

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) secara resmi mengukuhkan Dewi Kumoratih sebagai Doktor Antropologi dalam sidang promosi doktor yang digelar di Auditorium Juwono Sudarsono, Kampus UI Depok, Senin (22/12).
Dalam sidang tersebut, Dewi mempertahankan disertasinya yang berjudul “Governmentality dalam Kreativitas: Intervensi Negara terhadap Kebijakan Ekonomi Kreatif”. Disertasi ini mengkaji kreativitas sebagai praktik korespondensi yang menjadi arena kontestasi sekaligus akumulasi nilai, serta dampaknya terhadap dinamika relasi sosial dalam konteks kebijakan ekonomi negara.
Penelitian Dewi berfokus pada proses kreatif kolaboratif antara desainer dan komunitas lokal dalam program percepatan ekonomi kreatif yang bertujuan memberdayakan potensi budaya setempat.
Ia menyoroti asumsi para pengampu kebijakan yang memandang nilai praktik kolektif tersebut dapat diakumulasikan melalui skema hak kekayaan intelektual (HKI) dan direalisasikan melalui teknikalisasi kebijakan dalam struktur kelembagaan berbentuk koperasi.
“Penelitian ini mengungkap kompleksitas relasi sosial yang muncul ketika kreativitas kolektif ditempatkan dalam kerangka kebijakan ekonomi kreatif yang sangat teknokratik,” ujar Dewi dalam pemaparannya.
Secara metodologis, penelitian ini menggunakan etnografi multi-situs dengan pendekatan antropologi desain, yang memungkinkan peneliti terlibat langsung dalam proses kreatif untuk menginvestigasi relasionalitas antar pelaku kreatif.
Lokasi penelitian berfokus pada koperasi desainer serta komunitas lokal di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, sebagai ruang tempat berjalinnya interaksi antara kebijakan, praktik kreatif, dan relasi sosial.
Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, kekuasaan dan kreativitas saling berkelindan dalam pembentukan subjek neoliberal yang terus menegosiasikan kebebasan kreatif dan kepengaturan. Kedua, praktik korespondensi memperlihatkan adanya kesenjangan epistemologis yang memicu ketegangan nilai antara kreativitas lokal dalam kerangka desain dan logika pasar. Ketiga, intervensi negara melalui teknikalisasi kebijakan dan mekanisme HKI memunculkan kerentanan sistemik serta bentuk baru prekariasi kreatif, yang menempatkan kreativitas organik dalam negosiasi dengan rasionalitas teknokratik.
Sidang promosi ini menegaskan kontribusi keilmuan Dewi Kumoratih dalam memperkaya kajian antropologi, khususnya terkait relasi antara kreativitas, kebijakan publik, dan kekuasaan dalam konteks ekonomi kreatif di Indonesia.


