Select Page

Saat  ini nilai-nilai Pancasila dirasakan mulai terabaikan oleh masyarakat terutama dari kalangan generasi muda. Nilai pancasila yang sebagaimana mestinya menjadi pandangan hidup, dasar negara, pemersatu bangsa, sekarang sudah hampir tidak ada arti lagi.Hal itu dapat kita lihat dari banyaknya kejadian dan peristiwa yang bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Maka dari itu Forum Kebangsaan Universitas Indoensia mengadakan diskusi yang bertajuk “Penyusunan Startegi Kebudayaan untuk Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan” yang dilakukan di kampus FISIP UI (04/03).

Menurut pandangan Dekan FISIP UI, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto bahwa memudarnya  nilai nilai pancasila terutama di kalangan anak muda perkotaan itu sebuah kekhwatiran dari generasi tertentu saja misalnya generasi senior terhadap anak muda Tetapi setelah kita amati bahwa anak muda itu mempunyai tafsir  sendiri mengenai apa yang ada di sekitar mereka termasuk  pemahaman pancasila.

“Saat ini jika kita abstraksikan sebetulnya anak muda sudah mempunyai prinsip-prinsip  dasar pancasila, misalnya beberapa anak muda secara spontan melakukan aksi solidaritas untuk teman-temannya yang  mengalami kesulitan melalui penggalangan dana di media sosial dan itu merupakan praktik pengamalan pancasila yang  dilakukan sehari-hari oleh para anak muda saat ini. Crowdfunding  yang dilakukan anak muda sekarang inilah yang benar-benar aktualiasi dari pancasila yang banyak kita jumpai dalam kehidupan keseharian.” Ujar Dekan FISIP UI.

“Hal-hal yang terkait Ketuhanan dan toleransi anak muda  sangat memahaminya contoh interaksi anak muda di media sosial seperti ucapan selamat memperingati hari raya pada teman-teman mereka yang beragama berbeda itu sangat banyak kita jumpai dan dilakukan dengan cara mereka, mungkin buat generasi senior dianggap enteng tapi itu adalah bagian dari ekspresi toleransi yang sebenarnya bisa kita anggap sebagai manifestasi prinsip pertama dari pancasila. Upaya untuk lebih mengkontekstualisasikan pancasila di kalangan anak muda harus sesuai dengan kondisi yang ada sekarang dan diskusi ini antara lain membahas  siapa yang berhak untuk memberikan tafsir mengenai pancasila yang nanti akan dirumuskan dan ditujukan pada kaum muda.”

“Kita mempunyai BPIP suatu lembaga  negara yang punya kewenangan mengkotekstualisasasikan nilai pancasila.Tapi jika semuanya diserahkan kepada BPIP maka akan timbul seperti medominasi. Sedangkan generasi muda sekarang jika ada hal-hal  yang tidak disukai akan mudah publish seperti bikin status kemudian dibaca dan di-amplified di media sosial. Jadi tafsir oleh suatu lembaga tunggal harus kita pikirkan ulang. Kita memerlukan lembaga lain untuk menafsirkannya dan diskusi ini merujuk pada peran Universitas. Maka UI berperan membumikan arah pada upaya tafsir pada pancasila supaya lebih kontekstual. Selain negara, perguruan tinggi, civil society, dan pers, yang kita harapkan sama-sama meremajakan pancasila” Ujar Dekan FISIP UI.

Menurut Prof. Semiarto Aji Pirwanto bahwa di masa lalu kita mempunyai film Unyil sebagai upaya sosialisasi yang dianggap membumi dan mudah dipahami seperti nilai gotong royong dan toleransi. Kita bisa lihat konteksnya pada masyarakat tradisional. Kalo kita bicara mengenai gotong royong kepada masyarakat di perkotaan  tidak akan terbayang, tetapi jika yang dicontohkan misalkan  crowdfunding seperti yang dilakukan anak muda masa kini maka akan mudah memahaminya. Meminta anak muda untuk tepo seliro agak susah dibayangkan barangkali mereka lebih familiar istilah yang lebih global.

Senada dengan pandangan dekan FISIP UI menurut Dr. Bondan Kanumoyoso ( Dekan FIB UI) mengatakan bahwa penguatan nilai-nilai pancasila sebetulnyasudah dijalankan para kaum muda tanpa kita sadari sepenuhnya, misal ketika mereka menolong sesama dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini dan inisiasi untuk isu-isu lingkungan jadi inilah nilai nilai positif yang sebetulnya sudah dijalankan anak-anak muda.

 

 

Sedangkan menurut pendapat Dr. Ngatawi Al-Zastrow (Kepala UPT Makara Art Center UI) mengatakan bahwa di media sosial itu ajang pertarungan atau kontestasi narasi caranya mengintesifkan konten yang terkait dengan kebangsaan dengan bahasa dan tampilan visual yang menarik, contoh ketika narasi-narasi kebencian yang berlebihan itu muncul di media sosial secara masif dan tiba tiba hadir ke publik sosok seperti Gus Baha yang bisa menarasikan agama secara biasa tapi kelebihannya menyajikan referensi dan kontruksi berpikirnya yang menarik.  Berkaca kepada narasi Gus Baha maka kalangan awam  harus buat narasi-narasi yang meng-counter  dengan logika sederhana dan dapat mudah diterima. Karena kelemahan kita saat ini adalah menjelaskan pancasila dengan cara yang abstrak dan tidak menarik padahal banyak sekali narasi yang bisa kita munculkan bahwa itu bisa menjadi hal yang konkrit dan menarik.

Banyak komunitas-komunitas yang bekerja yang terkait dengan kebangsaan tetapi tidak di-mainstreaming-kan, contohnya adalah di desa Buntu Wonosobo dalam  satu keluarga bisa berbagai agama yang dipeluknya dan di desa tersebut hanya ada dua buah Taman Kanak-Kanak yakni NU dan Muhammadyah. Anak-anak kecil yang berlatarbelakang agama yang berbeda sekolah di kedua TK tersebut. Jadi sejak kecil ruang kebangsaan itu sudah ada, nah ini perlu diadvokasi untuk di-mainstreaming-kan.

Tetapi jika yang melakukan sosialisasi adalah Pemerintah, maka akan ada kecenderungan orang-orang menafsirkan secara politis sehingga orang menjadi alergi, dan sebaiknya Pemerintah bisa mendukung lembaga diluar pemerintah yang melakukan sosialisasi nilai-nilai Pancasila tersebut.