Pilih Laman

Sebanyak 10.000 petani tembakau berkumpul di lapang bola Desa Maron, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Temanggung pada Kamis, 26 April 2012. Mereka berkumpul dan mengisap rokok keretek bersama-sama. Para petani tersebut berkumpul untuk merayakan deklarasi berdirinya “laskar keretek”, sebuah perkumpulan petani sebagai sarana perlawanan terhadap rancangan Rencana Peraturan Pemerintah (RPP) Anti Tembakau tahun 2009. Selain mengisap keretek, mereka juga menata sesajen serta melakukan doa dengan kidung-kidung dan nyanyian Jawa.

Mohamad Sobary melihat fenomena tersebut sebagai hal yang menarik. Mahasiswa program doktoral dari Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial itu lantas berusaha mengkajinya dalam disertasi berjudul “Perlawanan Politik dan Puitik, Ekspresi Politik Petani Temanggung.” Disertasi tersebut diujikan di hadapan dewan penguji pada Selasa, 23 Januari 2016 di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI.

Artikel Lainnya:  Hubungan Internasional dalam Era Disrupsi

Melalui disertasi ini, Mohamad Sobary berusaha menggambarkan gerakan perlawanan petani tembakau terhadap kebijakan pemerintah pusat yang telah mengeluarkan peraturan yang tidak mengakomodasi kepentingan petani. Sobary melihat bahwa perlawanan petani dicerminkan bukan hanya dengan aksi politik, namun juga perlawanan puitik melalui tari-tarian, kidung-kidung doa serta tari-tarian.

Mohamad Sobary meneliti dengan menggunakan metode grounded theory serta metode interpretatif untuk melihat representasi dan ekspresi puitik para petani Temanggung dalam melakukan perlawanan. Sobary melihat bahwa perlawanan petani Temanggung melalui mantra, doa, kidung, tari dan ritus serta sajen memiliki makna yang kompleks dan kaya akan wisdom dan estetika. Maka dari itu, studi interpretasi dilakukan agar memahami apa, mengapa dan bagaimanakah perjuangan yang dilakukan oleh petani tembakau di Temanggung dalam melawan RPP Anti Tembakau.

Artikel Lainnya:  Peradilan Online dan Isu Fair Trial

Disertasi ini bertujuan memperoleh informasi mengenai kehidupan para petani melalui pemahaman atas simbol-simbol dari gerakan perlawanan yang mereka lakukan. Selain itu, tujuan birokratis berusaha dicapai dalam hal memberikan pemikiran alternatif kepada birokrasi pemerintahan dan mengingatkan agar orientasi kebijakan publik dibuat untuk kepentingan publik.

Hasilnya, Mohamad Sobary menemukan bahwa perlawanan para petani dalam memperoleh keadilan dalam kebijakan publik bukan semata untuk kepentingan mereka pribadi, melainkan – Sobary menulis – “untuk memperjuangkan secara lebih substansial pelaksanaan demokrasi di negeri ini”. Sobary mencatat bahwa perlawanan petani tidaklah semata demi kemenangan, melainkan untuk mengajak berdialog, membangun suatu wacana, agar bisa ditemukan jalan keluar yang memenangkan semua pihak. Melalui perlawanan puitik, para petani Temanggung memancarkan aura yang disebut Sobary sebagai aura religio-magisme yang menunjukan perjuangan dengan kesungguhan dan secara mendalam.

Artikel Lainnya:  Indonesia dan Perlombaan Persenjataan di Asia

Promosi doktor ini dipromotori oleh Prof. Bambang Shergi Laksmono serta Ko-promotor Prof. Dr. Paulus Tangdilintin. Disertasi Mohamad Sobary diujikan di depan dewan penguji yang beranggotakan Prof. Dr. Ahmad Fedyani Saefuddin dan Prof. Dr. Mudji Sutrisno.