Select Page
Presiden Timor Leste José Ramos-Horta Beri Kuliah Tentang Perdamaian Dan Kerja Sama Indonesia-Timor Leste

Presiden Timor Leste José Ramos-Horta Beri Kuliah Tentang Perdamaian Dan Kerja Sama Indonesia-Timor Leste

Depok, 14 Desember 2021. Dalam kunjungan luar negeri pertamanya setelah dilantik menjadi Presiden Timor Leste pada 20 Mei 2022, Presiden Republik Demokratik Timor Leste, José Ramos-Horta, melakukan kunjungan ke Universitas Indonesia (UI). Dalam kesempatan tersebut, ia memberikan kuliah umum kepada sivitas akademika berjudul “A Long and Winding Road Towards Peace and Resolving Conflicts: Lessons from Asia’s Newest Nation” yang dilaksanakan secara hybrid di Auditorium Juwono Sudarsono, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Kampus Depok pada Selasa (19/07).

Ia menyampaikan pidato tentang upaya mewujudkan kerjasama di antara Indonesia dan Timor-Leste dan dukungan Indonesia di berbagai bidang pembangunan negara tersebut, termasuk di bidang pendidikan dan sumber daya manusia. Dalam kunjungan sekaligus pidatonya di kampus UI Depok, Presiden Ramos-Horta disambut oleh Rektor UI Prof. Ari Kuncoro beserta jajaran pimpinan UI. Sementara itu, Ramos-Horta didampingi beberapa Menteri dan pejabat tinggi seperti Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama Adaljiza Abertina Xavier Reis Magno, Menteri Perhubungan dan Komunikasi Jose Agustinho da Silva, Menteri Pertanian dan Perikanan Pedro dos Reis, dan Duta Besar Timor Leste untuk Republik Indonesia Filomeno Alexio da Cruz.

Dalam pidato sambutannya, Rektor UI Prof. Ari Kuncoro menyampaikan bahwa hubungan UI dengan masyarakat Timor Leste sangat istimewa. “Dalam kurun waktu 2015 dan 2019 kami menerima sejumlah mahasiswa dari Timor Leste dalam program magister dan doktoral di berbagai program studi, antara lain studi kepolisian, teknik, ekonomi dan bisnis, studi gender, dan sebagainya. Sebagai institusi pendidikan, kami sangat bangga UI mengambil bagian dalam pengalaman hidup mereka sebagai talenta muda yang membentuk masa depan, tidak hanya untuk diri mereka sendiri tetapi juga untuk hubungan antara Indonesia dan Timor Leste,” paparnya.

Lebih lanjut Rektor UI menyampaikan bahwa pendidikan dapat menjadi faktor pendukung hubungan yang bermakna antara Indonesia dan Timor Leste. “Izinkan saya mengambil kesempatan ini untuk mengundang kita semua di sini, untuk menemukan lebih banyak tentang area di mana kita dapat bekerja sama; bidang yang akan menguntungkan bangsa kita dari sudut penelitian dan pendidikan serta hubungan budaya. Oleh karena itu, kami mengundang rekan-rekan kami dari Timor Leste untuk melakukan kegiatan penelitian bersama dengan para peneliti kami,” ujarnya.

Senada dengan Rektor UI, Prof. Aji Dekan FISIP UI turut menyampaikan bahwa FISIP UI telah dan siap untuk terus berkontribusi pada upaya membangun hubungan yang lebih baik antara Indonesia dan Timor Leste. Ia berterima kasih atas kesediaan Jose Ramos-Horta, untuk berbagi wawasannya yang berharga dan memaparkan sedikit sejarah keterlibatan FISIP UI dalam membangun hubungan yang lebih baik di antara kedua negara. “FISIP UI bangga memiliki mahasiswa-mahasiswa dari Timor Leste yang lulus dari institusi kami dan berkontribusi pada pengembangan Timor Leste dan hubungannya dengan Indonesia,” tuturnya. Ia juga mengajak audiens untuk mengapresiasi pencapaian Indonesia dan Timor Leste dalam mengelola hubungan mereka yang diwarnai konflik masa lalu. ”Kita patut bersyukur bahwa kedua negara berhasil membangun hubungan yang erat dan bersahabat. Ini merupakan prestasi yang membanggakan bagi kita semua, karena di berbagai belahan dunia, konflik-konflik masa lalu terus menghambat hubungan persahabatan dan kerja sama antar negara. Kita harus mengakui bahwa jalan menuju perdamaian abadi itu panjang dan berliku, seperti judul Kuliah Tamu ini, namun kita juga patut bangga karena telah berhasil menapaki jalan ini dengan komitmen untuk mengembangkan masa depan yang lebih baik bagi rakyat kedua negara,” ujar Guru Besar Antropologi itu. Ia juga mewarnai pidatonya dengan kutipan dalam bahasa Tetum yang mengatakan bahwa ”Timor (Leste) dan Indonesia seperti pohon. Meskipun berbeda cabang, keduanya berasal dari akar dan pohon yang sama.”

