
Perubahan iklim memberikan dampak signifikan terhadap aspek sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Dampak tersebut tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga memperlebar ketimpangan sosial serta meningkatkan kerentanan kelompok marginal.
Oleh karena itu, pemahaman mengenai dinamika kebijakan perubahan iklim dalam konteks global menjadi penting, khususnya bagi mahasiswa, guna mendorong pembangunan sosial yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Sebagai upaya memperkaya perspektif tersebut, Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) bekerja sama dengan Kedutaan Besar Meksiko di Indonesia dan National Autonomous University of Mexico (UNAM) menyelenggarakan kuliah umum internasional yang mengangkat tema “Rivalitas China Dan Amerika Serikat Dalam Kebijakan Iklim Serta Tata Kelola Energi, Dengan Pembelajaran Dari Meksiko.”
Kegiatan ini menghadirkan akademisi dari UNAM, di antaranya Alicia Giron dan Fania de la Vega Yota. Dalam pembukaan, Prof. Fentiny menyampaikan sambutan sekaligus menyambut para narasumber dan peserta.
Dalam sesi utama, Dr. Alicia Giron menjelaskan konteks historis isu perubahan iklim serta dinamika rivalitas antara China dan Amerika Serikat. Ia menyoroti transformasi China menuju energi terbarukan dan dominasinya dalam teknologi panel surya.
Selain itu, ia juga mengaitkan fenomena tersebut dengan perspektif ekonomi teoretis, termasuk pemikiran Hyman Minsky mengenai peran pemerintah dan sistem perbankan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Pembahasan kemudian berlanjut pada perbandingan pertumbuhan ekonomi antara Meksiko dan China. Pertumbuhan Meksiko dinilai relatif lebih lambat akibat kebijakan stabilitas Produk Domestik Bruto yang dipengaruhi oleh perjanjian kawasan Amerika Utara.
Diskusi juga menyoroti peran perusahaan energi besar China serta ekspansi globalnya, termasuk dukungan dari bank kebijakan China dalam pembiayaan proyek energi terbarukan di kawasan Afrika, Asia, dan Amerika Latin.
Meski demikian, Giron menegaskan bahwa sumber daya non-terbarukan seperti minyak masih memiliki peran penting, sehingga transisi menuju energi terbarukan sepenuhnya masih menghadapi tantangan besar.
Dalam sesi mengenai keuangan global, dibahas pula peran investor institusional dalam mendukung pembiayaan korporasi besar. “Perusahaan manajemen aset seperti BlackRock disebut memiliki peran signifikan dalam menyediakan pembiayaan bagi berbagai perusahaan global, termasuk Uniqlo dan Nike,” jelas Giron.
Selain itu, ketegangan geopolitik antara China dan Amerika Serikat turut berdampak pada pasar saham global, termasuk perubahan nilai pasar di bursa China dan Hong Kong dibandingkan dengan Amerika Serikat dan India. Diskusi ini juga menyoroti meningkatnya peran pembiayaan hijau (green finance) yang sejalan dengan Paris Agreement dan Agenda 2030.
Lebih lanjut, Dr. Giron menjelaskan dominasi perusahaan China dalam produksi energi terbarukan serta implikasi geopolitiknya. Ia menegaskan bahwa meskipun motif keuntungan menjadi pendorong utama korporasi, intervensi pemerintah melalui kebijakan publik dan moneter tetap diperlukan untuk menjaga keseimbangan.
Dalam sesi tanya jawab, ia turut membahas isu netralitas transisi energi di tengah konflik geopolitik serta perkembangan energi hidrogen di Jepang. Ia menekankan bahwa pencapaian ekonomi hijau secara penuh pada tahun 2050 masih sulit direalisasikan tanpa investasi besar dalam riset dan pengembangan.
Sementara itu, Fania de la Vega Yota memaparkan ekspansi global industri otomotif Jepang dan dampaknya terhadap Meksiko. Ia menjelaskan bahwa sejak tahun 1990-an, perusahaan otomotif Jepang mulai mengalihkan produksi ke luar negeri, sehingga menciptakan rantai produksi global yang tersebar.
Ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi Meksiko dalam mengadopsi kendaraan listrik dan teknologi kendaraan otonom, terutama terkait keterbatasan infrastruktur dan daya beli masyarakat. Di akhir sesi, disampaikan pula peluang kerja sama akademik antara UNAM dan perguruan tinggi di Indonesia, termasuk program studi kesejahteraan sosial serta peluang beasiswa untuk studi lanjut.
Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa memperoleh pemahaman komprehensif mengenai kompleksitas isu perubahan iklim, dinamika geopolitik global, serta pentingnya kolaborasi internasional dalam mendorong pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.


