Korea-Indonesia Connection (KIC) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) bekerja sama dengan Korea Foundation Jakarta menggelar Seminar Akademik bertajuk “Broadening Academic Engagement on Korea through Multidisciplinary Approaches in Indonesia” pada Kamis (17/9) di Auditorium Mochtar Riady, FISIP UI.

Forum ilmiah internasional ini menegaskan urgensi pengalihan paradigma kajian Korea di Indonesia, dari sekadar apresiasi bahasa dan budaya pop menjadi pusat studi multidisiplin yang kritis, berbasis data, serta solutif terhadap dinamika sosial-politik kawasan.

Direktur Program KIC FISIP UI sekaligus Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial UI, Getar Hati, Ph.D., memaparkan bahwa tantangan utama pengembangan studi wilayah saat ini adalah memecah sekat-sekat akademis.

Menurutnya, KIC FISIP UI hadir sebagai knowledge collaboration hub yang menghubungkan berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu sosial, politik, kebijakan publik, hingga humaniora, demi menciptakan kemitraan kelembagaan yang berkelanjutan.

“Tantangan utama di perguruan tinggi bukan pada ketersediaan potensi multidisiplin, melainkan bagaimana menghubungkannya. KIC FISIP UI hadir sebagai platform kolaborasi untuk memfasilitasi riset, mobilitas internasional, dan publikasi bersama, sehingga mahasiswa dan akademisi tidak lagi sekadar menjadi konsumen pengetahuan tentang Korea, melainkan kontributor aktif karya akademik yang berdampak nyata,” tegas Getar Hati.

Selaras dengan hal tersebut, Presiden Asosiasi Kajian Korea Indonesia (INAKOS) sekaligus Dosen Bahasa dan Kebudayaan Korea Universitas Gadjah Mada (UGM), Suray Agung Nugroho, Ph.D., menegaskan bahwa Korea Selatan harus diposisikan bukan sekadar objek kekaguman, melainkan laboratorium penyelesaian masalah lintas kawasan bagi masa depan Indonesia.

Ia menawarkan tiga fokus riset multidisiplin baru: proyeksi krisis demografi dan loneliness economy, etika masyarakat digital dan tata kelola AI, serta politik ekonomi rantai pasok industri kreatif Hallyu.

“Jika studi Korea di Indonesia hanya berhenti pada program bahasa dan fandom budaya pop, kita akan gagal menangkap lompatan peradaban yang sedang terjadi di Asia Timur. Kita perlu menjadikan fenomena Korea sebagai cermin prediktif untuk membaca perubahan gaya hidup perkotaan, etika digital, dan penguatan rantai nilai global komoditas budaya lokal Indonesia 10 hingga 15 tahun ke depan,” jelas Suray.

Dari perspektif media dan hubungan internasional, Dosen Hubungan Internasional Universitas BINUS sekaligus peneliti Korean Peninsula Research Cluster (KPRC), Mochamad Alvin Dwiana Qobulsyah, S.I.P., M.I.S., menguraikan kontribusi media massa dalam dinamika hubungan bilateral Indonesia-Korea Selatan.

Berdasarkan hasil analisis data Reuters Institute Digital News Report 2026, ia menyoroti perbedaan pola konsumsi berita masyarakat kedua negara—di mana masyarakat Indonesia mengandalkan media sosial seperti WhatsApp (56%), sementara Korea Selatan didominasi oleh YouTube (61%) dan televisi.

“Pemberitaan media massa dan saluran komunikasi lokal memegang peranan vital dalam membentuk persepsi publik serta memitigasi risiko reputasi hubungan diplomatik. Kerja sama insan pers dan akademisi dalam memverifikasi informasi serta menyajikan pelaporan timbal balik yang akurat sangat krusial untuk membangun pemahaman antarmasyarakat yang lebih jujur dan mendalam,” papar Alvin.

Seminar ini menghasilkan sejumlah langkah konkret, antara lain pembentukan Konsorsium Riset Interdisipliner Indonesia-Korea, penerbitan edisi khusus Jurnal INAKOS, serta penyusunan White Paper Akademik bagi Korea Foundation dan kementerian terkait. Melalui inisiatif ini, FISIP UI mempertegas komitmennya sebagai kompas baru studi wilayah di Asia Tenggara yang menghubungkan pakar sosiologi, hubungan internasional, data sains, dan kebudayaan demi kemajuan bangsa.