Pilih Laman

Himpunan Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia (HMIKS UI) menggelar pemutaran tiga film dengan tema “Women in Development”. Acara yang diadakan di Auditorium Juwono Sudarsono pada Kamis 17 Maret 2016 ini merupakan satu dari rangkaian dari acara Social WellFair 2016.

Film pertama yang diputar adalah film dari Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan berjudul “Atas Nama”. Film ini mengisahkan tentang bagaimana beberapa daerah justru mengekang ruang gerak perempuan melalui produk hukum. Film ini mengangkat realitas berdasarkan laporan Komnas Perempuan tentang adanya 154 kebijakan daerah yang diskriminatif, baik terhadap perempuan dan juga kelompok minoritas.

Pemutaran film kemudian dilanjutkan dengan film “Manufacturing Consent”, sebuah film tentang perusakan alam di Muara Tae. Acara hari itu ditutup oleh film Aleta Baun, sebuah film perjuangan seorang perempuan dalam mengusir perusahaan tambang di Mollo. Aleta Baun adalah ibu dari dua anak yang memimpin gerakan masyarakat adat Mollo melawan arogansi perusahaan tambang dan tentara yeng merusak ekologi kawasan Gunung Mutis.

Artikel Lainnya:  Pancasila Pilihan Terbaik dan Final bagi Muhammadiyah dan NU

Pemutaran film adalah satu dari beberapa kegiatan yang menjadi rangkaian dalam acara Social WellFair 2016. Pemutaran film diadakan di hari ketiga, setelah kegiatan seminar nasional dan lokakarya.

Magdalena, Ketua Pelaksana Social WellFair 2016, mengatakan bahwa ia memilih tema “Women in Development” karena merasa potensi besar kelompok perempuan untuk optimalisasi pembangunan. “Di negara kita notabene kebanyakan masih dijadikan objek dan korban diskriminasi dari berbagai aspek kehidupan,” katanya.

Melalui pemutaraan film, Social WellFair 2016 berusaha untuk memberikan gambaran audiovisual soal tema ‘Hambatan yang dialami Perempuan dalam Pembangunan’, demikian kata mahasiswa angkatan 2014 ini. Pemilihan ketiga film itu pun dengan alasan bahwa film-film tersebut punya gambaran luas soal isu Kesejahteraan Perempuan. “Luas yang dimaksud, di dalam ketiga film itu menggambarkan masalah Perempuan di Indonesia yang kompleks dan melibatkan banyak sektor kehidupan,” kata Magdalena.

Artikel Lainnya:  FISIP UI Terima Kunjungan SMA N 3 Denpasar Bali

Magdalena mengatakan bahwa secara umum, output dari Social WellFair 2016 ini adalah meningkatnya kesadaran dan kepedulian masyarakat tentang isu ini. Sedangkan secara khusus, acara ini nantinya akan menghasilkan bunga rampai program desain yang dibuat oleh delegasi yg ikut serta dalam Kompetisi SAFARI Social WellFair 2016.