Select Page

Tradisi hari raya Idul Fitri di Indonesia menjadi momen yang begitu ditunggu setiap tahunnya. Sama seperti negara lainnya, Indonesia memiliki tradisi hari Raya Idul Fitri sendiri. Tradisi hari raya idul fitri menjadi salah satu hal yang paling dirindukan. Pada momen ini seluruh keluarga berkumpul dan bersukacita. Di Indonesia, Idul Fitri juga dikenal dengan istilah Lebaran. Kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia membuat perayaan Idul Fitri melebur menjadi sebuah tradisi yang unik dan menarik.

Dua tahun berturut-turut mudik Lebaran dilarang karena pandemi. Mudik adalah peristiwa kolosal tahunan yang menggerakkan masyarakat kembali ke akar hidupnya di kampung halaman. Perjalanan, pertemuan, kebaruan, kegembiraan, dan puncak ibadah.

Tahun 2022 ini pelonggaran kegiatan dan mobilitas telah menimbulkan harapan masyarakat untuk dapat mudik lebaran. Sambutan yang tinggi terlihat dari antusiasme warga ketika mereka melengkapi vaksinasi yang ketiga kalinya (booster) sebagai salah satu syarat perjalanan. Salah satu hal yang penting untuk diperhatikan adalah kemungkinan meledaknya jumlah pemudik.

Di perkirakan lebih separuh warga Jakarta akan pulang kampung. Selain dengan kendaraan umum, baik kereta maupun bus, moda kendaraan pribadi dipastikan akan mendominasi perjalanan mudik. Di fasilitasi dengan jalur jalan tol yang sudah menghubungkan kota-kota utama di Jawa dan sebagian Sumatra, volume perjalanan darat dipastikan meningkat.

Untuk mengantisipasi masalah lalulintas sekaligus meningkatkan keamanan mudik, Direktur Keamanan dan Keselamatan, Korlantas Polri, Prof. Dr. BJP. Chryshanda Dwilaksana menghimbau para pemudik untuk amat memperhatikan keselamatan di jalan raya. Pengguna jalan arteri maupun jalan tol harus memperhitungkan kemungkinan macet, emosi yang meninggi di jalan, kelelahan, kecelakaan, dsb.

“Dari data yang saya peroleh, sebagian masyarakat Indonesia akan menggunakan tol, maka dari kepolisian dan pemangku kebijakan memikirkan bahwa nantinya kemacetan di jalan tol akan berdampak luas, seperti contohnya kejadian Brexit tahun 2016 lalu, bukan hanya masalah lalu lintas dan transportasi saja tetapi ini juga menjadi masalah sosial dan kemanusiaan. Ketika kemacetan terjadi dijalan tol maka menjadi sangat rumit apalagi sampai memakan korban jiwa,” ujar Chryshanda pada kuliah umum Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI): Mudik Lebaran 2022, Selasa (26/04).

Di sisi lain ia mengungkapkan bahwa, ketika lalu lintas meningkat dapat dipahami sebagai gerak pindah sebenarnya dan menunjukan adanya suatu urat nadi kehidupan. “Perilaku berlalu lintas ini merefleksikan dari budaya bangsa dan lalu lintas ini boleh dikatakan juga cermin dari tingkat modernitas. Artinya memang lalu lintas ini selalu meningkat dan menyesuaikan dengan kemajuan zaman,” ucapnya.

Lebih lanjut Chryshanda menjelaskan, “maka dari itu kepolisian membuka banyak pos di seluruh Indonesia selama mudik, yaitu pos kemanan, pos kesehatan, pos pelayanan dan pos terpadu. Kepolisian satlantas juga membuka pelayanan virtual melalui digital maps di kawasan-kawasan yang menjadi penyebab kemancetan ataupun kawasan rawan kecelakaan melalui monitoring National Traffic Management Center (NTMC) dan petugas lapangan.”

Kegiatan yang sudah dilakukan pada operasi ketupat tahun 2022 ialah survey ruas jalan tol, jalan arteri, tempat wisata, pelabuhan dan kegiatan koordinasi dengan stakeholder. Untuk menindak lanjuti kegiatan tersebut tentunya kepolisian satlantas sudah menentukan rekayasa lalu lintas seperti ganjil genap dan oneway serta mensosialisasikan melalui media massa. Targetnya adalah untuk kelancaran yang lebih baik, keselamatan dengan menurunnya angka fasilitas korban kecelakaan dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan pengetatan protokol kesehatan.

Chryshanda juga menghimbau kepada pemudik untuk siap kendaraan, siap fisik dan mental, kesehatan, BBM, saldo e-toll serta bekal untuk perjalanan dan istirahat secukupnya di rest area ketika melakukan mudik. Hal tersebut bertujuan agar tidak terjadi penumpukan.

