Nurul Eka Hidayati resmi meraih gelar Doktor Ilmu Kesejahteraan Sosial dari Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), pada sidang promosi doktor yang diselenggarakan Selasa (20/05) di Auditorium Juwono Sudarsono.
Dalam disertasinya yang berjudul “Lintasan Kehidupan Dewasa Penyintas Kekerasan Seksual Masa Kanak-Kanak: Sebuah Studi Kualitatif,” Nurul menyoroti dampak jangka panjang kekerasan seksual masa kanak-kanak atau Child Sexual Abuse (CSA) terhadap kehidupan penyintas saat dewasa.
Nurutl mengatakan bahwa penelitian ini berangkat dari pemahaman bahwa trauma akibat CSA tidak hanya merupakan persoalan individual, tetapi juga dibentuk oleh interaksi antara individu dengan lingkungan sosialnya. Dalam perspektif Ilmu Kesejahteraan Sosial, pengalaman trauma dipengaruhi oleh relasi sosial, dukungan lingkungan, hingga respons institusi terhadap penyintas.
“CSA sendiri didefinisikan sebagai segala bentuk pelecehan seksual, eksploitasi, atau penganiayaan terhadap anak di bawah usia 18 tahun yang dilakukan oleh individu yang memiliki posisi kuasa atau tanggung jawab terhadap kesejahteraan anak. Fenomena ini kerap tidak terlaporkan secara memadai akibat stigma sosial, relasi kuasa yang timpang, serta keterbatasan akses terhadap layanan dan mekanisme pelaporan,” jelas Nurul.
Melalui penelitian ini, Nurul berupaya memahami dinamika kehidupan penyintas dewasa CSA dengan menelaah keterkaitan antara faktor risiko, faktor protektif, mekanisme koping, dan respons trauma dalam kerangka Person-in-Environment (PIE) dan paradigma keberfungsian sosial.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif eksplanatif dengan desain studi kasus terhadap delapan partisipan dewasa berusia 34–50 tahun yang mengalami CSA sebelum usia 18 tahun. Data diperoleh melalui wawancara mendalam.
Nurul mengatakan, “hasil penelitian menunjukkan bahwa respons trauma berkembang secara dinamis dan dipengaruhi oleh relasi antara pengalaman personal, dukungan sosial, respons institusional, serta struktur sosial di sekitar penyintas. Dampak trauma tidak hanya muncul pada aspek psikologis dan relasional, tetapi juga berkaitan erat dengan kualitas respons sistem terhadap kebutuhan penyintas.”
Menurutnya, temuan penelitian menegaskan bahwa proses pemulihan tidak semata bergantung pada resiliensi individu, melainkan juga pada tanggung jawab sistem sosial dalam menyediakan dukungan yang aman, responsif, dan berkeadilan bagi penyintas.
Melalui disertasi ini, Nurul menekankan pentingnya pendekatan ekologis lintas sistem dalam praktik maupun kebijakan pekerjaan sosial untuk penanganan dan pendampingan penyintas kekerasan seksual masa kanak-kanak.
Dengan capaian tersebut, Nurul Eka Hidayati diharapkan dapat memperkuat kontribusi akademik dan praktik Ilmu Kesejahteraan Sosial, khususnya dalam pengembangan kebijakan dan layanan berbasis trauma bagi penyintas kekerasan seksual anak.




