Pilih Laman

Departemen Hubungan Internasional FISIP UI, menyelenggarakan Public Lecture: Danish Climate Act and Danish-Indonesian Partnership in Mitigating Climate Change di Auditorium Juwono Sudarsono pada Jumat (06/03). Duta Besar Denmark untuk Indonesia, H.E Rasmus Abildgaard Kristensen hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut.

Rasmus memaparkan bagaimana strategi Denmark menerapkan penggunaan energi terbarukan sebagai solusi dari perubahan iklim dunia.

Menurut Rasmus, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar namun belum di terapkan. Rasmus juga menjelaskan empat faktor penting yang dapat menurunkan harga energi terbarukan yakni, perkembangan teknologi, fundamental persaingan ekonomi (kompetisi, lelang, dan harga), skala ekonomi serta regulasi politik yang stabil.

Politisi dan pemangku kebijakan harus mulai serius mempertimbangkan energi terbarukan sebagai solusi dalam menghadapi perubahan iklim. Seperti di Denmark, 8 dari 10 partai yang duduk dibangku Parlemen Denmark sudah mendukung gerakan climate change.

Ia menyampaikan pemerintah Denmark menargetkan penggunaan 100 persen energi terbarukan pada 2030. “Proses itu tidak membutuhkan waktu lama yang berlarut-larut. Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dapat dilakukan dalam jangka waktu 5-10 tahun” Ungkap Rasmus.

Artikel Lainnya:  Özlem Sara Cekic: Secangkir Kopi untuk Empati

Rasmus juga menyampaikan sanggahan terhadap tiga mitos yang menyebut pengembangan energi baru dan terbarukan sulit dilakukan.

Pertama, banyak yang mengatakan pengembangan energi terbarukan butuh waktu lama, padahal kenyataannya tidak. Ia menjelaskan Denmark mulai mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan berupaya membangun ketahanan energi dalam negeri dengan mengembangkan industri terbarukan.

Kedua, menyanggah anggapan penggunaan energi terbarukan tidak dapat diandalkan jadi sumber utama energi nasional. “Buat saya, mitos itu tidak tepat karena saat ini Denmark menjadi salah satu negara dengan tingkat ketahanan energi yang cukup tinggi di dunia,” ujar Dubes Rasmus.

Ketiga, anggapan biaya pengembangan energi terbarukan mahal. “Anggapan mahal itu tidak terbukti karena saat ini banyak teknologi yang tersedia untuk pengembangan energi terbarukan. Situasinya jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, saat ini jauh lebih murah, setidaknya dalam waktu 10 tahun terakhir,” jelas Dubes Rasmus.

Artikel Lainnya:  Lokakarya Nasional: Kurikulum Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Jenjang Sarjana

“Ada tiga faktor yang membantu menurunkan biaya pengembangan energi terbarukan, di antaranya ketersediaan teknologi, kompetisi antar pemasok di pasar serta skala bisnis. Jika pengembangan energi terbarukan dilakukan secara masif atau pada tingkatan industri maka ongkos produksi dapat ditekan” ungkap Rasmus.

Rasmus juga menambahkan kerjasama sektor energi yang nantinya akan terjalin antar Denmark dan Indonesia adalah pemodelan dan perencanaan energi jangka panjang, integrasi energi terbarukan dan efisiensi energi.

Hal ini semua sejalan dengan Danish International Development Agency (Danida) yang digunakan bidang kerjasama pembangunan Denmark yang merupakan bidang kegiatan di bawah Kementerian Luar Negeri Denmark. Fokus area dari Danida ini salah satunya adalah green growth yaitu program dukungan lingkungan, kehutanan dan penggunaan lahan, penanganan limbah dan produksi pangan berkelanjutan.

Artikel Lainnya:  FISIP UI Gelar Peringatan Hari Kartini