Pilih Laman

Demi menaikan rating program yang berujung pada pemaksimalan perolehan kue iklan guna peningkatan profit industri media, maka komodifikasi dalam berbagai bentuk pun dilakukan, salah satunya adalah komodifikasi pekerja anak. Pertumbuhan  industri pertelevisian di Indonesia yang pesat dan meningkatnya iklim kompetisi yang sangat ketat secara jelas telah mendorong eksploitasi pada pekerja media, dalam hal ini anak. Bentuk eksploitasi tersebut semakin ramai diperbincangkan sejak tumbuhnya gelaja sinetron stripping (atau sering disebut sinetron kejar tayang) yang disiarkan setiap hari.

Lintang Ratri Rahmiaji dalam sidang promosi doktornya pada Rabu (11/5/2016) memaparkan bahwa komodifikasi pekerja anak terus berlangsung karena adanya proses naturalisasi pekerja anak. Disertasi Lintang yang berjudul “Komodifikasi Pekerja Anak di Industri Sinetron Indonesia (Naturalisasi Eksploitasi Pekerja Anak di Sinetron Raden Kian Santang)” dimaksudkan untuk menjelaskan bentuk eksploitasi yang dialami artis anak dalam industri sinetron, bagaimana proses eksploitasi anak itu bisa berlangsung secara berkelanjutan dan bagaimana proses naturalisasinya sehingga eksploitasi itu nampak sebagai sebuah hal yang alamiah dan wajar. Proses naturalisasi ini diharapkan mampu menjelaskan mengapa pihak terkait (artis anak, orang tua, pekerja media, pelaku usaha, masyarakat, negara) menerima eksploitasi anak dalam industri media dan bagaimana mereka memaknainya sehingga pada akhirnya dapat ditemukan rasionalitas mengapa komodifikasi, eksploitasi pekerja anak di media massa, khususnya televisi, tidak disadari.

Artikel Lainnya:  Meninjau Pengembangan Profesi Pekerjaan Sosial melalui Lokakarya

Penelitian Lintang melihat bahwa eksploitasi pekerja anak ini tidak bisa dilihat sebagai hal alamiah, melainkan merupakan hasil dari relasi kuasa yang melibatkan banyak pihak terkait dan berkepentingan dengan industri pertelevisian. Keterjalinan berbagai pihak ini (stasiun televisi, rumah produksi, pengiklan, biro iklan, lembaga negara, sekolah, orang tua, dan artis anak) menjadikan eksploitasi terus berlangsung melalui proses naturalisasi.

Disertasi ini menemukan bahwa analisis ekonomi politik dengan pendekatan kritis dapat digunakan untuk melihat bagaimana relasi kuasa, secara bersama-sama dan mutualis membentuk sistem produksi, distribusi, dan konsumsi sumber daya komunikasi. Sumber daya dalam hal ini adalah pekerja anak. Ekonomi politik dapat menjelaskan bagaimana relasi kuasa mempengaruhi proses produksi yang mengeksploitasi pekerja anak. Kajian mengenai komodifikasi pekerja terbukti signifikan untuk konteks negara yang masih berkembang, seperti Indonesia. Hal ini terkait dengan tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, tingkat kesadaran hukum, dan implementasi kebijakan publik yang berpengaruh pada tingkatan eksploitasi dan keberhasilan yang dilakukan industri atau pemilik modal.

Artikel Lainnya:  Mahasiswa FISIP UI Raih Juara II dalam Festival Integritas Kampus

Hasil penelitian menunjukkan bahwa komodifikasi pekerja anak memang mengalami mistifikasi berganda, yakni reifikasi dan naturalisasi. Naturalisasi sebagai bagian dari mistifikasi adalah upaya industri yang berjalan lebih sistemik dan terencana. Naturalisasi tidak bisa dilakukan hanya oleh industri, namun juga didukung oleh pihak-pihak yang terkait dengan proses produksi. Naturalisasi bertanggung jawab untuk menghilangkan proses produksi, dominasi, dan eksploitasi yang dilakukan industri media. Dalam hal ini media massa berperan penting menyebarkan naturalisasi eksploitasi.

Dalam sidang promosi doktor Lintang yang berlangsung di Auditorium Komunikasi, Kampus FISIP Depok ini, dihadiri Prof. Dr. Bambang Shergi Laksmono, M.Sc. sebagai ketua sidang. Sedangkan promotor dalam sidang promosi doktor Lintang adalah Dr. Ade Armando, M.S, dan Dr. Sunarto, M.Sc., selaku ko-promotor. Sementara itu, anggota penguji terdiri dari Prof. Alois Agus Nugroho, Ph.D., Prof. M. Alwi Dahlan, Ph.D., Prof. Dr. Ilya R. Sunarwinadi, M.Si., Dr. Pinckey Triputra, M.Sc., dan Prof. Zulhasril Nasir, Ph.D.

Artikel Lainnya:  Kriminolog Bicara: New Normal