Pilih Laman

Senin (3/4), Pusat Kajian Antropologi mengadakan bedah buku bertemakan “Demokrasi, Korupsi, dan Makhluk Halus dalam Politik Indonesia Kontemporer” di Auditorium Gedung Komunikasi, Kampus FISIP UI, Depok. Buku ini ditulis oleh professor Antropologi dari Aarhus University, Denmark bernama Nils Bubandt. Dalam karyanya, ia berusaha menyingkap keterkaitan hal-hal ghaib dalam pelaksanaan demokrasi, korupsi, dan politik di Indonesia.

Hadir sebagai pembedah buku ini Dosen Antropologi dari Universitas Khairun, Ternate, Yanuardi Syukur, M.Si. dan Dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia, Dr. Zulfikar Ghazali.

Dalam bukunya, Bubandt memaparkan hasil pnelitian etnografi yang dilakukannya antara 2001—2002 di Maluku Utara dan Jawa Timur tentang kyai, blogger, politisi, sultan, dan nabi. Pembahasan Bubandt tentang tema-tema menarik tersebut dibingkai dalam kerangka kajian terhadap dunia politik dan dunia jin.

Artikel Lainnya:  FISIP UI Jajaki Kerjasama dengan Tongji University China

Buku ini memiliki lima bagian yang masing-masing berkisah tentang sosok-sosok politisi dan hubungannya dengan dunia gaib. Sosok pertama yang diceritakannya adalah Kyai Muzakkin asal Jawa Timur yang memiliki pesantren khusus jin dan mengirimkan pasukan jinnya untuk mengamankan demonstrasi anti korupsi di Jakarta. Kemudian Bubandt juga menceritakan tanggapan negatif para blogger tentang hal tersebut.

Selain itu, Bubandt juga berkisah tentang Sultan Ternate Ke-48, Mudaffar Sjah, yang mencalonkan diri sebagai gubernur kala itu. Setiap perintah sultan yang harus dipatuhi masih dianggap tabu dan mengakibatkan pesaing politik yang berusaha mengalahkannya dalam pemilihan gubernur Maluku Utara kemudian meninggal dunia. Bagian terakhir buku ini berkisah tentang Hajjah Nur yang mengaku sebagai nabi perempuan yang mendapat wangsit dari dunia jin (moro) untuk menemui Sultan Jailol dengan misi menemukan emas yang tersimpan di dalam tanah demi kemaslahatan umat manusia.

Artikel Lainnya:  Rapat Anggota Tahunan Koperasi Pegawai FISIP UI

Buku ini menjadi menarik untuk dibaca dan dibahas karena dapat membuka kajian baru terkait dunia gaib dan politik Indonesia. Buku karya Bubandt ini juga menjadi kajian etnografis berbeasis multi-sited etnography yang menarik dan menjadi gerbang bagi akademisi di bidang Antropologi untuk melakukan studi di bidang terkait.