Presiden Ramos-Horta mengiyakan hal tersebut dengan menegaskan pentingnya membangun hubungan yang lebih baik antara Indonesia dan Timor Leste. “Tidak ada batas untuk mengembangkan kerjasama dengan Indonesia, negara yang sangat penting bagi Timor Leste,” tegasnya. Indonesia memang menjadi negara pertama yang dikunjungi Presiden Jose Ramos-Horta dalam kunjungan luar negeri pertamanya ini.

“Adalah sebuah kehormatan untuk dapat kembali ke Indonesia,” ujar Presiden Jose Ramos-Horta mengawali pidatonya. Setelah menyapa para pimpinan UI, tamu undangan, serta peserta terutama mahasiswa UI, Presiden Jose Ramos-Horta menceritakan singkat pertautan erat antara sejarah diri dan bangsanya dengan Indonesia, termasuk perjalanan pertamanya ke Jakarta pada tahun 1974. Peraih Nobel Perdamaian ini menceritakan perjalanan perjuangannya untuk kemerdekaan Timor Leste dan upaya rekonsiliasi dengan Indonesia, kemudian mengambil pelajaran dari perjalanan tersebut.

Dalam kuliah umum yang diwarnai dengan sesi tanya jawab yang dinamis dengan para mahasiswa itu, peraih hadiah Nobel Perdamaian tersebut juga membahas berbagai hal tentang perkembangan Timor Leste, hubungan negara tersebut dengan Indonesia dan ASEAN, hingga pandangannya tentang ketegangan geopolitik yang meningkat. Ia memuji kunjungan Presiden Joko Widodo ke Rusia dan Ukraina dengan membawa misi mendorong semangat perdamaian dan membawa agenda rantai pasokan pangan global. Ia juga menyebutkan harapan beberapa harapan Timor Leste untuk Indonesia, mulai dari visa yang lebih mudah dan peningkatan investasi dari Indonesia ke Timor Leste untuk mendorong pembangunan ekonomi.

Penelitian Disertasi Usman Kansong Membahas Mediatisasi Populisme Islam di Pilkada DKI 2017

Penelitian Disertasi Usman Kansong Membahas Mediatisasi Populisme Islam di Pilkada DKI 2017

Usman Kansong berhasil meraih Doktor Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UI, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Dirjen IKP Kominfo) itu mendapatkan nilai 3,78 sangat memuaskan. Penelitian disertasi tersebut berjudul “Mediatisasi Populisme Islam di Pilkasa DKI 2017 (Pendekatan Strukturasi)”. Sidang Promosi doktoral ini juga menjadikan Usman Kansong sebagai doktor ke 125 yang dihasilkan oleh program pascasarjana ilmu komunikasi departemen ilmu komunikasi FISIP UI.

