


Krisis lingkungan saat ini menjadi ancaman nyata terhadap keberlangsungan hidup manusia dan stabilitas ekosistem global. Industri fesyen, sebagai salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia, telah menghasilkan lebih dari 92 juta ton limbah tekstil setiap tahun serta berkontribusi signifikan pada emisi karbon dan pencemaran air.
Sebagai respons, konsep konsumsi berkelanjutan (sustainable consumption) berkembang, salah satunya diwujudkan melalui prinsip 5R (Reduce, Reuse, Recycle, Repair, Refill). Gerakan ini menolak model ekonomi linear dan mendorong transisi menuju ekonomi sirkular.
Respon masyarakat terhadap isu keberlanjutan juga semakin positif. Survei terbaru menunjukkan adopsi praktik ramah lingkungan meningkat, termasuk pembelian dan pertukaran pakaian bekas yang kini menjadi bagian dari gaya hidup urban di Indonesia.
Raden Ayu Wulantari secara sah menjadi Doktor Ilmu Komunikasi dari FISIP Universitas Indonesia pada Senin (07/07) setelah melaksanakan promosi doktor di Auditorium Juwono Sudarsono. Ayu mengangkat disertasi yang berjudul “Identitas Hijau Dalam Praktik Clothing Swap (Studi Kasus Pada Komunitas Berkelanjutan)”.
Salah satu media sosial yang berperan sentral sebagai ruang negosiasi identitas hijau adalah Instagram. Melalui unggahan, diskusi, dan interaksi daring, praktik keberlanjutan dikonstruksi dan divalidasi secara sosial.
“Praktik clothing swap yang dilakukan di komunitas seperti @bersalingsilang, baik secara daring maupun luring, telah menjadi arena penting pembentukan identitas hijau (green identity). Aktivitas menukar pakaian dilihat sebagai ekspresi komitmen ekologis, sekaligus menjadi simbol resistensi terhadap logika fast fashion,” jelas Ayu.
Aktivitas di media sosial seringkali menjadi narasi kolektif dan membentuk komunitas digital yang mendorong gaya hidup hijau. Transformasi ini menunjukkan bahwa identitas hijau kini dikonstruksi secara simbolik melalui pertukaran makna, interaksi komunitas, dan partisipasi aktif, baik daring maupun luring.
Menurut Ayu, penelitian ini bertujuan memahami bagaimana identitas hijau dikonstruksi melalui interaksi simbolik dalam ekosistem komunitas @bersalingsilang, sebuah inisiatif clothing swap yang aktif di media sosial dan ruang luring di Indonesia.
Ayu menjelaskan, dengan paradigma konstruktivis dan metode studi kasus, penelitian ini menganalisis teks digital (caption, komentar) serta wawancara mendalam untuk mengungkap simbol-simbol kunci dalam pembentukan identitas hijau.
“Temuan menunjukkan bahwa identitas hijau individu terbentuk melalui negosiasi makna, pertukaran simbol, dan validasi sosial baik secara daring maupun luring, terlepas dari intensitas keanggotaan komunitas,” ujar Ayu.
Selain itu, menurut Ayu media sosial berperan sebagai ruang mediasi yang memperkuat solidaritas, validasi identitas, serta konsistensi perilaku keberlanjutan, meskipun tetap ditemukan ketegangan antara nilai ideal keberlanjutan dan praktik sehari-hari.
Studi ini memperluas pemahaman tentang peran interaksi simbolik, komunitas, dan media sosial dalam transformasi gaya hidup berkelanjutan di Indonesia, serta menawarkan kontribusi bagi pengembangan kajian identitas ekologis dalam ilmu komunikasi.







