Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) kembali meluluskan doktor melalui Sidang Promosi Terbuka Program Doktor Ilmu Antropologi yang diselenggarakan pada (3/8) di Auditorium Juwono Sudarsono, Kampus FISIP UI, Depok.

Pada kesempatan tersebut, Rhino Ariefiansyah resmi meraih gelar Doktor Ilmu Antropologi setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Negosiasi Masa Depan Orang Punan: Intervensi Negara, Gereja, Perusahaan, NGO, dan Politik Ruang Hidup di Hulu DAS Sesayap, Kalimantan Utara.”

Disertasi Rhino mengkaji cara komunitas Orang Punan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Sesayap, Kalimantan Utara, menghadapi berbagai perubahan akibat intervensi negara, gereja, perusahaan, organisasi non-pemerintah (NGO), serta proyek pembangunan.

Penelitian ini menempatkan Orang Punan bukan sebagai kelompok yang berada di luar arus modernitas, melainkan sebagai masyarakat yang secara aktif berhadapan dengan dan merespons berbagai perubahan yang membentuk ruang hidup mereka.

Penelitian menggunakan pendekatan patchwork ethnography melalui kunjungan lapangan berulang pada 2022–2025 di sejumlah komunitas Punan di Sungai Malinau, Sungai Tubu, dan Sungai Mentarang. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, percakapan informal, komunikasi digital, serta analisis dokumen kebijakan, laporan proyek, arsip, dan literatur akademik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa depan bagi Orang Punan hadir dalam berbagai bentuk konkret, mulai dari program pemukiman kembali, penginjilan, pendidikan, perhutanan sosial, konservasi, pertambangan, pembangunan bendungan, hingga infrastruktur digital.

Berbagai intervensi tersebut membawa janji mengenai kehidupan yang lebih baik, tetapi sekaligus berpotensi mengubah hubungan masyarakat dengan hutan, sungai, tanah, serta sistem pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.

“Temuan penelitian menunjukkan bahwa Orang Punan tidak sekadar menerima ataupun menolak berbagai proyek pembangunan yang datang. Mereka menegosiasikan masa depan secara selektif melalui berbagai strategi, mulai dari menyesuaikan diri, memanfaatkan peluang, hingga menghidupkan kembali pengetahuan lokal,” jelas Rhino. “Namun, kemampuan tersebut dijalankan dari posisi sosial-politik yang tidak setara karena sejarah panjang marginalisasi dan keterbatasan akses terhadap sumber daya.”

Penelitian juga memperlihatkan bahwa proses negosiasi masa depan sangat dipengaruhi relasi kuasa antaraktor. Negara menghadirkan administrasi, pendidikan, dan program pemukiman; gereja membawa perubahan nilai dan moralitas; NGO menawarkan agenda konservasi dan pengakuan hak; sedangkan perusahaan memperkenalkan aktivitas pertambangan, pembangunan jalan, hingga proyek bendungan. Setiap aktor membawa visi masa depan yang berbeda dan berupaya membentuk kembali ruang hidup Orang Punan.

Salah satu kontribusi penting penelitian ini adalah pengenalan konsep lokal langit tokan dan tanoq tokan sebagai cara Orang Punan memahami perubahan ekologis dan sosial. Konsep tersebut menggambarkan dunia yang “menua sebelum waktunya”, ditandai kerusakan sungai, menyusutnya hutan, semakin tandusnya tanah, hilangnya satwa buruan, serta perubahan tanda-tanda alam yang selama ini menjadi pedoman kehidupan.

“Disertasi ini menunjukkan bahwa langit tokan dan tanoq tokan bukan hanya cara Orang Punan menggambarkan kerusakan lingkungan, tetapi juga menjadi cara mereka memahami perubahan dunia dan menilai masa depan yang sedang dipertaruhkan,” ujar Rhino.

Menurutnya, perspektif tersebut menunjukkan bahwa masyarakat adat memiliki cara sendiri dalam mengonseptualisasikan waktu, perubahan, dan harapan.

Disertasi ini sekaligus memperkaya kajian antropologi mengenai masa depan dengan menempatkan masyarakat adat sebagai subjek aktif dalam merundingkan perubahan. Temuan penelitian diharapkan dapat menjadi masukan bagi perumusan kebijakan pembangunan, pengelolaan sumber daya alam, serta pengakuan terhadap pengetahuan lokal yang lebih memperhatikan posisi, hak, dan pengalaman masyarakat adat dalam menentukan masa depan ruang hidupnya.