Pilih Laman

Jumat (20/7) Universiti Malaysia Serawak melakukan kunjungan ke Departemen Ilmu Hubungan Internasional sebagai kegiatan akhir sebelum menutup semester berjalan. Acara ini berlangsung di Auditorium Anak Nusantara, pada pukul 09.00 WIB.

Turut hadir Drs. Awang Ruswandi, M.Si selaku Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Ventura dan Administrasi Umum dan Dr. Drs Fredy Buhama Lumban Tobing M.Si., selaku Kepala Departemen Ilmu Hubungan Internasional.

Dalam sambutannya, Drs. Awang Ruswandi, M.Si, menyampaikan terima kasih atas kunjungan Universiti Malaysia Serawak. Beliau berharap kedepannya, kunjungan ini sebagai awal dari kerja sama yang berkelanjutan antara Departemen Ilmu Hubungan Internasional  dan Universiti Malaysia Serawak baik di bidang penelitian maupun bidang pendidikan.

Artikel Lainnya:  FISIP UI Raih Peringkat 2 Fakultas Hijau Terbaik UI Greenmetric

Selanjutnya, selaku Kepala Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Dr. Drs. Fredy Buhama Lumban Tobing M.Si. menyampaikan sambutan berupa pengenalan secara umum mengenai Universitas Indonesia dan Departemen Ilmu Hubungan Internasional.

Selain memberi sambutan, Dr. Drs. Fredy Buhama Lumban Tobing M.Si. juga memberikan overview mengenai Indonesia dan sejarah diplomasi Indonesia dari masa ke masa. Penting untuk melihat dinamika hubungan internasional dari sisi historis, karena studi hubungan internasional tidak bisa lepas—bahkan dibangun—dari pengetahuan akan peristiwa-peristiwa di masa lalu.

Dimulai dari pengenalan mengenai ibu kota negara, etnis, agama, sampai pada presiden yang pernah memimpin Indonesia. Lalu, pemaparan dilanjutkan dengan dinamika hubungan internasional Indonesia sejak Masa Kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi.

Artikel Lainnya:  Menelaah Tren Terorisme di Indonesia dari Masa ke Masa dan Cara Penanganannya

Berbagai dinamika itu menunjukkan Indonesia sebagai salah satu aktor yang aktif dalam panggung diplomasi global sebagai pencetus berbagai konferensi yang melahirkan organisasi global yang berpengaruh. Salah satunya adalah Konferensi Asia-Afrika yang melahirkan Gerakan Non-Blok sebagai realisasi pandangan politik Bebas-Aktif yang dikemukakan dalam pidato Wakil Presiden Indonesia Ke-1, Drs. Mohammad Hatta yang berjudul Mendayung di Antara Dua Karang.

Setelah sesi overview, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan menjalani diskusi bersama membicarakan kebudayaan Indonesia. Terakhir, kegiatan ditutup dengan permainan bakiak bersama mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional dan mahasiswa dari Universiti Malaysia Serawak.