{"id":7797,"date":"2014-11-20T05:09:23","date_gmt":"2014-11-20T05:09:23","guid":{"rendered":"http:\/\/fisip.wphost.ui.ac.id\/?p=7587"},"modified":"2014-11-20T05:09:23","modified_gmt":"2014-11-20T05:09:23","slug":"seminar-mdgs-dan-pencapaian-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/seminar-mdgs-dan-pencapaian-indonesia\/","title":{"rendered":"Seminar MDGs dan Pencapaian Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Departemen Hubungan Internasional FISIP UI bekerjasama dengan Sekretariat Nasional MDGs Indonesia Bappenas RI dan UNDP Indonesia, menyelenggarakan Seminar Millenium Development Goals (MDGs) dan Pencapaian Indonesia pada Senin (21\/04). Pembicara yang hadir antara lain Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs, Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek, SpM (K); Harry Seldadyo, Ph.D, selaku UNDP\u2019s Senior Tech Specialist for Poverty and MDGs Cluster, dan; Dr. Arum Atmawikarta selaku Sekretaris Eksekutif MDGs Bappenas.<br \/>\nDalam paparn yang diberikan  oleh Harry Seldadyo, Ph.D terdapat beberapa pandangan mengenai MDGs ini. Ada dua pandangan optimists dan skeptis. Mereka yang berpandangan optimis percaya bahwa MDGs merupakan sebuah janji global yang akan mengantarkan dunia ke arah yang lebih baik. Sebaliknya, kaum skeptis menanggap bahwa MDGs tak lebih sebagai konsep utopis dan skema pengalih perhatian dari negara-negara tertentu. Terlepas dari hal tersebut, kita tetap mengakui keberadaan goals yang disepakati di akhir tahun 2000 ini.<br \/>\nMengapa MDGs diperlukan? Seldadyo mengungkapkan bahwa keberadaan blueprint global ini tak lepas dari kondisi dunia yang semakin memprihatinkan. Adanya gap kesejahteraan antara north countries (negara maju) dengan south countries (negara berkembang), telah menimbulkan disparitas dan kemiskinan yang ekstrem di dunia. Angka kematian yang diakibatkan oleh buruknya keadaan finansial ini pun meningkat, terutama di negara-negara konflik. Dengan demikian, guna mengatasi hal tersebut, MDGs hadir sebagai standar dan blueprint pembangunan global bagi seluruh negara.<br \/>\nTerlepas dari perdebatan kaum optimist dan skeptic, MDGs dinilai mampu mengarahkan kehidupan negara-negara yang kurang berkembang menjadi naik derajat kesejahteraaannya. Seldadyo memberikan grafik peningkatan kesejahteraan negara-negara berkembang dengan rentang waktu 1990 \u2013 2012. Terlihat mayoritas negara berkembang yang mengimplementasikan goals yang ada di dalam MDGs meningkat kesejahteraannya bahkan menjadi negara yang cukup maju.<br \/>\nDr. Arum Atmawikarta, selaku Sekretaris Eksekutif MDGs Bappenas Indonesia memaparkan pencapaian Indonesia setelah mengikuti program MDGs ini. Menurut Atmawikarta, dari 63 Indikator dan 8 Goals yang diberikan, Indonesia mampu menyelesaikan 5 goals dan 48 Indikator utama dalam MDGs. Kelima goals yang berhasil dicapati oleh Indonesia antara lain:<br \/>\n1.Memberantas kemiskinan dan kelaparan. Hal ini dibuktikan oleh Indonesia dengan menurunnya angka kemiskinan di Indonesia dari sekitar 21% di tahun 2000 menjadi hanya sekitar 11% di tahun 2013.<br \/>\n2.Memberikan pendidikan dasar yang merata. Hal ini selaras dengan program pemerintah yang mewajibkan anak Indonesia untuk menempuh pendidikan selama sembilan tahun. Terbukti dengan menyelaraskan program ini, angka partisipasi kasar pelajar tingkat dasar Indonesia meningkat dan angka partisipasi tetap yang dimunculkan tidak jauh berbeda dengan angka partisipasi kasar yang diberikan<br \/>\n3.Menggalakan emansipasi gender dan memberdayakan perempuan. Tepat hari ini, di Hari Kartini, suda sejak lama kita menyelesaikan goals ini dan terbukti di Indonesia, perempuan mendapatkan kesetaraan gender dalam berbagai bidang mulai dari pekerjaan, pendidikan, bahkan kegiatan sehari-hari.<br \/>\n4.Menanggulangi HIV\/AIDS, Malaria, dan penyakit lainnya. Menurut Atmawikarta, Indonesia termasuk negara yang sukses dalam mencapai goals ini. Terbukti salah satunya ialah dengan angka penanganan penyakit TBC yang mencapai 90% di tahun 2013.<br \/>\n5.Menjalin kemitraan global dalam pembangunan. Terbukti dengan penyelenggaraan KTT APEC 2013 dan Pertemuan Tingkat Menteri WTO 2013 di Bali, Indonesia menunjukkan perannya sebagai mitra global dalam usaha mencapai pembangunan internasional yang baik dan merata.