Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) kembali menambah jajaran guru besarnya. Prof. Dr. Indera Ratna Irawati Pattinasarany resmi dilantik sebagai Guru Besar Bidang Sosiologi FISIP UI oleh Rektor Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah dalam upacara pengukuhan yang berlangsung di Balai Sidang Universitas Indonesia, Rabu (10/6).

Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Di Balik Mobilitas: Ketidakamanan Sosial dalam Masyarakat Indonesia”, Prof. Indera mengulas dinamika perubahan sosial yang terjadi di Indonesia pascareformasi. Menurutnya, berbagai capaian pembangunan seperti pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, penurunan angka kemiskinan, serta meningkatnya akses pendidikan telah mendorong mobilitas sosial masyarakat. Namun, di balik kemajuan tersebut, terdapat fenomena ketidakamanan sosial yang semakin meluas, termasuk di kalangan masyarakat yang secara ekonomi telah mengalami peningkatan status sosial.

Prof. Indera menjelaskan bahwa selama lebih dari dua dekade terakhir Indonesia sering dipandang sebagai negara dengan kelas menengah yang terus berkembang. Akan tetapi, data menunjukkan bahwa perkembangan tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi riil masyarakat. Berdasarkan klasifikasi Bank Dunia dan data Badan Pusat Statistik (BPS) periode 2019–2024, peningkatan yang terjadi justru lebih banyak berasal dari kelompok aspiring middle class atau calon kelas menengah yang masih berada dalam kondisi rentan.

“Tidak sedikit rumah tangga Indonesia yang secara konsumsi telah menunjukkan karakteristik kelas menengah, tetapi masih menghadapi tekanan biaya hidup yang tinggi, ketidakstabilan pekerjaan dan pendapatan, serta ketidakpastian masa depan,” ujar Prof. Indera.

Dalam pidatonya, ia mengemukakan bahwa Indonesia tengah mengalami transformasi menuju masyarakat yang ditandai oleh mobilitas tanpa keamanan. Kondisi ini menggambarkan situasi ketika mobilitas sosial tetap berlangsung, tetapi tidak diiringi oleh penguatan institusi yang mampu memberikan perlindungan sosial dan rasa aman bagi masyarakat.

Menurut Prof. Indera, pembentukan kelas menengah yang kuat tidak hanya ditentukan oleh peningkatan pendapatan dan akses pekerjaan, tetapi juga oleh keberadaan institusi yang menyediakan perlindungan sosial dan layanan publik yang memadai. Dalam konteks Indonesia, mobilitas sosial sering kali berlangsung lebih cepat dibandingkan pembangunan sistem perlindungan yang menopangnya.

Fenomena tersebut terlihat dari tingginya proporsi pekerja informal di Indonesia. Data Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) tahun 2024 menunjukkan bahwa sekitar 54 persen calon kelas menengah dan 43 persen kelas menengah masih bekerja di sektor informal. Kondisi tersebut menyebabkan banyak pekerja menghadapi ketidakpastian pendapatan dan minim perlindungan sosial.

Selain persoalan ketenagakerjaan, Prof. Indera juga menyoroti meningkatnya jumlah generasi muda yang berada dalam kategori Not in Employment, Education, or Training (NEET). Kelompok ini merupakan individu yang tidak bekerja, tidak menempuh pendidikan, dan tidak mengikuti pelatihan atau pengembangan keterampilan.

Data BPS periode 2019–2024 menunjukkan bahwa tingkat NEET pada kelompok usia 15–24 tahun berada pada kisaran 22–25 persen, sementara pada kelompok usia 25–34 tahun mencapai sekitar 27 persen. Menurut Prof. Indera, kondisi tersebut menunjukkan semakin sulitnya proses transisi generasi muda menuju kehidupan dewasa yang mandiri dan stabil.

“Ketidakamanan tidak lagi hanya dialami oleh mereka yang tertinggal dalam proses pembangunan, tetapi juga oleh mereka yang secara sosial dan ekonomi telah berhasil bergerak naik,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Indera menyoroti bagaimana ketidakamanan sosial kini semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak individu tidak lagi mengandalkan satu pekerjaan sebagai sumber penghidupan utama, melainkan mencari berbagai sumber pendapatan tambahan untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga. Dalam situasi ini, mobilitas sosial tidak lagi semata dipandang sebagai upaya mencapai kehidupan yang lebih baik, tetapi sebagai strategi untuk menghindari kemungkinan mengalami kemunduran sosial ekonomi.

Menutup pidato pengukuhannya, Prof. Indera menekankan bahwa tantangan pembangunan Indonesia ke depan bukan hanya membuka peluang bagi masyarakat untuk bergerak naik secara sosial dan ekonomi, tetapi juga memastikan bahwa hasil mobilitas tersebut dapat dipertahankan secara berkelanjutan melalui sistem perlindungan sosial yang kuat dan akses yang setara terhadap berbagai sumber daya.

“Keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari kemampuan masyarakat untuk bergerak naik, tetapi juga dari kemampuan negara menghadirkan keadilan yang memungkinkan seluruh warga menjalani kehidupan yang aman, bermartabat, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Pengukuhan Prof. Indera sebagai Guru Besar semakin memperkuat kontribusi FISIP UI dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya kajian sosiologi yang relevan dengan berbagai tantangan sosial kontemporer di Indonesia. Melalui pemikiran dan penelitian yang dihasilkannya, Prof. Indera diharapkan dapat terus memberikan kontribusi akademik bagi pengembangan kebijakan publik yang lebih inklusif dan berkeadilan.