{"id":47466,"date":"2019-10-31T10:55:54","date_gmt":"2019-10-31T03:55:54","guid":{"rendered":"http:\/\/fisip.ui.ac.id\/?p=47466"},"modified":"2019-10-31T11:00:15","modified_gmt":"2019-10-31T04:00:15","slug":"peneliti-dan-jurnalis-perempuan-berbagi-pengalaman-tentang-isu-gender","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/peneliti-dan-jurnalis-perempuan-berbagi-pengalaman-tentang-isu-gender\/","title":{"rendered":"Peneliti dan Jurnalis Perempuan Berbagi Pengalaman tentang Isu Gender"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berbicara dan menuangkan pendapat di dunia maya saat ini memang sudah\n terbilang bebas, namun bukan berarti tidak ada tata cara yang bisa \nmengaturnya. Kebebasan dalam bermedia sosial juga dilandasi oleh aturan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kaum perempuan masih mengalami ketakutan dan terancam saat \nmenggunakan hak kebebasan berekspresi mereka di internet. Wartawan \nperempuan, misalnya, tercatat memiliki banyak pengalaman negatif dalam \nekspresi di dunia maya ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal itu yang menjadi salah satu alasan diadakannya workshop tentang <em>Teaching Gender in Journalism and Media Studies<\/em>\n yang digelar sebagai kerja sama antara Departemen Komunikasi FISIP \nUniversitas Indonesia, Department of Journalism and Media \nStudies\/Journalism, Media International Center (JMIC), Oslo Metropolitan\n University, Norwegia, International Association of Women in Radio and \nTelevision (IAWRT), serta Communication Research Center, Institute of \nSocial and Political Research and Development (LPPSP FISIP) Universitas \nIndonesia. Acara digelar di The Margo Hotel, Kota Depok, Jawa Barat, \nSenin (28\/10\/2019).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pelatihan diikuti oleh 28 peserta dari 14 negara, seperti Afganistan,\n Bangladesh, Filipina, India, Inggris, Malaysia, Mesir, Nepal, Norwegia,\n Pakistan, Tunisia, Turki, Uganda, dan Zimbabwe. Peserta terdiri atas \npara peneliti, akademisi, dan jurnalis perempuan yang bertukar \npengalaman lintas geografis dan lintas batas lainnya tentang pengalaman \ngender di media dalam pengalaman jurnalistik praktis, penelitian media, \nserta pengalaman mengajar gender, jurnalisme dan media.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketua Panitia Pelaksana <em>Workshop Teaching Gender in Journalism and Media Studies<\/em>,\n Ummi Salamah menuturkan, adanya pelatihan ini sebagai upaya edukasi \nuntuk memberikan perspektif gender dalam tulisan kepada para jurnalis \nperempuan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Kami ingin bagaimana orang-orang yang belajar jurnalistik memiliki \nperspektif gender, sehingga nantinya di dalam tulisannya sudah terbangun\n perspektif gendernya dan sudah langsung <em>fit in<\/em> dan sensitif gendernya sudah terbangun,&#8221; tutur Ummi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Director JMIC Oslo Metropolitan University, Elisabeth Eide \nmenuturkan, terdapat kebutuhan untuk mencatat pengalaman para jurnalis \nperempuan dalam penggunaan media sosial agar bisa dibentuk kelompok \npendukung yang kuat untuk mencegah mereka dibungkam. Pembentukan \njaringan di antara jurnalis perempuan, menurut Elisabeth, menjadi \npenting untuk memperjuangkan hak-hak mereka dan juga untuk meningkatkan \npemberdayaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Terlalu sedikit kontak di antara lembaga, akademisi, dan jurnalis \nmengenai masalah ini. Sebenarnya, banyak peserta memiliki berbagai hal \nuntuk dibagikan sehingga kita bisa memetik pelajaran dan \nmenyebarkannya,&#8221; kata Elisabeth.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dikatakan, membangun literasi media gender bersama-sama dengan \nlembaga akademik lain serta LSM yang peduli dengan hak-hak gender adalah\n suatu hal yang penting. &#8220;<em>Workshop<\/em> ini akan menjadi pengalaman berbagi dan belajar untuk semua orang,&#8221; ujar Elisabeth Eide.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Teaching Gender in Journalism and Media Studies diselenggarakan \nselama tiga hari mulai Senin (28\/10\/2019) hingga Rabu (30\/10\/2019). \nKegiatan terbagi menjadi dua sub kegiatan, yaitu pelatihan selama dua \nhari di Hotel Margo, Depok. Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan \npresentasi laporan UNESCO bertema <em>Setting the Gender Agenda for Communication Policy and Gender, Media and ICTs<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu fokusnya adalah menyelesaikan permasalahan kesenjangan \ngender yang masih banyak terjadi. Di bawah naungan Global Alliance on \nMedia and Gender (GAMAC) laporan tersebut menunjukkan pentingnya \nperjuangan yang lebih masif untuk kesetaraan gender, hak asasi \nperempuan, serta untuk pencapaian pembangunan yang berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Acara diakhiri dengan peluncuran buku berjudul<em> Transnational Othering &#8211; Global Diversities, Media Extremism and Free Expression<\/em>\n (Anthology, Nordicom), yang merupakan kumpulan tulisan jurnalis dan \nakademisi dari berbagai negara. Buku antologi ini membahas \nmasalah-masalah kompleks dan saling terkait, seperti kebangkitan \nekstremisme dan terorisme, keanekaragaman dan hak-hak minoritas, serta \nsituasi kebebasan berekspresi di delapan negara yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu tulisan dalam antologi itu adalah karya Ade Armando dari Universitas Indonesia. Tulisan berjudul&nbsp;<em>Indonesia, When Civil Society, Government, and Islamist Collide<\/em>\u201d  menggambarkan situasi kebebasan berpendapat menjelang Pemilu 2018. Buku  antologi ini merupakan buah dari pertemuan jurnalis dan akademisi pada  Global Inter Media Dialogue (GIMD) 2017 yang diselenggarakan di FISIP  UI, Depok.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sumber : https:\/\/sp.beritasatu.com\/nasional\/peneliti-dan-jurnalis-perempuan-berbagi-pengalaman-tentang-isu-gender\/582743\/<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berbicara dan menuangkan pendapat di dunia maya saat ini memang sudah terbilang bebas, namun bukan berarti tidak ada tata cara yang bisa mengaturnya. Kebebasan dalam bermedia sosial juga dilandasi oleh&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":47467,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-47466","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-berita"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47466","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47466"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47466\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/47467"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47466"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47466"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47466"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}