Pilih Laman

Dubes Indonesia untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya, menyambangi kampus FISIP UI untuk melakukan Focus Group Discussion (FGD) mengenai kebijakan untuk Papua pada Kamis (03/08). Turut hadir dalam FGD tersebut Dr. Arie Setiabudi Soesilo (Dekan FISIP UI), Prof. Dr Bambang Shergi Laksmono M.Sc (Direktur Eksekutif Papua Center FISIP UI), Julian Aldrin Pasha (Juru Bicara Kepresidenan RI Kabinet Indonesia Bersatu II), Dr. Anthie Solaiman M.A dan tim (Papua Center UKI), serta Brigjen TNI Herwin Suparjo, S.Sos.,S.H (Asdep Koordinator Otonomi Khusus Kemenkopolhukam) dan Staf Ahli.

Tantowi sangat memberi perhatian khusus pada isu separatisme Papua yang berpotensi merusak keutuhan NKRI. Pasalnya, sebagai perwakilan Indonesia untuk salah satu negara Pasifik, Ia mendapati banyak sekali manuver politik yang dilakukan pihak pendukung separatisme untuk melepaskan Papua dari NKRI, khususnya di wilayah pasifik.

Artikel Lainnya:  Riwayat Pendidikan Republik Kuba Hingga Menjadi Gratis dan Universal

“Kalau saya melihat, sebenarnya permasalahan Papua ini cuma persoalan persepsi yang dibangun. Banyak di luar sana yang menyebar adalah info hoax dan twisted. Sedangkan pemerintah ketika memberi sanggahan justru mendapatkan persepsi negatif”, ungkap Tantowi.

Oleh karena itu, Tantowi memaparkan strategi diplomasi yang Ia agendakan dengan nama Total Football Diplomacy. Strategi tersebut melibatkan 5 stakeholder antara lain pemerintah, para akademisi, media, kalangan pengusaha, dan tokoh-tokoh agama. Dalam kesempatan ini, Ia menuturkan bahwa kampus (para akademisi) belum terdengar suaranya untuk isu Papua. Diharapkan, para akademisi dapat membantu membuat dan mempublikasikan tulisan-tulisan ilmiah terkait kerugian Papua apabila lepas dari NKRI untuk menyeimbangkan informasi-informasi yang digaungkan oleh pendukung separatisme agar masyarakat bisa berpikir dari dua sisi. Terlebih, Ia mengungkapkan harapannya agar media lebih sering memunculkan berita tentang Papua, terkhusus untuk detik.com dan Jakarta Post.

Artikel Lainnya:  Meninjau Kembali Proses Politik di Balik Perumusan Kebijakan Anti Terorisme di Era Demokratisasi

Dalam diskusi tersebut, terdapat pula pandangan lain dari sudut pandang yang berbeda, yaitu saran untuk menyediakan ruang diskusi agar tercipta dialog antara orang-orang Papua (khususnya yang merantau di luar Papua) dan pihak pemerintah. Selain itu, Tim Papua Center menambahkan gagasan untuk menggunakan soft diplomacy dalam forum-forum perdagangan di pasifik untuk mengarahkan isu Papua. Gagasan tersebut disambut baik oleh Tantowi, dengan catatan harus membuat Indonesia ‘lebih diterima’ terlebih dahulu sebagai bagian dari wilayah Pasifik. Ia mengusulkan untuk melakukan connecting the dots, menghubungkan langsung negara Pasifik ke timur Indonesia, antara lain membuka penerbangan langsung antara kota di Indonesia Timur dengan kota-kota negara pasifik dan membuka ekspor di Timur Indonesia.

Artikel Lainnya:  Peran Pemuda dalam Mengimplementasikan Pendidikan sebagai Sustainable Development Goal

Secara keseluruhan, dalam FGD tersebut telah diperoleh satu suara terkait apa yang harus dilakukan, yakni dengan menentukan paradigma yang sama terlebih dahulu di dalam lima stakeholder yang terlibat.