Pilih Laman

Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Univeritas Indonesia (FISIP UI), meluluskan seorang Doktor yaitu Azizah Aziz pada Kamis (09/01) di Auditorium Juwono Sudarsono.. Azizah berhasil mempertahankan disertasi nya yang berjudul “Elite NU di Pusaran Kekuasaan (Studi Kasus: Konflik Elite NU Pasca Pilpers 2014 dan Muktamar Nu ke-33 di Jombang Tahun 2015)” di hadapan para penguji.

Disertasi ini meneliti tentang konflik elite nu pasca pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada tahun 2014 dan Muktamar NU ke-33 di Jombang tahun 2015. Sebagai sebuah ormas Islam terbesar di Indonesia, NU memiliki sejarah panjang kedekatan para elitenya dengan kekuasaan politik. Penelitian ini memberikan sumbangan pemikiran dalam membaca dan memotret konflik mutakhir NU yang bertali-temali peristiwa politik yang ada di luar NU.

Artikel Lainnya:  Tokoh & Selebriti Alumni FISIP UI Bicara : Writing is Empowering

Elite NU yang terlibat konflik pemilihan serta dukungan politik yang berbeda serta memiliki kepentingan politik yang berbeda pula. Pilihan dan dukungan politik yang berbeda bedampak pada terjadinya polarisasi kekuasaan di organisasi NU. Konflik internal NU sejak Muktamar NU ke-32 di Makassar tahun 2010 hingga Muktamar NU ke-33 Jombang tahun 2015 merefleksikan hubungan dan pilihan politik elite NU atau para kiai dengan kekuatan politik di luar NU.

Temuan penelitian disertasi ini, NU telah berproses meninggalkan prinsip Khittah 1926 karena kekuasaan politik diwarnai oleh sinkertisme kekuasaan Jawa. Terlihat pada Muktamar NU ke-33 di Jombang tahun 2015, terjadi perubahan tradisi musyawarah 5 tahunan di Muktamar, berubah penuh konflik, disebut Muktamar  hitam oleh sebagian tokoh NU.

Artikel Lainnya:  Kontribusi Indonesia Bagi Perdamaian Dunia

Sirkulasi elite melalui muktamar tidak berjalan normal karena mekanisme perekrutan penuh rekayasa tergusur dengan money politik pada pilpres 2014 dan pilpres 2019. Rekayasa elite partai ini mengakibatkan elite NU struktural dan kultural pecah. Konflik elite NU terjadi akibat hilangnya figur kiai kharismatik yang bisa mengerem perpecahan dan menyatukan kembali NU.

Hasil penelitian ini juga mengelaborasi tentang teori elite dimana sirkulasi elite NU sangan ditentukan oleh elite dan para kiai guna kepentingan politik elite NU pada pilpers 2014 dan 2019.