Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) dan teknologi digital membawa kemudahan dalam proses belajar, bekerja, hingga berkomunikasi. Namun, penggunaan teknologi secara berlebihan dan tanpa tujuan yang jelas berpotensi memengaruhi kemandirian kognitif, kemampuan memahami konteks, serta penguasaan kompetensi individu. Karena itu, mahasiswa perlu membangun pola penggunaan teknologi yang lebih sadar dan terarah sebagai intentional user.

Hal tersebut disampaikan dalam pembahasan mengenai dampak penggunaan teknologi dan AI terhadap perilaku pengguna pada public lecture and talkshow “Game On! Tech Behind Every Win”, yang di selenggarakan oleh Gojek pada Kamis (10/9) di Balai Purnomo Prawiro, UI, Depok. Penggunaan teknologi yang tidak disertai pemahaman dan tujuan dapat memunculkan sejumlah fenomena, di antaranya brain rot, cognitive offloading, attention economy, hingga popcorn brain.

Menurut Dr. Erwin Agustian Panigoro, M.M, Dosen Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI dan juga  Direktur Humas, Media, Pemerintah dan Internasional, mengatakan bahwa brain rot merujuk pada kondisi ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi konten digital sehingga berpotensi memengaruhi kemampuan untuk berpikir dan beraktivitas secara mandiri. Sementara itu, cognitive offloading menggambarkan kecenderungan individu untuk semakin bergantung pada teknologi dalam menyimpan, mengolah, maupun mengingat informasi.

“Jangan buru-buru mengklaim bahwa saya mengalami ini atau itu. Kita perlu memahami konteksnya terlebih dahulu. Salah satu karakteristik manusia adalah mudah mengingat informasi yang diterimanya melalui media. Karena itu, fenomenanya perlu dipahami secara kritis sebelum seseorang memberikan label kepada dirinya sendiri,” ujar Erwin.

Di sisi lain, perkembangan ekosistem digital juga melahirkan attention economy, ketika perhatian pengguna menjadi sumber daya yang memiliki nilai. Waktu, perhatian, pengetahuan, kompetensi, dan keterampilan pengguna menjadi bagian dari ekosistem yang diperebutkan oleh berbagai platform digital.

Dalam konteks pendidikan tinggi, kehadiran AI turut mengubah cara mahasiswa belajar dan menghasilkan karya. Penggunaan AI tidak semata-mata perlu dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari, tetapi perlu diarahkan sebagai alat bantu yang mendukung proses berpikir dan pembelajaran.

Penggunaan prompt dalam AI, misalnya, dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran. Melalui prompt yang dirancang dengan baik, mahasiswa tidak hanya memperoleh keluaran dari teknologi, tetapi juga belajar merumuskan pertanyaan, mengembangkan gagasan, serta mengevaluasi informasi yang dihasilkan. Dalam konteks ini, dosen tetap memiliki peran penting untuk mengajak mahasiswa berdiskusi dan memperdalam substansi.

Tantangan lain muncul melalui fenomena popcorn brain, yakni kebiasaan berpindah secara cepat dari satu platform ke platform lain tanpa menyelesaikan atau memahami informasi secara utuh. Kebiasaan berpindah dari TikTok, Instagram, WhatsApp, X, dan berbagai aplikasi lainnya secara terus-menerus dapat membuat perhatian pengguna terfragmentasi.

Penggunaan AI sebagai generator konten juga perlu dilakukan secara kontekstual. Mahasiswa dapat menghasilkan tugas maupun portofolio dengan bantuan teknologi, tetapi hasil tersebut harus tetap merepresentasikan pemahaman dan kompetensi yang dimiliki. Ketergantungan berlebihan pada AI berpotensi menjadi persoalan ketika mahasiswa harus mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya secara mandiri, termasuk dalam proses wawancara kerja.

Oleh karena itu, mahasiswa didorong menjadi intentional user, yaitu pengguna yang memiliki tujuan jelas ketika memilih dan menggunakan teknologi. Setiap aplikasi perlu digunakan berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar karena tersedia atau sedang populer.

“Ketika kita memutuskan menggunakan sebuah aplikasi, harus ada tujuannya. Kita harus tahu apa yang ingin kita lakukan dan mengapa menggunakan aplikasi tersebut,” jelas Erwin.

Dengan pendekatan tersebut, teknologi dan AI dapat ditempatkan sebagai alat yang memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikan proses berpikir. Kemampuan menggunakan teknologi secara kritis, kontekstual, dan bertanggung jawab menjadi bagian penting dari kompetensi mahasiswa dalam menghadapi perubahan dunia pendidikan dan dunia kerja.