Kebijakan blokade yang dilakukan Amerika Serikat di Selat Hormuz dinilai tidak efektif dan berpotensi menjadi bumerang. Dalam dinamika terbaru, negosiasi putaran kedua justru diperkirakan akan semakin kompleks dan menekan posisi Washington, sementara Iran dinilai memiliki peluang memperkuat daya tawarnya di tingkat global.
Pengamat menilai kebijakan tekanan melalui blokade yang dilakukan Amerika Serikat merupakan bagian dari upaya mempertahankan pengaruh sekaligus mengurangi potensi kerugian strategis. Namun, langkah tersebut dinilai memiliki efektivitas yang rendah dalam praktik diplomasi internasional.
Menurut Asra Virgianita (Dosen dan Pengamat Hubungan Internasional FISIP UI) mengatakan bahwa penerapan sanksi ekonomi melalui blokade seperti ini memiliki rekam jejak yang lemah. “Dari berbagai kasus sebelumnya, kebijakan semacam ini sangat jarang efektif mencapai tujuan politik,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa langkah tersebut juga tidak lepas dari upaya membangun narasi politik. Amerika Serikat berupaya menempatkan diri sebagai penjaga keamanan di kawasan, sembari membingkai Iran sebagai aktor yang mengganggu stabilitas di jalur strategis tersebut.
Namun demikian, legitimasi narasi tersebut dinilai sulit terbangun tanpa dukungan internasional yang kuat. Asra menilai, salah satu kelemahan utama kebijakan ini adalah kecenderungan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump untuk bertindak secara unilateral.
“Tanpa dukungan sekutu dan komunitas global, kebijakan seperti ini akan sulit efektif,” jelasnya.
Sejauh ini, respons internasional terhadap blokade lebih banyak berupa kecaman, tanpa diikuti langkah konkret yang mampu memengaruhi kebijakan Washington
Peran Sekutu dan Skenario Respons
Dalam merespons situasi tersebut, negara-negara sekutu Amerika Serikat dinilai cenderung mengambil langkah-langkah penyeimbang. Di antaranya melalui peningkatan patroli keamanan, pengawalan kapal, hingga kemungkinan pemberian kompensasi ekonomi bagi negara terdampak.
Selain itu, diversifikasi jalur distribusi dan sumber energi juga menjadi opsi yang mungkin ditempuh untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz. Namun, langkah-langkah ini dinilai memiliki biaya ekonomi dan politik yang tidak kecil.
Di sisi lain, negara-negara di kawasan, termasuk Arab Saudi, diperkirakan tidak akan tinggal diam terhadap dampak kebijakan unilateral tersebut.
Peluang Iran dan Narasi Global South
Asra melihat kondisi ini justru membuka peluang bagi Iran untuk memperkuat posisinya. Kebijakan blokade dinilai berpotensi menjadi bumerang bagi Amerika Serikat, sekaligus memberi ruang bagi Iran untuk membangun narasi tandingan.
Iran dinilai dapat memanfaatkan momentum ini untuk menarik dukungan dari negara-negara netral maupun kelompok Global South. Narasi yang diangkat dapat menyoroti ketimpangan relasi global serta dampak kebijakan terhadap negara berkembang.
Dukungan tersebut menjadi penting, terutama dalam forum internasional seperti Dewan Keamanan PBB, meskipun mekanisme hak veto tetap menjadi tantangan tersendiri bagi Iran.
Meski demikian, secara umum Iran dinilai memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam situasi saat ini, didorong oleh meningkatnya simpati internasional serta kebingungan di kalangan sekutu Amerika Serikat.
Negosiasi Putaran Kedua Kian Kompleks
Terkait kemungkinan negosiasi lanjutan, Asra menilai bahwa putaran kedua justru akan lebih sulit dibandingkan sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh semakin luasnya dampak kebijakan, baik secara ekonomi maupun politik.
Strategi Amerika Serikat untuk membangun citra sebagai penjaga keamanan di Selat Hormuz dinilai tidak sepenuhnya berhasil, terutama karena berbenturan dengan kepentingan ekonomi negara-negara sekutunya sendiri.
Selain itu, berbagai opsi yang ditawarkan, seperti kompensasi ekonomi atau alternatif jalur distribusi, dinilai tidak mudah direalisasikan karena tingginya biaya yang harus ditanggung.
Tekanan Politik Domestik AS
Faktor domestik juga menjadi variabel penting dalam dinamika ini. Menjelang momentum politik seperti pemilu, Donald Trump harus mempertimbangkan dampak kebijakan luar negeri terhadap dukungan publik di dalam negeri.
Dalam kondisi tersebut, negosiasi putaran kedua justru berpotensi menempatkan Trump dalam posisi yang semakin tertekan.
Secara keseluruhan, kebijakan blokade di Selat Hormuz dinilai tidak hanya berisiko gagal mencapai tujuan, tetapi juga berpotensi melemahkan posisi Amerika Serikat di panggung internasional. Sebaliknya, Iran memiliki peluang untuk meningkatkan daya tawarnya melalui strategi diplomasi, penguatan narasi global, dan dukungan dari komunitas internasional.


