Perubahan sosial, transformasi pedesaan, perkembangan teknologi, hingga berbagai krisis global menuntut pendekatan yang mampu memahami kompleksitas kehidupan masyarakat secara lebih mendalam. Antropologi dinilai memiliki posisi strategis untuk membaca perubahan tersebut sekaligus berkontribusi dalam menghadirkan perspektif yang lebih kontekstual, manusiawi, dan berkeadilan.
Hal tersebut menjadi salah satu sorotan dalam rangkaian The 9th International Symposium of Journal Antropologi Indonesia (ISJAI 9) yang berlangsung pada 4–7 Agustus 2026 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI). Mengusung tema “Pluriversal Futures in a Multipolarising World: Global South Perspectives”, ISJAI 9 menghadirkan akademisi dan peneliti dari berbagai negara untuk membahas dinamika masyarakat dan masa depan Global South.
Pada hari kedua, ISJAI 9 menghadirkan dua keynote speaker internasional, yaitu Prof. Li Xiaoyun, Ph.D. dari China Agricultural University dan Gideon Lasco, Ph.D. dari University of the Philippines Diliman. Kedua sesi dipandu oleh Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, Guru Besar Departemen Antropologi FISIP UI.
Prof. Li Xiaoyun mengawali sesi dengan mengajak peserta melihat pembangunan pedesaan melalui perspektif yang lebih dinamis. Berdasarkan pengalaman penelitiannya di berbagai negara, termasuk Tiongkok, Indonesia, India, dan Jerman, ia menunjukkan bahwa desa tidak lagi dapat dipandang semata-mata sebagai ruang yang identik dengan keterbelakangan.
Menurut Prof. Li, kawasan pedesaan tengah mengalami transformasi yang melahirkan bentuk-bentuk baru kehidupan ekonomi dan sosial. Pariwisata desa, homestay berbasis masyarakat, serta integrasi pertanian, teknologi, dan kewirausahaan lokal menjadi contoh bagaimana masyarakat pedesaan beradaptasi terhadap perubahan.
Ia menekankan bahwa modernisasi tidak harus menghilangkan karakter pedesaan. Pembangunan perlu berjalan beriringan antara kawasan urban dan rural agar desa tetap menjadi ruang hidup yang produktif dan berkelanjutan.
Perspektif tersebut sekaligus membuka ruang bagi antropologi untuk mengkaji relasi antara negara, masyarakat, teknologi, dan pembangunan di negara-negara Global South.
Sementara itu, Gideon Lasco, Ph.D. mengajak peserta merefleksikan kembali peran antropolog di tengah berbagai krisis global. Berangkat dari pengalamannya sebagai dokter yang kemudian mendalami antropologi medis, Lasco menempatkan rasa ingin tahu (wonder) sebagai fondasi penting dalam memahami persoalan sosial.
Pengalaman penelitiannya mengenai penggunaan narkotika, kesehatan publik, media digital, dan praktik kesehatan kontemporer di Filipina menunjukkan pentingnya melihat isu sosial melalui pengalaman manusia. Menurut Lasco, rasa ingin tahu perlu berjalan bersama komitmen terhadap keadilan (justice) dan kepedulian (care).
Ia menyoroti kontribusi antropologi dalam memahami persoalan seperti perang terhadap narkoba, pandemi, ketimpangan kesehatan, perubahan iklim, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) dalam layanan kesehatan.
Sesi keynote ditutup dengan diskusi interaktif. Peserta antusias membahas pemanfaatan AI dalam layanan kesehatan serta perjalanan akademik dan profesional sebagai antropolog.
Melalui kedua keynote tersebut, ISJAI 9 menegaskan bahwa antropologi memiliki peran penting dalam memahami perubahan dunia sekaligus memperkuat kontribusi ilmu sosial dalam merespons tantangan global secara kritis, kontekstual, dan berkeadilan.




