Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) meluncurkan buku berjudul “Juwono Sudarsono: Guru, Cendekia & Negarawan” di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI, Depok, Rabu (6/5). Peluncuran ini digelar untuk mengenang 40 hari wafatnya Juwono Sudarsono, yang pernah menjabat sebagai Dekan FISIP UI periode 1988–1994 serta Menteri Pertahanan RI periode 1999–2000.
Acara tersebut dihadiri oleh Prof. Heri Hermansyah (Rektor UI), Prof. Evi Fitriani (Dekan FISIP UI), Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara (Menteri Transmigrasi RI), keluarga almarhum Prof. Juwono, serta jajaran pimpinan, dosen, dan mahasiswa FISIP UI.
Dalam sambutannya, Prof. Evi menyampaikan bahwa Prof. Juwono merupakan sosok penting bagi FISIP UI sekaligus tokoh nasional yang berkontribusi besar dalam pengembangan ilmu hubungan internasional di Indonesia.
“Beliau adalah perpaduan antara pemikir akademis yang mumpuni, negarawan, serta pribadi yang rendah hati, ramah, dan peduli pada sesama. Tidak heran banyak yang mengenang beliau dengan kesan mendalam,” ujarnya.
Ia menjelaskan, buku tersebut merupakan kumpulan 46 tulisan berupa obituari dari kolega, mantan mahasiswa, staf, keluarga, hingga berbagai pihak yang pernah berinteraksi dengan almarhum. Proses penyusunan buku dilakukan dalam waktu sekitar satu bulan.
Menurut Evi, buku ini tidak hanya merekam kenangan personal, tetapi juga merefleksikan berbagai isu penting seperti pembangunan ekonomi politik, hubungan sipil-militer, demokratisasi, keadilan sosial, hingga hubungan internasional.
“Buku ini bukan sekadar dokumentasi historis, tetapi juga menjadi jendela untuk memahami dinamika pemikiran Prof. Juwono,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Transmigrasi, Iftitah turut membagikan kenangannya. Ia mengaku pertama kali mengenal Juwono Sudarsono saat masih menjadi taruna Akademi Militer dalam sebuah dialog nasional mahasiswa.
Menurutnya, almarhum kerap menekankan pentingnya persatuan, gotong royong, dan keadilan sosial sebagai fondasi utama pembangunan bangsa. “Beliau meyakini bahwa persatuan tidak cukup dijaga melalui pendekatan keamanan semata, tetapi harus diwujudkan melalui keadilan sosial yang nyata,” ujarnya.
Ia juga mengenang Juwono sebagai mentor yang tetap meluangkan waktu berdiskusi di tengah kesibukannya, bahkan melalui pesan singkat dan surat elektronik.“Keteladanan beliau menunjukkan bahwa peran pendidik tidak berhenti di ruang kelas, tetapi juga membentuk cara berpikir dan karakter,” katanya.
Iftitah mengajak generasi muda untuk melanjutkan warisan pemikiran tersebut dengan berkontribusi aktif dalam pembangunan bangsa.
Sementara itu, Vishnu Juwono, putra almarhum, menyampaikan apresiasi atas peluncuran buku tersebut. Ia menuturkan bahwa ayahnya memiliki kedekatan yang kuat dengan FISIP UI dan mengabdikan hidupnya dengan integritas, kerja keras, serta keikhlasan. Ia berharap nilai-nilai yang diwariskan dapat terus dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi muda.
Rektor UI Heri Hermansyah juga mengapresiasi inisiatif FISIP UI dalam menyelenggarakan kegiatan ini. Menurutnya, nama Juwono Sudarsono telah melekat erat dengan Universitas Indonesia, khususnya FISIP UI.
Ia menambahkan bahwa keluarga Juwono telah lama berkontribusi melalui program beasiswa bagi mahasiswa, salah satunya melalui Juwono Center. “Semoga buku ini menjadi memori abadi sekaligus sumber inspirasi bagi mahasiswa dan pembaca,” ujarnya.
Melalui peluncuran buku ini, FISIP UI berharap pemikiran dan keteladanan Juwono Sudarsono dapat terus hidup dan memberi kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta pembangunan bangsa.








