Program Studi Pascasarjana Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Politi k dan Pusat Riset Kebijakan Publik, serta Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN), menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Multispecies Ethnography: Livelihood, Politik Pangan, dan Antropologi Kontemporer”. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada Jumat (29/5) ini menjadi ruang diskusi akademik mengenai relasi manusia, lingkungan, dan berbagai entitas nonmanusia dalam kehidupan sosial kontemporer.
Seminar ini berangkat dari kesadaran bahwa berbagai tantangan global, seperti krisis ekologis, perubahan sistem pangan, ekspansi pembangunan, dan transformasi teknologi pengetahuan, menunjukkan bahwa kehidupan manusia selalu terhubung dengan makhluk hidup lain, lanskap, materialitas lingkungan, serta sistem pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat. Dalam konteks tersebut, antropologi kontemporer menawarkan pendekatan relasional dan ekologis melalui perspektif multispecies ethnography yang tidak lagi menempatkan manusia sebagai satu-satunya pusat analisis.
Berbagai penelitian yang dipresentasikan dalam seminar ini membahas isu politik pangan, livelihood, konservasi, biodiversitas, tata kelola ekosistem pesisir, hingga transformasi pengalaman budaya dalam ruang digital.
Pada panel Livelihood dan Politik Pangan, Dian Hafit Syaifullah (Antropologi FISIP UI) memaparkan penelitian mengenai praktik ngahuma masyarakat Baduy. Penelitiannya menunjukkan bahwa sistem pangan berbasis padi lokal menjadi bentuk resistensi terhadap modernisasi pertanian melalui Revolusi Hijau. Masyarakat Baduy secara sadar mempertahankan sistem budidaya tradisional dan membatasi penggunaan teknologi modern sebagai upaya menjaga keberlanjutan nilai budaya dan ekologis yang diwariskan secara turun-temurun.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa masyarakat Baduy tidak mengenal stratifikasi ekonomi berbasis kepemilikan lahan privat. Pengelolaan lahan dilakukan secara komunal melalui mekanisme adat yang diatur oleh jaro, sehingga kepemilikan kolektif menjadi fondasi utama kehidupan sosial masyarakat.
Sementara itu, Dini Rahmiati (Antropologi FISIP UI) memaparkan penelitian mengenai Komunitas Adat Cireundeu di Kota Cimahi. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa konsumsi rasi atau nasi singkong yang dipraktikkan sejak 1964 berkembang menjadi simbol kedaulatan pangan lokal sekaligus identitas budaya komunitas. Praktik tersebut memperlihatkan bagaimana pangan tidak hanya dipahami sebagai kebutuhan konsumsi, tetapi juga sebagai bagian dari strategi mempertahankan keberlanjutan hidup dan identitas kolektif masyarakat.
Pada panel Multispecies Ethnography, Dzaky Ahmad Dahlifari (Biologi FMIPA UI) memaparkan hasil penelitian mengenai biodiversitas primata di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimandiri, Sukabumi. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas manusia menjadi faktor dominan yang memengaruhi keberagaman primata di kawasan tersebut. Temuan ini memperlihatkan bahwa Macaca fascicularis atau monyet ekor panjang merupakan spesies yang paling adaptif terhadap perubahan lanskap, sedangkan Presbytis comata atau surili menjadi spesies yang paling rentan terhadap perubahan habitat.
Masih dalam tema yang sama, Febri Sastiviani Putri Cantika (Antropologi FISIP UI) mengangkat pentingnya kerja perawatan (care work) dalam kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dengan satwa liar, seperti harimau dan gajah. Aktivitas membaca tanda-tanda ekologis, menjaga ternak, dan mengatur ritme kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dari strategi hidup bersama satwa liar yang selama ini kerap luput dari perhatian kebijakan konservasi.
Pembahasan mengenai ekosistem pesisir disampaikan oleh Niswatus Shabrina (Bilogi FMIPA UI). Penelitiannya menyoroti pentingnya pendekatan multispecies dalam memahami tata kelola karbon biru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cadangan karbon mangrove tidak hanya dipengaruhi oleh vegetasi utama seperti Rhizophora, Avicennia, dan Sonneratia, tetapi juga dibentuk oleh interaksi antara fauna makrobentik, komunitas mikroba, tata kelola lokal, serta kondisi lingkungan.
Menurut Niswatus, aktivitas bioturbasi kepiting fiddler memiliki pengaruh signifikan terhadap perubahan kondisi fisiko-kimia sedimen dan emisi gas rumah kaca, meskipun perannya masih sering diabaikan dalam model penghitungan karbon konvensional. Selain itu, praktik tata kelola berbasis adat seperti sistem pamali di Kepulauan Mentawai terbukti mampu menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove selama beberapa generasi dan menunjukkan pentingnya integrasi pengetahuan lokal dalam pengelolaan lingkungan.
Sementara itu, Nova Scorviana H (Antropologi FISIP UI) membahas transformasi pengalaman menenun perempuan Baduy Luar dalam ruang digital. Melalui platform berbagi video, pengalaman sensoris yang melibatkan suara alat tenun, tekstur benang kapas, dan penggunaan pewarna alami dapat diakses oleh audiens yang lebih luas. Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi digital tidak hanya berfungsi sebagai sarana dokumentasi budaya, tetapi juga membentuk cara baru dalam memahami dan mengalami kebudayaan material.
Melalui seminar ini, FISIP UI bersama BRIN dan LATIN berupaya memperluas percakapan akademik mengenai hubungan manusia dan nonmanusia dalam konteks sosial-ekologis Indonesia yang terus berubah. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antarlembaga, memperkaya pengembangan teori dan metodologi antropologi kontemporer, serta mendorong lahirnya agenda riset yang lebih responsif terhadap berbagai tantangan sosial-ekologis di Indonesia.





