{"id":47159,"date":"2019-10-16T15:49:45","date_gmt":"2019-10-16T08:49:45","guid":{"rendered":"http:\/\/fisip.ui.ac.id\/?p=47159"},"modified":"2019-10-17T15:54:33","modified_gmt":"2019-10-17T08:54:33","slug":"ozlem-sara-cekic-secangkir-kopi-untuk-empati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/ozlem-sara-cekic-secangkir-kopi-untuk-empati\/","title":{"rendered":"\u00d6zlem Sara Cekic: Secangkir Kopi untuk Empati"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kuliah tamu yang digelar oleh Hubungan Internasional\nFISIP UI ini menghadirkan&nbsp; \u00d6zlem Sara\nCekic yang merupakan anggota Parlemen Denmark periode 2007-2015. Dilahirkan di\nTurki dari orang tua Kurdi, \u00d6zlem Sara Cekic\ndan keluarganya menetap di Denmark pada 1980. Pada 2007, ia menjadi wanita\npertama dengan latar belakang imigran Muslim yang terpilih menjadi anggota\nParlemen Denmark. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat\nini \u00d6zlem adalah seorang pembicara,\npenulis, dan aktivis sosial. Proyeknya #dialoguecoffee berupaya memicu\npercakapan antara orang-orang yang memiliki kepercayaan yang berbeda untuk memahami\nprasangka yang tidak baik. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah terpilih menjadi anggota parlemen Denmark, \u00d6zlem\nCekic mulai menerima surat-surat kebencian. Untuk mengatasinya, dia melakukan\nhal yang tidak terduga, dia bertemu dengan para pembencinya secara langsung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Inti dari konsep &#8216;Dialogue Coffee&#8217; adalah &#8220;berbicara\nsatu sama lain sehingga kita dapat membangun pengertian antara satu sama lain.\nDi Denmark, ada ruang bagi semua orang dan kebebasan untuk berbicara &#8221;\ntambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Idenya pertama kali pada tahun 2010, ketika dia masih\nanggota parlemen. Sejak itu dia bertemu dengan orang-orang yang menyerangnya dalam\nkomentar media sosial dan pesan pribadi, seringkali dengan bahasa yang sangat\nagresif. Pada tahun 2017, di mana dia mengunjungi seorang pria yang mengirim\nsurat kebencian kepadanya dan mendapat perhatian dunia setelah diliput oleh\nBBC.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Budaya berdialog dan percakapan\nantar-manusia menjadi salah satu aspek penting dari demokrasi. Namun \u00d6zlem mengatakan, \u201cbudaya\nitu kerap sulit untuk dilakukan. saat\nini, banyak orang yang berpegang keras terhadap opini yang dipercayai dan tak\nmemberi ruang untuk mempertimbangkan pandangan yang dianggap berseberangan.\nAkibatnya, tak banyak dialog yang terjadi antara opini-opini yang berbeda\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKita hanya bergaul dengan orang-orang yang memiliki\npemikiran yang sama dan tidak menghargai pemikiran orang lain. Kita tidak\nberusaha untuk berbicara dengan mereka yang memiliki pandangan berbeda. Itu\ndapat merusak demokrasi yang sehat\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u00d6zlem\npercaya, percakapan adalah hal yang paling sulit dalam demokrasi dan juga yang\npaling penting. Percakapan dan dialog semacam itu tidak dilakukan untuk\nmengubah pola pikir seseorang tetapi untuk memahami dan menerima beragam sudut\npandang orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cJika anda ingin mencegah\nkebencian dan kekerasan, kita harus berbicara dengan sebanyak mungkin orang dan\nselama mungkin, sambil bersikap terbuka. Itu hanya bisa dicapai melalui debat,\npercakapan kritis dan berdialog yang tidak menjelek-jelekkan orang, \u201dkatanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam semangat toleransi dan empati,  \u00d6zlem mendesak orang-orang untuk tetap berpikiran terbuka terhadap pandangan yang berlawanan, karena itu bisa menjadi senjata melawan ucapan kebencian dan kekerasan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kuliah tamu yang digelar oleh Hubungan Internasional FISIP UI ini menghadirkan&nbsp; \u00d6zlem Sara Cekic yang merupakan anggota Parlemen Denmark periode 2007-2015. Dilahirkan di Turki dari orang tua Kurdi, \u00d6zlem Sara&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":47160,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[307,312,267,265,473],"class_list":["post-47159","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-berita","tag-307","tag-fisip","tag-fisip-ui","tag-hubungan-internasional","tag-public-lecture"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47159","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47159"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47159\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/47160"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47159"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47159"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47159"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}