

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) resmi mengukuhkan Sadri sebagai Doktor Ilmu Politik pada Senin, 5 Januari, bertempat di Auditorium Juwono Sudarsono, Universitas Indonesia. Dalam sidang promosi doktornya, Sadri meraih predikat sangat memuaskan.
Disertasi Sadri mengangkat judul “Relasi Klientelisme Politik Kandidat dan Ulama: Studi Dukungan Politik Kelompok Ulama Tarekat Jejaring Tuanku Syathariyah kepada Pasangan Calon dalam Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2020.”
Penelitian ini berangkat dari realitas sosial-politik di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, yang dikenal sebagai salah satu basis kuat penganut Tarekat Syathariyah. Dalam kehidupan masyarakat setempat, ajaran tarekat ini sangat mengakar dan dipimpin oleh Tuanku Syathariyah, yang berperan sebagai guru sekaligus pemuka agama.
Sadri menjelaskan bahwa sejak era Reformasi, peran politik kelompok ulama tarekat di Padang Pariaman semakin menguat. Hal ini terlihat dari keterlibatan mereka yang semakin terbuka dalam kontestasi politik lokal, khususnya dalam memberikan dukungan kepada pasangan calon kepala daerah.
Pada Pilkada Padang Pariaman 2020, dukungan politik ulama tarekat Syathariyah terbelah ke dua kubu. Kelompok jejaring Alim Ulama se-Kabupaten Padang Pariaman memberikan dukungan kepada pasangan Suhatri Bur–Rahmang. Sementara itu, kelompok jejaring Badan Kemitraan Pondok Pesantren Nurul Yaqin se-Sumatera Barat mendukung pasangan Tri Suryadi–Taslim.
Melalui penelitian lapangan dan studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif studi kasus, Sadri meneliti hubungan politik antara kandidat dan pemimpin kelompok ulama tersebut. Ia menemukan bahwa dalam relasi ini, kandidat berperan sebagai patron, sementara pemimpin kelompok ulama berperan sebagai perantara atau broker yang menjembatani dukungan politik dari jamaah.
Menariknya, penelitian ini juga menemukan adanya peran ganda dalam hubungan tersebut. Pada kelompok ulama yang mendukung kandidat dari kalangan internal mereka sendiri, hubungan guru dan murid dalam konteks keagamaan berjalan beriringan dengan hubungan politik. Dalam konteks agama, ulama bertindak sebagai patron dan kandidat sebagai klien. Namun dalam konteks pemilihan kepala daerah, posisi tersebut berbalik: kandidat menjadi patron dan ulama menjadi broker.
Sementara itu, pada kelompok ulama yang mendukung kandidat dari luar jaringan mereka, hubungan yang terbentuk hanya bersifat elektoral. Dalam relasi ini, kandidat tetap berperan sebagai patron dan pemimpin ulama sebagai broker.
Sadri juga menemukan bahwa pertukaran dalam relasi politik ini tidak hanya berbentuk materi, tetapi juga nonmateri, seperti kedekatan emosional, legitimasi keagamaan, dan penguatan posisi sosial. Jika kandidat berasal dari internal kelompok, dukungan lebih banyak didorong oleh insentif nonmateri. Sebaliknya, jika kandidat berasal dari luar kelompok, dukungan cenderung dipengaruhi oleh insentif material.
Disertasi ini dinilai memberikan kontribusi penting bagi pengembangan ilmu politik, khususnya dalam kajian klientelisme keagamaan. Penelitian Sadri memperkaya pemahaman tentang variasi peran patron dan broker, serta memperluas kajian klientelisme yang selama ini lebih banyak berfokus pada pertukaran material, dengan menekankan pentingnya insentif nonmaterial dalam relasi politik berbasis agama.


