FISIP UI Mengadakan Kuliah Umum Anthropology of Heritage Membahas Markus Mailopu dan Ekspedisi Maluku Freiburg ke-2 Pada Tahun 1910-1912

Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia (FISIP UI) menyelenggarakan Workshop Anthropology of Heritage yang terbagi dalam dua agenda utama, yaitu kuliah umum terbuka dan sesi workshop khusus bagi peserta terpilih, pada Jumat (12/09) di Audit Anak Nusantara, FISIP UI, Depok.

Dalam sambutannya, Dekan FISIP UI, Prof. Semiarto Aji Purwanto mengatakan bahwa Indonesia adalah contoh nyata betapa pentingnya budaya dalam membangun identitas bangsa. Identitas Indonesia dibentuk dari kekayaan tradisi yang tersebar luas di berbagai daerah, yang kemudian dirajut menjadi satu kesatuan. Maluku menjadi salah satu contoh menarik dalam perjalanan ini. Menurutnya daerah ini bukan hanya kaya akan budaya, tetapi juga punya posisi penting dalam sejarah global.

Lebih lanjut ia menjelaskan, lebih dari itu, tradisi di Maluku memiliki kesamaan dengan tradisi masyarakat Austronesia dan berbagai praktik budaya lainnya menunjukkan betapa eratnya hubungan antar wilayah yang terbentang jauh di lautan. Ia menambahkan bahwa hal ini memperlihatkan identitas kita tidak terbentuk dalam ruang kosong, melainkan melalui pertemuan, pertukaran, dan keterhubungan dengan dunia yang lebih luas.

Prof. Aji menambahkan, tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan juga panduan untuk menapaki masa depan. Budaya adalah ingatan kolektif yang mengajarkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang hari ini, tetapi juga tentang perjalanan panjang yang membentuk siapa kita, dan ke mana kita akan melangkah.

Kuliah umum dengan tema “Mobilizing the Archive: The II. Freiburg Moluccan Expedition as Entangled Heritage?” disampaikan oleh Prof. Magnus Treiber, Ph.D. bersama Luisa Marten, M.A., dengan Dr.phil. Geger Riyanto sebagai moderator. Setelah itu, sesi workshop khusus bagi peserta terpilih menghadirkan empat pemaparan dengan moderator M. Arief Wicaksono, M.Si. dan Dr.phil. Geger Riyanto.

Sumber Foto: https://www.mailopu.ethnologie.uni-muenchen.de/omeka/

Kuliah umum ini membahas Markus Mailopu dan Ekspedisi Maluku Freiburg ke-2 tahun 1910-1912. Markus Mailopu lahir dan dibesarkan di Samasuru, pulau Seram, Maluku, Indonesia. Menurut penjelasan Magnus, sekitar tahun 1911, dia ikut dalam Ekspedisi Maluku Freiburg ke-2 sebagai asisten lapangan dan penerjemah, membantu dalam berbagai kegiatan ilmiah di pulau Seram dan Buru, serta kemudian ikut dalam perjalanan kembali ke Jerman.

Luisa menjelaskan proyek arsip “Mailopu Archive” ini merupakan usaha akademis  LMU Munich dan lembaga terkait untuk mengumpulkan, merakit kembali, mengaktifkan kembali, dan mendistribusikan lagi dokumentasi yang tersebar dari ekspedisi tersebut, dengan fokus khusus pada peran Markus Mailopu sebagai “interlocutor antropologi” yaitu, seseorang di lapangan yang berinteraksi, menerjemahkan, memberi pengetahuan lokal, dan ikut dalam proses penelitian ilmiah.

Menurut Magnus tujuan dari ekspedisi ini ialah untuk mempelajari aspek-aspek alam dan budaya di Maluku bagian selatan, termasuk biologi (ornitologi), botani, geografi, etnografi, dan linguistik. Area penelitian, pulau Seram dan pulau Buru, serta wilayah sekitarnya. Kegiatan yang dilakukan termasuk pengumpulan spesimen alam, catatan lapangan, pembuatan peta, pengumpulan artefak, dokumentasi budaya dan bahasa lokal.

“Pada saat itu penelitian terhadap flora dan fauna sangat penting karena menambah ilmu pengetahuan dan karir di bidang akademik khususnya di Eropa,” ujar Magnus.

Lebih lanjut Luisa menjelaskan bahwa arsip ini berbentuk digital, memuat dokumen, foto, artefak, peta, manuskrip, catatan harian, dan lain‑lain yang tersebar di  GRASSI Museum für Völkerkunde zu Leipzig, the Leiden University Libraries, the Museum für Naturkunde Berlin, the Rautenstrauch-Joest-Museum Köln, dan the Universitätsarchiv der LMU München.

“Selain itu tujuan dari project ini tidak hanya dokumentatif, tapi juga kritis: memperlihatkan kontribusi orang lokal seperti Mailopu, menyoroti aspek hubungan kekuasaan dalam ilmu pengetahuan kolonial, dan memungkinkan komunitas asal serta peneliti masa kini untuk mengakses kembali dan menggunakan warisan tersebut,” jelas Luisa.

Dalam kuliah umum ini, Magnus dan Luisa membahas Ekspedisi Maluku Freiburg ke-2 dan juga buku harian yang ditulis oleh Markus Mailopu selama mengikuti ekspedisi tersebut, kuliah umum ini di tutup dengan diskusi yang sangat interaktif dengan para mahasiswa yang hadir.

Sumber Foto: https://www.mailopu.ethnologie.uni-muenchen.de/omeka/

Related Posts

Hubungi Kami

Kampus UI Depok
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia
Jl. Prof. Dr. Selo Soemardjan, Depok, Jawa Barat 16424 Indonesia
E-mail: fisip@ui.ac.id
Tel.: (+62-21) 7270 006
Fax.: (+62-21) 7872 820
Kampus UI Salemba
Gedung IASTH Lt. 6, Universitas Indonesia
Jl. Salemba Raya 4, Jakarta 10430 Indonesia

E-mail: fisip@ui.ac.id
Tel.: (+62-21) 315 6941, 390 4722

Waktu Layanan

Administrasi dan Fasilitas
Hari : Senin- Jumat
Waktu : 08:30 - 16:00 WIB (UTC+7)
Istirahat : 12.00 - 13.00 WIB (UTC+7)

Catatan:
*) Layanan tutup pada hari libur nasional, cuti bersama, atau bila terdapat kegiatan internal.