Perkembangan gig economy atau ekonomi berbasis pekerjaan lepas serta semakin fleksibelnya pola kerja dinilai turut membentuk cara pandang generasi milenial dan Generasi Z dalam mengelola keuangan. Kondisi tersebut mendorong generasi muda untuk lebih rasional dalam menentukan prioritas pengeluaran dan menjalani gaya hidup hemat (frugal living).
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) periode 2021–2025, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, menilai bahwa generasi muda saat ini semakin mempertimbangkan keseimbangan antara biaya yang dikeluarkan dan manfaat yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.
“Gaya hidup hemat atau frugal living, saya rasa sekarang orang sudah mulai berpikir lebih rasional. Apa yang dikeluarkan dan apa yang didapat,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan pola pikir tersebut berkembang seiring meningkatnya biaya hidup di kawasan perkotaan. Kenaikan biaya tempat tinggal, transportasi, hingga kebutuhan gaya hidup membuat generasi muda lebih cermat dalam mengatur pengeluaran.
“Biaya hidup di kota itu memang naik. Sewa rumah, punya rumah, biaya transportasi, gaya hidup memang mahal,” katanya.
Di sisi lain, Prof. Aji menjelaskan bahwa lanskap dunia kerja juga mengalami perubahan yang signifikan. Saat ini, banyak generasi muda yang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pekerjaan tetap dan mulai memanfaatkan berbagai peluang kerja berbasis proyek, pekerjaan lepas (freelance), maupun pekerjaan sampingan.
“Sekarang itu yang penting gig economy. Orang boleh pekerja tetap, tapi side job-nya banyak,” ujarnya.
Sebagai Guru Besar Antropologi, Prof. Aji melihat bahwa fleksibilitas kerja menjadi salah satu faktor yang menarik bagi generasi muda. Selain memberikan kebebasan dalam mengatur waktu, model kerja tersebut juga membuka peluang untuk memperoleh sumber pendapatan tambahan.
“Lebih baik freelance, karena sekali dapat langsung banyak, dan itu urusannya tinggal bagaimana kita mengelola uang kita,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prof. Aji menilai bahwa perubahan pola kerja dan meningkatnya kesadaran finansial telah membuat generasi muda semakin selektif dalam menentukan prioritas konsumsi.
Gaya hidup hemat tidak lagi dipandang sebagai kondisi yang identik dengan keterbatasan ekonomi, melainkan sebagai pilihan yang didasarkan pada kesadaran dan perencanaan yang matang.
“Hidup hemat tidak lagi dikaitkan dengan orang yang kekurangan. Sekarang hemat itu adalah pilihan sadar,” katanya.
Menurut Prof. Aji, tren tersebut menunjukkan munculnya nilai-nilai baru dalam masyarakat urban yang lebih menekankan konsumsi secara wajar, efisien, dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, frugal living menjadi salah satu bentuk adaptasi generasi muda terhadap perubahan ekonomi dan dunia kerja yang semakin dinamis.
Perkembangan gig economy dan meningkatnya literasi finansial di kalangan generasi muda diharapkan dapat mendorong terbentuknya pola pengelolaan keuangan yang lebih sehat, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi individu di tengah tantangan biaya hidup yang terus meningkat.
Dikutip dari media online Antara.