<br \/>\nDibalik kesuksesan, pasti ada kegagalan. Akan tetapi, kegagalan bukan berarti titik henti dari sebuah perjuangan. Itulah yang tersirat dalam materi yang disampaikan oleh Atmawikarta. Dalam mencapai 3 goals yang lain, Indonesia mengalami tantangan yang cukup berat. Goals seperti menurunkan angka kematian anak, memastikan kesehatan ibu hamil, dan pelestarian lingkungan menjadi sorotan utama dalam pencapaian MDGs di Indonesia. Tantangan utama yang dihadapi ialah adanya disparitas (kesenjangan) pembangunan antara Pulau Jawa dengan Pulau lainnya di Indonesia. Selain itu, permasalahan gizi buruk dan kesehatan lingkungan juga menjadi penghalang utama. Terakhir, permasalahan ekologi Indonesia yang tak pernah berhenti dari memancing perhatian dunia (sebut saja asap Riau, bencana alam banjir, tanah longsor, dan lain sebagainya).<br \/>\nHal ini yang kemudian disampaikan secara gamblang oleh Prof. Dr. dr. Nila F Moeloek. Menurutnya, saat ini Indonesia sedang terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang cukup pelik. Mengapa timbul kemiskinan di Indonesia. Prof. Moeloek menyatakan pendidikan dan kesehatan menjadi kunci dari permasalahan ini. Ketiganya seakan membentuk siklus berantai yang sukar untuk diputuskan. Kemiskinan, dengan miskin orang akan kesulitan mendapatkan akses kesehatan dan pendidikan yang dimana tanpa pendidikan, orang akan tak acuh dengan masalah kesehatan dan pun demikian tanpa akses kesehatan yang baik orang tidak akan bisa melakukan aktivitas yang produktif dan pendidikan.<br \/>\nMasalah kesehatan di Indonesia terletak pada masalah asupan gizi primer bagi balita dan pola konsumsi masyarakat umum di Indonesia. Sebagai negara maritim, konsumsi daging ikan sangat minim. Padahal, konsumsi daging ikan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas gizi serta kecerdasan individu. Selain masalah asupan gizi, gaya hidup masyarakat yang jauh dari kata higienis juga dinilai menyebabkan timbulnya beberapa penyakit yang dapat mengganggu aktivitas mereka.<br \/>\nDari masalah pendidikan, terdapat permasalahan intelektual dan moral. Banyak orang yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, akan tetapi moralitasnya rendah. Selain itu, jaminan pekerjaan ketika mereka lulus dari institusi pendidikan sangatlah timpang. Kebanyakan mereka yang bekerja ialah mereka yang tidak berpendidikan formal atau hanya memiliki latar belakang pendidikan dasar dan menengah. Hanya sedikit dari mereka yng berpendidikan tinggi turun dan bekerja.<br \/>\nKedua masalah tersebut menurut Prof. Moeloek harus segera diselesaikan. Mengapa? Di tahun 2020 nanti, Indonesia akan mengalami apa yang disebut dengan bonus demografi. Ini merupakan sebuah keadaan dimana angka usia produktif jauh lebih tinggi dibandingkan dengan usia non-produktif. Dengan kondisi seperti ini, maka angka ketergantungan terhadap usia produktif akan berkurang. Sehingga, diharapkan usia produktif dapat turut berpartisipasi dalam pembangunan nasional. Apa yang harus dipersiapkan? Jika mengutip pernyataan Gramsci, Superstructure lah yang harusnya dirubah. Sistem pendidikan, media, dan praktik keagamaan harus menjadi sarana utama dalam membentuk insan-insan madani dan produktif bagi bangsa Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Departemen Hubungan Internasional FISIP UI bekerjasama dengan Sekretariat Nasional MDGs Indonesia Bappenas RI dan UNDP Indonesia, menyelenggarakan Seminar Millenium Development Goals (MDGs) dan Pencapaian Indonesia pada Senin (21\/04). Pembicara yang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":17304,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-7797","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-berita"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7797","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7797"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7797\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17304"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7797"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7797"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fisip.ui.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7797"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}