Dalam sambutannya Dekan FISIP UI Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto mengatakan, “lebaran merupakan momentum pulang kampung yang melibatkan jutaan orang, tentunya merupakan suatu kerumunan yang luar biasa besarnya. Momentum ini sudah dinantikan oleh masyarakat Indonesia selama dua tahun, euphoria atau kesenangan yang luar biasa untuk bisa bertemu keluarga dikampung halaman. Kali ini mudik bukan hanya sekedar tradisi sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Kebijakan penyelenggarakan mudik lebaran kali ini terkait dengan laju virus Covid-19 yang beberapa terkahir ini angkanya. Kita berharap beberapa bulan kedepan sudah bisa hidup normal kembali dengan menerapkan new normal.”

Prof. Paulus Wirutomo (Dosen Departemen Sosiologi FISIP UI) menjelaskan bahwa Dari sisi sosiologi mudik itu fenomena sosial bagi banyak negara terutama bagi Indonesia. Untuk menjelaskan secara sosiologis bagaiaman suatu gejala tersebut secara sistemik dan holistik dipengaruhi oleh kondisi kultural, struktural, proses sosial.

“Kondisi kultural banyak sekali akarnya yaitu seperti sistem nilai mengenai persaudaraan dalam mudik. Kemudian hubungan dengan orang tua. Begitu kuatnya dorongan ini untuk orang mudik dan tradisi lain seperti agama. Terkait pola sikap dan perilaku mengenai kedisplinan dan etos para aparat. Para polisi kita ditopang oleh teknologi dsb. Menurut saya mudik ini akan bertahan dan berkembang menjadi aspek yang lebih luas,” ujar Prof. Paulus.

Lebih lanjut ia mengatakan, “secara struktural yaitu kita melihat masyarakat terbentuk dari stratifikasi bawah, menengah, atas. Dan tradisi ini mencakup seluruh stratifikasi tersebut. Yang beragama apapun akan ikut mudik, diferensiasi sosial mencakup juga. Tatanan tadi diatur yang kita sebut instrumen seperti peraturan atau kebijakan pemerintah hiingga kondisi jalan yang diatur hingga perilaku manusia menjadi  lebih baik. Fasilitas juga diperhatikan seperti banyaknya toilet dan rambu lalu lintas.”

Kondisi proses sosial, di masyarakat ada interaksi yang saling mempengaruhi bahkan ada negosiasi merupakan dinamika interaksi yang perlu diatur seperti komunikasi. Adanya psikologi massa kalo misla ada satu oirang tertekan karena situasi itu makan jadi psikologi massa dan masalah sosial yang besar. Gerak dari mudik ini akan mendorong urbanisasi.

Mudik adalah kebudayaan Indonesia di seluruh nusantara ini dan itu tidak akan hilang dan akan berkembang dismepurnakan dan bukan kultur satu kelompok masyarakat tapi bersifat multikultural. Mudik juga jalan peradaban bangsa Indonesia di masa depan. Pemerintah telah melakukan usah pentaan dan fasilitasi secara baik. Tapi masyarakat harus ikut membantu menunjang dengan kepatuhan yang beradab.

Johanna Debora Imelda, MA., Ph.D. (Ketua Program Studi Pascasarjana Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI) melihat mudik sebagai reproduksi sosial. “Penggantian struktur sosial dengan satu format baru yang mirip dengan yang asli sehingga system sosial dapat berlangsung terus. Proses untuk melestarikan atau melanggengkan karakteristik struktur sosial tertentu atau tradisi tertentu selama periode tertentu juga. Tetapi reproduksi sosial juga melahirkan tatanan dan stuktur sosial yang berubah. Mudik sebagai reproduksi sosial akan melahirkan masalah baru yang harus diantisipasi.”

Selain itu, Johanna menjelaskan bahwa masalah potensial yang akan terjadi yaitu kerumunan massa di rest area maupun destinasi wisata, kerumunan ini akan rentan terpapar Covid-19. Selain itu adanya kerentaan resiko sosial seperti konflik antar pemudik dan penyedia layanan. “Pelayanan sosial yang harus dilakukan untuk antisipasi resiko sosial adalah cepat dan tanggap terhadap subjective dissatisfaction, ketidak-puasan masyarakat akibat tekanan menjadi potensial terhadap kerusuhan.”

Dr. Phil. Imam Ardhianto (Ketua Program Studi Sarjana Departemen Antropologi) menjelaskan beberapa isu krusial yaitu paradoks tradisi kembali atau mudik harus dipikirkan dan diantisipasi, memenuhi nilai pertalian kekerabatan tanpa penularan covid, bisa dilakukan dengan aman dan sehat. Dibangunnya infrastruktur baru maka akan ada mobilitas yang tinggi, penanganan Crowding-Practices dan aglomerasi kota-kota di Jawa sebagai urban island, konsekuensinya bagaimana mengidentifikasi mobilitas antar wilayah sesudah pemudik di tempat tujuan.