukan ‘soft country’, seperti Jepang dan Singapura, peristiwa-peristiwa serupa amuk massa di Cakung jarang terjadi.

Dalam kondisi amuk massa, orang yang baik-baik secara moral bisa berubah beringas. Soalnya, kepribadian bisa berganti mengikuti dinamika kelompok.

“Namanya saja sudah pindah kepribadian. Dari individual mind yang rasional dan sadar menjadi collective mind yang tidak berakal dan ganas,” kata Adrianus.

Disunting dari: https://news.detik.com/berita/d-5916461/kakek-halim-tewas-diamuk-massa-apa-yang-membuat-orang-berubah-beringas