Select Page

Andi Widjajanto, alumnus FISIP UI dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Pelantikan dilaksanakan di Istana Negara, Jakarta, Senin (21/2). Presiden Joko Widodo mengambil sumpah jabatan Andi Widjajanto di hadapan sejumlah pejabat negara.

Andi Widjajanto selama ini dikenal sebagai akademisi yang punya perhatian khusus soal militer dan hubungan internasional. Dia pernah mengajar sebagai dosen di Departemen Hubungan Internasional FISIP UI sebelum kemudian keluar dan memilih menjadi politisi. Andi adalah lulusan Prodi Sarjana Hubungan Internasional FISIP UI tahun 1996.

Dekan FISIP UI, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto memberikan pandangannya terhadap Andi, bahwa pengalaman belajar, mengajar dan melakukan penelitian akademik menjadikan Andi sebagai politisi yang berbeda. Analisis yang konseptual berdasarkan data yang mencukupi selalu menjadi batas pernyataan dan sikapnya. Hal ini terlihat terutama ketika Andi memberikan pernyataan terkait dengan isu pertahanan yang menjadi spesialisasinya.

Lebih lanjut Dekan FISIP UI  mengatakan, “lama menjadi bagian dari kampus UI, sebuah lembaga pendidikan tinggi terbaik di Indonesia, Andi tentu amat berpengalaman dengan kegiatan akademik. Oleh karena itu, dalam posisi sebagai Gubernur Lemhannas, saya amat berharap Andi memberikan warna baru dalam transformasi Lemhannas sebagai lembaga pencetak penyelenggara negara yang handal.”

“Lemhannas harus mampu membekali para siswanya yang merupakan calon pimpinan yang berasal dari dunia militer, polisi, birokrat, politisi dan unsur masyarakat lain dengan konsep, teori dan kecukupan data dalam bekerja sebagai penyelenggara negara. Para alumni diharapkan mampu mengambil keputusan secara rasional, dengan data yang cukup, analisis yang tepat, tapi tetap mempertahankan aspek humanisme dan nasionalisme,” ujar Prof. Semiarto.

Dalam wawancara dengan reporter Humas FISIP UI Andi Widjajanto menyampaikan bahwa “Di Lemhannas ada tiga fungsi, yang pertama adalah mencetak kepemimpinan nasional yang tentunya dibekali dengan landasan ideologi Pancasila yang kuat sehingga bisa memunculkan ketahanan ideologi yang tangguh di lembaga yang dipimpinnya; Kedua adalah kajian–kajian strategis yang disampaikan ke  Presiden tentang bagaimana bisa segera dilakukan kebijakan-kebijakan operasional sehingga kita memiliki ketahanan yang kuat untuk ideologi-ideologi yang ekstrem; Ketiga adalah di Lemhannas ada fungsi pemantapan nilai kebangsaan yang skala pendidikannya lebih besar itu berlangsung di daerah sampai ke tingkat desa dengan menggandeng aparat pemerintah daerah. Dalam memorandum serah terima jabatan tahun 2016-2022 itu sudah hampir 6000-an program-program pemantapan nilai untuk memperkuat ketahanan ideologi itu dilakukan oleh Lemhannas.”

Lebih lanjut Andi menjelaskan, “untuk penanganan Papua pada dasarnya sama pendidikan kepemimpinan di Lemhannas yang nantinya akan bersentuhan dengan calon-calon pejabat yang nanti akan berdinas di Papua baik dari TNI, Polri dan Pemerintah daerah. Diharapakan disana nantinya lebih mampu untuk merumuskan strategi-strategi yang lebih relevan untuk menjaga stabilitas dan perdamaian di Papua.”

“Ada satu arahan Presiden yang harus segera dilakukan adalah transformasi dari Lemhannas sehingga akan lebih siap baik dari sisi metodologi kajian maupun dari sisi pedagogi pendidikan untuk mengadopsi perkembangan-perkembangan teknologi terkini sehingga tantangan geopolitik dan geostrategi baru termasuk perang siber dan perang hibrida bisa segera diantisipasi oleh Lemhannas itu salah satu tugas yang tadi diberikan oleh Presiden ke saya,” ujar Andi.