Select Page

Disertasi ini mendiskusikan gejala sosial kembalinya kebaya sebagai busana nasional setelah mengalami masa ‘kehilangan’ seusai reformasi tahun 1998 akibat terjadinya perubahan struktur sosial politik bersamaan dengan keruntuhan Orde Baru. Struktur sosial politik berperan penting dalam perjalanan eksistensi kebaya sehingga ketika negara tidak hadir dalam pemosisian kebaya, maka para aktor yang berasal dari masyarakat mengambil alih peran ini, misalnya perancang mode yang merancang kebaya berdasarkan selera pasar dan cenderung tidak mematuhi pakem.

Nita Trismaya berhasil mendapatkan gelar Doktor Antropologi dari Departemen Antropologi pada sidang terbuka promosi doktor yang dilaksanakan secara hybrid pada Jumat (22/07) di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI dengaN judul disertasi “Retradisionalisasi Kebaya: Kembalinya Kebaya Dalam Konstruksi Modern Studi Kasus: Komunitas Kebaya Di Jakarta”. Pada sidang tersebut hadir promotor Jasmine Zaky Shahab, M.A., Ph.D dan kopromotor Mia Siscawati, M.A., Ph.D serta para dewan penguji, Dr. Ninuk Irawati Kleden Probonegoro, Dr. Ida Ruwaida, M.Si, Dr. Sri Murni M.Kes dan Dave Lumenta, Ph.D.

Pemahaman mengenai kebaya direlasikan dengan ranah identitas nasional, identitas perempuan Indonesia, ideologi pemersatu bangsa, merawat keberagaman budaya, menjaga dan melestarikan budaya Indonesia. Pemakaian kata “nasionalisme” oleh perempuan dari komunitas kebaya merupakan strategi untuk membangkitkan kepedulian masyarakat akan kebaya sekaligus menggugah ke-Indonesia-an.

Akan tetapi berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, nasionalisme sebagai tema yang sering diangkat menjadi topik utama selanjutnya tampak berada di atas permukaan sebagai idealis semata ketika diimplementasikan ke dalam aktivitas sehari-hari. Data lapangan menunjukkan meski ‘rasa nasionalisme’ melalui berkebaya menjadi tema utama kegiatan komunitas, namun sering tertutupi oleh antusias anggota komunitas kebaya akan ‘rasa senang’ pada kegiatan swafoto dan tampilan berkebaya yang fashionable.

Di tengah kondisi ini, muncul para perempuan yang mendirikan komunitas kebaya dengan visi mengembalikan kebaya sebagai busana nasional dan mengenalkannya kembali ke masyarakat.

Model kebaya yang dikenakan para perempuan ini sebagian besar mengacu pada tren mode (kebaya modifikasi), sedangkan yang lain memilih kebaya berdasarkan pakem busana nasional meskipun mereka tidak bisa menghindar dari tren mode. Secara umum, gaya berkebaya para perempuan dari komunitas kebaya didominasi kebaya modifikasi yang disesuaikan dengan tren dan fungsi (kebutuhannya berbeda-beda sesuai kegiatan, lokasi, waktu, pekerjaan).

Penelitian ini dilakukan di Jakarta dan sekitarnya. Aksi para perempuan dalam proses retradisionalisasi kebaya mengatasnamakan nasionalisme namun tidak semua memiliki visi yang sama karena kebaya juga menjadi media mengekspresikan diri para perempuan dari komunitas kebaya.

Retradisionalisasi kebaya pada tataran ini lebih dipahami sebagai sebuah tindakan dari para perempuan dalam memilih dan memakai kebaya yang ditekankan pada fungsional, kenyamanan dan estetika fashion. Para perempuan yang seharusnya membawa misi mengajak masyarakat untuk kembali menyukai kebaya pada kenyataannya lebih banyak menampilkan self-image di ruang publik dan media sosial sebagai perempuan yang memakai kebaya dengan impresi percaya diri, bahagia, ekpresif dan cantik.

Dalam penelitian ini, Nita menghasilkan enam kesimpulan yaitu, (1) retradisionalisasi kebaya merupakan gejala sosial kembalinya kebaya sebagai reaksi atas detrasionalisasi kebaya yang terjadi pada awal reformasi bersamaan dengan runtuhnya Orde Baru, (2) Terjadinya perubahan struktur sosial-budaya-politik pasca reformasi telah menyebabkan para perempuan ini menjadi agen-agen yang melakukan gerakan budaya (3) Perempuan-perempuan menjadikan kebaya sebagai bentuk perlawanan terhadap kebaya yang dianggap ‘kampungan’, mengungkung, kuno, tidak praktis, hanya busana formal, pesta dan adat, (4) para perempuan mengatasnamakan nasionalisme dalam aktivitas mereka di ruang publik, namun berdasarkan temuan di lapangan, berkebaya kemudian meluas menjadi media untuk mengekspresikan diri (5) Para perempuan dari komunitas kebaya meminta dukungan pemerintah untuk mengukuhkan kembali eksistensi kebaya sebagai busana nasional melalui menjalin relasi dan kerjasama dengan elemen pemerintah, (6) eskalasi konflik internal antar para perempuan yang berkebaya diakibatkan oleh tidak kokohnya pondasi sebuah komunitas yang seharusnya bersatu.