{"id":16833,"date":"2019-01-09T17:22:17","date_gmt":"2019-01-09T10:22:17","guid":{"rendered":"http:\/\/fisip.ui.ac.id\/?p=16833"},"modified":"2019-09-16T14:35:01","modified_gmt":"2019-09-16T07:35:01","slug":"16833","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/16833\/","title":{"rendered":"Strategi Adaptif untuk Melepaskan Nelayan dari Jerat Kemiskinan"},"content":{"rendered":"\n<p>Salah satu kemiskinan perkotaan\nyang cukup parah adalah kemiskinan yang dialami oleh masyarakat pesisir yang\nsebagian besar adalah nelayan. Kelompok nelayan pesisir ini seringkali disebut\nsebagai kelompok paling miskin dalam perkotaan. Di kota-kota besar Indonesia,\nkhususnya kota-kota yang berada di sekitar pesisir, seperti jakarta, Surabaya,\nSemarang, Balikpapan, dan Makassar, eksistensi komunitas nelayan cukup\nmemprihatinkan. Di kota Makassar misalnya, di pesisir selatan pantai Selat\nMakassar yang sangat kental dengan aktivitas nelayan sejak dulu tidak lepas\ndari kemiskinan dan keterbelakangan. Dari sisi ruang dan ekonomi terdapat\nketimpangan yang jelas antara komunitas pesisir\/pulau dan wilayah daratan.\nPemduduk miskin yang lebih banyak di wilayah pesisir adalah komunitas nelayan\nberskala kecil yang mengandalkan perahu\/kapal dengan kapasitas kecil dan\ntradisional seperti <em>lepa-lepa <\/em>dan <em>katinting<\/em>, disertai dengan alat tangkap\ndan teknologi yang sederhana. Sangat ironis, di tengah pertumbuhan ekonomi Kota\nMakassar dalam satu dasawarsa terakhir yang bisa mencapai 8-9% pertahun -termasuk tingkat\npertumbuhan ekonomi terbesar di antara kota-kota besar yang ada-justru tidak memberikan\ndampak positif pada kesejahteraan penduduk yang tinggal di kawasan pesisir yang\nbergantung pada sektor perikanan. <\/p>\n\n\n\n<p>Jerat kemiskinan yang seakan\ntidak pernah terlepas dari komunitas nelayan, khususnya nelayan\nkecil\/tradisional banyak dikaji dalam berbagai studi. Misalnya, Christophe Bene\ndalam bukunya <em>When Fishery Rhymes with\nPoverty: A First Step Beyond the Old Paradigm on Poverty in Small Scale\nFisheries <\/em>(2003) mengungkapkan hasil penelitiannya di Asia dan Afrika yang\nmenemukan bahwa ada empat proses yang membuat komunitas nelayan mengalami\nkemiskinan, salah satunya yakni adanya proses eksklusi sosial. Buchari Mengge,\nmahasiswa doktoral Sosiologi FISIP UI, turut mengangkat penelitian mengenai proses\nekslusi sosial yang terjadi dalam lingkaran kemiskinan komunitas nelayan ini\nsebagai bahan disertasinya. Mengambil tempat di Kota Makassar, Buchari menggali\ningin menggali lebih jauh strategi komunitas nelayan melalui proses adaptasi\ndan resistensi terhadap kemiskinan dan proses eksklusi sosial tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Hasilnya, Buchari menemukan bahwa\nkomunitas nelayan Kota Makassar mengalami sejumlah kondisi kemiskinan dan\neksklusi sosial yang bersifat struktural dan kultural dalam mekanisme \u201c<em>socio-spatial mechanism of exclusion<\/em>\u201d,\nmeliputi eksklusi ekonomi, eksploitasi hubungan patron-klien, eksklusi ruang,\ndan pengabaian dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Bagi komunitas\nnelayan, <em>socio-spatial exclusion<\/em>\nmerupakan tekanan yang sangat mendasar menuntut strategi adaptasi. Secara umum\nkomunitas nelayan melakukan dua strategi utama, yakni (1) upaya-upaya di sektor\nekonomi yang bertumpu pada kegiatan diversifikasi kegiatan produksi, dan (2)\nupaya-upaya di sektor sosial (<em>non ekonomi<\/em>),\nmeliputi upaya-upaya adaptif dan perlawanan terhadap tekanan struktur dan pola\nhubungan dengan punggawa (pemilik modal) di level komunitas, dan upaya-upaya\nmembangun jaringan sosial (kelompok sosial), serta upaya-upaya mengakses dan\nmemanfaatkan beragam kegiatan dan bantuan kesejahteraan sosial di tingkat\nkomunitas. <\/p>\n\n\n\n<p>Atas disertasinya ini, Buchari\nmendapatkan gelar doktornya pada Selasa (8\/01) dengan yudisium sangat\nmemuaskan. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu kemiskinan perkotaan yang cukup parah adalah kemiskinan yang dialami oleh masyarakat pesisir yang sebagian besar adalah nelayan. Kelompok nelayan pesisir ini seringkali disebut sebagai kelompok paling miskin dalam&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":16844,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-16833","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-berita"},"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16833","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16833"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16833\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16844"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16833"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16833"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16833"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}