Pilih Laman

Media sosial telah mengubah cara public relations berkomunikasi dengan audiensnya dan membawa public relations pada perubahan dari Traditional PR menjadi Digital PR. Digital PR mentransformasi informasi yang statis menjadi percakapan langsung dengan audiensnya melalui sosial media. Jika seorang Public Relations tidak mampu mengembangkan dirinya menjadi seorang Digital PR maka akan sangat sulit dalam mengkomunikasikan dan mempertahankan citra positif perusahaan atau organisasi.

Berkomunikasi melalui media sosial tidak hanya sekadar mempublikasikan keperluan perusahaan atau organisasi, melainkan juga menjadi mulut dan telinga yang mendengarkan dan menjawab kebutuhan audiens. Maka dari itu sangat penting bagi seorang Digital PR untuk merencakan strategi dalam membuat konten media soial yang dapat menarik audiens. Strategi media sosial berperan besar dalam menentukan konten yang akan dikomunikasikan sehingga dapat dipastikan seluruh konten di media sosial tepat dalam menjawab kebutuhan audiens.

Artikel Lainnya:  Kuliah Umum: Prof.Dr.Saskia Wieringa; Perkosaan, kekuasaan dan patriarki

Menjawab tantangan atas kebutuhan dan pentingnya Digital PR serta strategi perencanaan sosial media, Rabu (27/4/2016), bertempat di Auditorium Pusat Studi Jepang, Kampus UI Depok, diselenggarakan workshop PR Vaganza 2016. Kegiatan yang mengundang Lucas Suryanata (Senior Manager Burson-Marsteller Indonesia) sebagai narasumber ini merupakan bagian dari rangkaian Pekan Komunikasi 2016.

Workshop yang mengangkat tema “Digital PR 101: Social Media Strategic Planning” ini membahas mengenai Digital PR dan media sosial, mulai dari penentuan bentuk platform media sosial yang digunakan, hingga evaluasi performanya.

Kegiatan workshop dibagi ke dalam tiga sesi. Sesi pertama “Introduction: The Necessity of Social Media for an Organization.” Sesi ini menjadi pembuka kegitan workshop. Pada sesi pertama membahas pentingnya media sosial bagi sebuah organisasi atau perusahaan, dan fakta bahwa tidak semua platform media sosial tepat digunakan untuk menjangkau target audience. Di sesi ini juga dipaparkan bahwa pada dasarnya seorang Public Relations harus memahami terlebih dahulu apakah organisasi atau perusahaan yang mereka tangani memang membutuhkan media sosial, kemudian pada tahap berikutnya menentukan platform yang tepat untuk menjangkau target audiens. Selain itu sesi ini juga membahas mengenai pertimbangan-pertimbangan apa saja yang harus diperhatikan oleh Public Relations dalam mempersiapkan strategi media sosial.

Artikel Lainnya:  Prof. Valina Singka Sarankan Sistem Pemilu Proporsional Tertutup Pada 2024

Tema pada sesi kedua ialah “How to Make Your Content Rise Above The Noise?” Setelah peserta diberikan pemahaman tentang dasar atau fondasi strategi media sosial, pada sesi ini peserta diberikan pengetahuan dasar mengenai perencanaan strategi media sosial. Mulai dari strategi dalam menentukan platform media sosial yang sesuai dengan target audiens, memilah informasi yang akan dikomunikasikan, hingga mengembangkan informasi menjadi konten yang sesuai dengan platform media sosial yang digunakan. Sesi ini juga diisi dengan diskusi mengenai cara membuat konten media sosial (teks, video, dan infografis) yang komunikatif dan searchable.

Sesi terakhir “Evaluation: KPI for Your Social Media Performance.” Key Performance Indicator (KPI) merupakan matriks yang digunakan untuk mengukur seberapa baik performa perusahaan, unit bisnis, proyek, atau individu jika dibandingkan dengan tujuan strategi dan objektif yang telah ditentukan. Pada sesi ini dibahas mengenai cara mengevaluasi efektivitas dari media sosial yang digunakan, cara membuat KPI, dan mengevaluasi konten. Materi mengenai pembuatan KPI menjadi sangat penting untuk disampaikan karena seorang Public Relations selain mampu membuat strategi media sosial juga harus mampu mengetahui cara mengukur performa dari strategi yang telah diterapkan dengan mendesain KPI.

Artikel Lainnya:  “Meretas Batas Ilmu” Sebuah Karya Perjalanan Intelektual Guru Besar Sosial Humaniora

Pekan Komunikasi 2016