Dalam sidang promosi doktoral tersebut, Promotor, Prof.Dr. Ilya R. Sunarwinadi, M.Si. dan KoPromotor I, Dr. Pinckey Triputra, M.Sc., dan Prof. Effendi Gazali, MPS., Ph.D, serta hadir pula para penguji, Prof. Dr. Iwan Gardono Sudjatmiko, Prof. Dr. Ibnu Hamad Msi, Prof. Dr. Billy K Sarwono dan Dr. Irwansyah S.Sos, M.A,

Usman menelusuri bagaimana agensi media melakukan tindakan sosial memediatisasi populisme Islam di Pilkada DKI dalam struktur mediatisasi hingga menciptakan perubahan sosial tertentu. Melalui analisis wacana kritis ditemukan agensi media memediatisasi populisme Islam di Pilkada DKI dalam tiga tipologi, yakni propulis Islam, status quo terhadap populisme Islam dan antipopulisme Islam.

Secara umum penelitian ini bertujuan menggali bagaimana agensi media memediatisasi populisme Islam sehingga membentuk suatu perubahan sosial,” kata Usman saat menyampaikan pokok-pokok disertasinya.

Usman Kansong menyebut Proses atau fenomena politik mutakhir ialah populisme. Populisme sendiri ialah politik yang menghadap-hadapkan atau mempertentangkan elite dan rakyat.

“Populisme Islam nyata berlangsung di Pilkada DKI 2017. Dalam aksi unjuk rasa 2 Desember 2016 yang dikenal dengan aksi 212, para aktor populis Islam menhadap-hadapkan, membenturkan, atau mempertentangkan elite kandidat gubernur Tionghoa-nonmuslim dengan umat,” tutur dia.

Dia juga menyinggung pidato pertama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pasca terpilih yang menggunakan diksi ‘pribumi’. Menurutnya, diksi itu bisa diartikan membenturkan, atau mempertentangkan elite eks Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang merupakan Tionghoa nonmuslim dengan umat pribumi-muslim.

“Aksi 212 dan pidato pengukuhan gubernur DKi terpilih yang menyenggol kata ‘pribumi’ diperlakukan sebagai objek atau representasi populisme Islam di Pilkada DKI dalam penelituan ini,” ujar dia.

Dalam disertasinya tersebut, Usman Kansong juga menyinggung peran media massa dalam menyampaikan pesan-pesan populisme islam. “Media memberitakan pesan-pesan populis Islam yang diproduksi para aktor populis Islam. Aktor politik menyesuaikan diri dengan kepentingan media ketika menyampaikan pesan populis Islam. Inilah substansi mediatisasi politik,” jelas dia.

Dengan pendekatan strukturasi ditemukan ketiga tipologi tindakan mediatisasi populisme Islam menghasilkan perubahan sosial berupa peneguhan polarisasi sosial. Secara lebih komprehensif, melalui pendekatan strukturasi ditemukan agensi media dengan menggunakan rules logika politik dan logia komersialisme serta source kebebasan pers, agensi media bertindak melegitimasi, membiarkan dan mendelegitimasi populisme Islam hingga menghasilkan perubahan sosial berupa peneguhan polarisasi sosial

Untuk keperluan disertasinya, Usman meneliti tiga media. Menurutnya, media ikut berkontribusi dalam meneguhkan polarisasi baik saat bersifat netral, berpihak kepada populisme islam, atau anti.

“Media berkontribusi meneguhkan polarisasi. Jika dia netral itu seperti membiarkan, sementara yang pro berarti melegitimasi populisme. Sedangkan yang anti tidak memberikan kesempatan bagi kelompok populisme,” katanya.

Para elite politik tidak menggunakan populisme Islam dalam arti yang negatif. Usman menilai populisme akan baik jika pengelolaannya tepat. Media idealnya tidak membiarkan populisme seperti apa adanya atau status quo; membiarkan populisme dalam status quo tidak demokratis.

Media idealnya tidak melegitimasi populisme arena strategi berdemokrasi kaum populis senantiasa disertai rigiditas doktrinal; melegitimasi rigiditas doktrinal tidaklah demokratis.

“Media idealnya menghadapi populisme dengan menggunakan rules demokrasi dan kebebasan pers untuk melakukan tindakan demokratis dengan menyediakan ruang demokrasi bagi berbagai kelompok sosial untuk bertemu, berdialog dan berdiskusi secara kritis dan demokratis, untuk memperkuat atau mengonsolidasikan demokrasi. Dalam hal ini media menjalankan fungsi korelatif, menghubungkan atau menjembatani berbagai kelompok sosial untuk mengurangi polarisasi sosial,” ujarnya.

