Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) kembali menambah lulusan doktor di bidang Ilmu Kesejahteraan Sosial. Tuti Ermawati resmi meraih gelar Doktor setelah menjalani sidang promosi doktor pada Kamis (08/01) di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI, Depok.

Dalam sidang tersebut, Tuti Ermawati mempresentasikan disertasi berjudul “Model Ekosistem Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil (UMK) melalui Program Pembiayaan Mikro yang Sinergis”. Penelitian ini membahas berbagai program pemberdayaan UMK yang selama ini dijalankan oleh pemerintah pusat dan daerah, baik berupa pelatihan usaha maupun bantuan pembiayaan mikro.

Menurut Tuti, penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa meskipun banyak program telah dijalankan, pelaku UMK masih menghadapi berbagai kendala. Kendala tersebut antara lain rendahnya semangat kewirausahaan, ketatnya persaingan usaha, keterbatasan pemasaran, serta sulitnya akses terhadap modal, pendampingan usaha, keterampilan, dan perizinan.

“Melalui penelitian yang dilakukan di Kota Depok, Tuti Ermawati menganalisis bagaimana berbagai program dan pihak yang terlibat dalam pemberdayaan UMK saling berinteraksi. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model pemberdayaan UMK yang lebih terintegrasi agar dapat me,” jelas Tuti.

Tuti menggunakan metode kualitatif dengan cara wawancara mendalam dan observasi terhadap 82 informan, yang terdiri dari perwakilan kementerian dan lembaga pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pemerintah daerah, komunitas usaha, pendamping UMK, serta pelaku UMK penerima berbagai program pembiayaan dan pelatihan usaha.

Tuti mengemukakan bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian program pemberdayaan UMK sudah berjalan cukup baik dan saling mendukung melalui koordinasi antarinstansi. Namun, masih ditemukan tumpang tindih program, baik antara pemerintah pusat dan daerah maupun antarorganisasi pemerintah di Kota Depok. Selain itu, persaingan antar lembaga penyalur pembiayaan mikro juga dinilai dapat menghambat kerja sama yang seharusnya saling menguatkan.

“Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa bantuan pembiayaan mikro sangat penting bagi keberlangsungan UMK. Namun, keberhasilan UMK tidak hanya ditentukan oleh modal usaha dan keterampilan, tetapi juga oleh jejaring sosial, kepercayaan, dan nilai-nilai spiritual. Sayangnya, program pemberdayaan UMK saat ini masih lebih banyak berfokus pada peningkatan keterampilan, sementara penguatan jejaring dan nilai-nilai tersebut masih terbatas,” jelasnya.

Meski demikian, program pemberdayaan yang ada telah memberikan manfaat nyata bagi sebagian UMK, seperti meningkatnya kemampuan mengelola usaha, motivasi berusaha, keterbukaan dalam pengelolaan keuangan, serta perluasan jaringan dan akses pasar. Dalam jangka panjang, beberapa UMK juga mengalami peningkatan skala usaha dan kesejahteraan keluarga.

Melalui disertasi ini, Tuti Ermawati merekomendasikan perlunya rencana kebijakan yang jelas dan terpadu untuk pemberdayaan UMK, penguatan koordinasi antarinstansi, serta penyelarasan antara program pelatihan usaha dan pembiayaan mikro. Dengan pengelolaan yang lebih terarah, program pemberdayaan UMK diharapkan dapat berkontribusi lebih besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menurunkan angka kemiskinan, khususnya di Kota Depok.