Pilih Laman

Bedah Buku Karya Tulis Ilmiah Sosial. Menyiapkan, Menulis, dan Mencermatinya karya Prof. Yunita T Winarto (Dosen Dept. Antropologi FISIP UI) pada relaunching MBRC (Miriam Budiardjo Resource Center) yang diselenggarakan pada Selasa 14 Februari 2017. Bertempat di lantai 1 Gedung MBRC FISIP UI.

Dalam pembahasan Prof. Dr. Rahayu Surtiati Hidayat bahwa buku setebal 365 halaman, bahwa penyusunan dan penerbitan buku ini memerlukan  waktu begitu lama.  Ketiga belas babnya merupakan suatu karya yang patut diacungi jempol, apalagi merupakan kerja sama sekian banyak penulis yang sekaligus dosen dan peneliti dari dua bidang ilmu: Antropologi dan Sastra Indonesia.

Ada tiga lampiran yang menarik: (1) artikel kebudayaan dalam Wacana Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya, (2) artikel antropologi dalam Antropologi Indonesia. Mengingat kedua lampiran itu dan berbagai contoh dalam buku ini yang diambil dari tulisan ilmiah sosial dan budaya, mungkin lebih tepat buku ini diberi judul Karya tulis ilmiah humaniora karena istilah humaniora mencakup ilmu sosial dan ilmu budaya;

Buku ini merupakan langkah maju dalam penyuluhan tentang penggunaan bahasa Indonesia dalam karya ilmiah, wacana ilmiah yang semakin bertumbuh di kalangan ilmuwan. Sekarang, tata cara penulisan dan penggunaan bahasa Indonesia mendapat perhatian. Dulu dosen terbiasa mengatakan “yang penting isinya” meskipun saya tidak yakin bahwa kita berhasil memahami apa yang disampaikan oleh penulis atau peneliti dengan bahasa yang asal tulis. Semoga tidak ada lagi ilmuwan nonahli bahasa Indonesia yang berkata, ”urusan bahasa Indonesia biar ditangani orang sastra.” Buku ini akan menyadarkan peneliti atau penulis bahwa yang paling penting dalam menyusun karya ilmiah adalah “how to say it” (cara mengatakannya).  Sebagus apa pun hasil penelitian, jika penyampaiannya tidak berterima di kalangan pembaca, akan sia-sia. Mengingat buku yang lengkap ini terbit, kita juga boleh bermimpi bahwa pada suatu hari akan terbit Tulisan ilmiah teknologi dan sains, Tulisan ilmiah ilmu kesehatan.

Artikel Lainnya:  Perubahan Peta Politik di Malaysia dan Arah Demokratisasi: Perspektif Indonesia

Buku ini lebih lengkap dibandingkan lainnya yang membahas penulisan ilmiah. Biasanya, dalam buku penulisan ilmiah, segi praktis sangat ditonjolkan, sedangkan buku ini menggabungkan prinsip yang bersifat teoretis dengan tata cara yang bersifat praktis. Kita tahu bahwa bahasa Indonesia belum lama menjadi sarana komunikasi ilmiah, belum seratus tahun. Naskah Melayu yang merupakan cikal bakal tulisan berbahasa Indonesia tidak menampilkan karya ilmiah, tetapi hikayat. Semua peneliti dan penulis yang merintis pengembangan ilmu tertatih-tatih menulis dalam bahasa Indonesia karena mereka terbiasa menulis dalam bahasa Belanda. Kita yang meneruskan cita-cita mereka masih juga gamang menggunakan bahasa Indonesia karena pengaruh bahasa daerah dan belakangan ini pengaruh bahasa Inggris. Namun, membaca buku ini membuat saya optimis bahwa kita sudah menemukan bentuk karya ilmiah dalam bahasa Indonesia. Apalagi penulisan karya ilmiah yang khas ilmu sosial. Biasanya buku penulisan ilmiah bersifat umum, bahkan tidak membedakan penulisan yang positivistik dari yang naratif, atau membedakan penulisan kuantitatif dari yang kualitatif. Buku ini dengan jelas memaparkan karya ilmiah sosial sebagai awal dan saya melihat bab-bab selanjutnya menerapkan tata cara penulisan dalam lingkungan ilmu sosial.

Besar harapan saya, apabila diwajibkan membaca buku ini, mahasiswa akan memahami makna berpikir logis dan menuangkan gagasan dengan persiapan yang baik seperti yang dijelaskan dalam bagian II. Pengalaman saya mengampu mata kuliah penulisan ilmiah atau penulisan akademik selama ini memperlihatkan bahwa mahasiswa tidak dapat membedakan berargumen dari memaparkan. Mereka menulis makalah, artikel jurnal seperti menyusun diktat, menggurui. Menurut mereka, begitulah berargumen.

Artikel Lainnya:  Olimpiade Ilmu Sosial FISIP UI ke-13