Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) secara resmi mengukuhkan Wayan Weda Dewi Asmara sebagai Doktor dalam bidang Ilmu Komunikasi pada Senin (15/12) di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI, Depok.

Mengngkat judul disertasi “Interplay Struktur dan Agensi Pada Komunikasi Lingkungan Dalam Konteks Gentrifikasi Turisme”, dengan menyoroti relasi antara struktur adat dan agensi aktor lokal di tengah dinamika gentrifikasi pariwisata. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh krisis lingkungan yang tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga mencakup aspek sosial dan kultural yang kompleks.

Sejak Konferensi Stockholm tahun 1972, kesadaran global akan keterkaitan antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan semakin menguat. Dalam konteks tersebut, komunikasi lingkungan dipandang sebagai elemen penting yang menghubungkan negara, masyarakat, dan struktur sosial untuk membangun kesadaran bersama, sekaligus mendorong partisipasi aktif berbagai pihak dalam isu lingkungan hidup.

Wayan mengatakan, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana praktik komunikasi lingkungan dalam pengelolaan sampah direproduksi dan dinegosiasikan melalui interaksi antara struktur adat dan aktor lokal. Isu ini menjadi semakin relevan mengingat Indonesia pernah menempati peringkat kedua sebagai negara penghasil sampah terbesar di dunia, serta masih rendahnya kepedulian masyarakat terhadap permasalahan sampah, khususnya sampah plastik sekali pakai.

“Menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus instrumental, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara mendalam terhadap 11 informan yang berasal dari kelompok masyarakat, organisasi lingkungan, dan pemerintah,” jelasnya.

Desa Adat Padangtegal, Bali, dipilih sebagai lokasi penelitian Wayan karena telah mengembangkan sistem pengelolaan sampah secara swadaya jauh sebelum adanya regulasi formal pemerintah provinsi Bali. Desa ini juga dikenal sebagai pengelola daya tarik wisata Monkey Forest.

Wayan menjelaskan hasil penelitian menunjukkan bahwa inisiatif pengelolaan sampah di Desa Adat Padangtegal lahir dari kebutuhan internal komunitas dan kesadaran ekologis lokal, bukan semata-mata sebagai respons terhadap kebijakan pemerintah. “Praktik tersebut sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang menekankan terciptanya lingkungan yang bersih, harmonis, dan berkelanjutan,” jelas Wayan.

Wayan menegaskan bahwa komunikasi lingkungan yang efektif terwujud melalui interplay yang kuat antara agensi lokal dan struktur adat. Pengelolaan sampah tumbuh secara bottom up dan dilembagakan melalui aturan adat (pararem), jauh sebelum regulasi top down diterapkan.

Dalam praktiknya, komunikasi lingkungan berfungsi tidak hanya sebagai transmisi informasi, tetapi juga sebagai proses konstitutif dan pragmatis yang membentuk makna bersama serta mendorong perubahan perilaku kolektif.

Menurut Wayan, nilai-nilai lokal seperti Tri Hita Karana dan gotong royong menjadi landasan penting dalam tindakan kolektif masyarakat Desa Adat Padangtegal. Pararem dipahami sebagai hasil negosiasi dinamis antara struktur dan agensi, yang mencerminkan refleksi bersama komunitas dalam menghadapi perubahan sosio-spasial akibat gentrifikasi pariwisata.

Sebagai penutup Wayan menjelaskan bahwa secara teoretis, penelitian ini memperkaya Teori Strukturasi dengan menegaskan peran tindakan kolektif sebagai kekuatan sosial yang direproduksi melalui komunikasi berbasis nilai lokal. Secara praktis, desa adat diposisikan sebagai agen strategis dalam merancang dan mempertahankan kebijakan pengelolaan sampah yang mandiri dan berkelanjutan.

Sebagai ketua sidang promosi doktor Wayan Weda, Prof. Dr. Drs, Ricardi S. Adnan, M.Si sebagai promotor Prof. Dr. Billy K. Sarwono, M.A dan kopromotor Dr. Camelia Catharina L.S., M.Si. Serta para dewan penguji yaitu, Prof. Dr. Ana Nadhya Abrar, M.E.S., Prof. Francisia SSE Seda, M.A., Ph.D., Prof. Dr. Donna Asteria, M.Hum., Dr. Irwansyah, M.A., dan Whisnu Triwibowo, M.A., Ph.D.