Ketahanan Pangan, Covid-19, dan Perubahan Iklim

Ketahanan Pangan, Covid-19, dan Perubahan Iklim

Perubahan iklim akan menjadi pemicu krisis sosial ekologis yang luas dan intens di seantero bumi. Persoalan menjadi semakin kompleks karena krisis sosial ekologis yang timbul tidak tersebar merata. Negara-negara miskin lebih rentan terhadap risiko perubahan iklim dibanding negara-negara maju. Golongan berpenghasilan rendah atau miskin lebih rentan terhadap perubahan iklim dibanding yang berpenghasilan menengah atau kaya. Demikian pula kaum perempuan dan anak-anak, terutama rumah tangga miskin di pedesaan, mereka tergolong paling rentan terhadap perubahan iklim.

Pandemi Coronavirus-19 (COVID-19) yang terjadi di hampir seluruh dunia termasuk Indonesia, telah membawa banyak dampak buruk pada berbagai aspek kehidupan termasuk krisis pangan. Risiko kelangkaan pangan mengemuka sebagai efek disraptif dari pandemi COVID-19 dan menyebabkan bencana kelaparan di berbagai tempat di penjuru dunia. Risiko krisis pangan yang terjadi di Indonesia juga sempat disampaikan oleh Presiden Joko Widodo.

Beberapa permasalahan ketahanan pangan di Indonesia yang harus segera dicarikan solusi antara lain (1) Umur rata-rata petani semakin tua, maka diperlukan upaya untuk menjadikan pertanian sebagai sumber matapencaharian yang atraktif bagi kaum muda. Untuk itu perlu diketengahkan berbagai inovasi dalam teknik bertani yang lebih dekat dengan alam pikiran dan gaya hidup kaum muda, (2) Rantai pasok (supply chain), membangun rantai pasok yang ringkas dan efisien sehingga memperbaiki struktur harga dan pasokan bahan makanan maka diperlukan penumbuhan komitmen untuk memprioritaskan pemanfaatan bahan pangan lokal (lokavor) dan (3) Waste, produksi pertanian perlu menganut teknik produksi nir­limbah (zero waste) dengan pendekatan ekonomi sirkuler. Kondisi tersebut merupakan peringatan agar segera dilakukan langkah-langkah konkret dalam rangka menguatkan daya dukung lingkungan dalam aspek pangan.

Ketahanan pangan bisa tercapai jika bersinergi dan beriringan dengan ketahanan iklim. Dalam era new normal ini seluruh dunia perlu untuk mendahulukan program ketahanan pangan, energi, dan air sebaga kebutuhan dasar manusia. Berdasarkan uraian di atas, maka diskusi Pojok Iklim bermaksud membahas potensi pengembangan pangan sebagai penjamin kehidupan di tengah pandemi COVID-19 dan kaitannya dengan lingkungan dan ketahanan iklim sebagai penjamin keberlanjutan pembangunan.

  • Pengantar:
    Dr. Ir. Agus Justianto, M.Sc – Kepala Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian LHK
  • Narasumber:
    Ketahanan Pangan di Pemukiman
    Ir. Bambang Irianto – Inisiator Kampung Glintung Go Green (3G)
  • Pertanian Adaptif Perubahan Iklim
    Prof. Dr. Yunita Triwardani Winarto – Guru Besar Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia
  • COVID-19 dan Perubahan Iklim
    dr. Jossep F. William – Relawan Medis Satgas Penanganan COVID-19, Tenaga Ahli Menteri LHK
  • Food Systems for a Sustainable, Healthy and Just Society: Regenerative Agriculture in Indonesia and Beyond
    Prof. Thomas Reuter – Asia Institute, University of Melbourne, Australia
  • Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perubahan Iklim
    Dr. Ir. Ai Dariah – Peneliti Utama Badan Penelitian Tanah Kementerian Pertanian
  • Moderator:
    Dr. Soeryo Adiwibowo – Penasihat Senior Menteri LHK

Materi Paparan Prof. Dr. Yunita T. Winarto dapat diunduh dalam tautan: