Pilih Laman

Pusat Kajian Antropologi bersama Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) mengadakan peluncuran dan bedah buku berjudul “Krisis Pangan dan ‘Sesat Pikir’: Mengapa Masih Berlanjut?”. Buku ini adalah kumpulan dari beberapa tulisan peneliti yang fokus di bidang pertanian dan dikuratori oleh guru besar Antropologi Universitas Indonesia, Prof. Yunita T. Winarto. Peluncuran dan bedah buku diadakan di Auditorium Juwono Sudarsono pada Rabu  (20/9).

Dihadirkan sebagai pembedah adalah pakar-pakar di bidang pertanian dan antropologi dari berbagai kampus. Pertama adalah Prof. Dr. Andreas Dwi Santosa dari Institut Pertanian Bogor, kemudian Prof. Dr. Edhi Martono dari Universitas Gadjah Mada, dan Dr. Mia Siscawati dari Universitas Indonesia.

Artikel Lainnya:  Pemberdayaan Sektor Informal di Masa Pandemi Covid-19

Buku ini membahas tentang sesat pikir yang dialami pemerintah dan petani pada khususnya mengenai pemberantasan hama menggunakan pestisida. Banyak petani yang rela hutang dan kehilangan banyak harta hanya untuk membeli pestisida untuk menumpas hama, khususnya para petani padi sawah. Padahal petani disini dianggap hanya konstruksi dari program revolusi hijau di era orde baru. Keahlian dan insting tradisional petani dinegasikan sehingga harus menuruti sistem pertanian modern pada masa itu.

“Pada waktu itu petani-petani diposisikan sebagai objek kebijakan program revolusi hijau, bukan menjadi subjek. Padahal petani memiliki pengetahuannya sendiri berdasarkan tradisinya namun petani didorong untuk melakukan sistem pertanian modern,” jelas Dr. Mia Siscawati

Artikel Lainnya:  547 Mahasiswa Baru Program Sarjana diterima di FISIP UI

Buku ini ditulis secara holistik dan menyeluruh dari berbagai disiplin ilmu. Terdapat enam penulis yaitu C. (Kees) J. Stigter , James J. Fox, Y. Andi Trisyono, Yunita T. Winarto, Djokowoerjo Sastradipradja, dan Anny Sulaswatty.

“Membaca buku ini membutuhkan banyak referensi karena sangat lintas disiplin. Saya senang akhirnya tercipta buku-buku yang membuat pembaca mngerti secara komperhensif, holistik, dan menyeluruh, tidak hanya dari satu disiplin ilmu,” ucap Prof. Edhi Martono.